Usia yang tak lagi muda membuat imunitas tubuh semakin melemah, sehingga rentan terhadap berbagai penyakit salah satunya cacar api.1
Konten Disponsori oleh 
Usia yang tak lagi muda membuat imunitas tubuh semakin melemah, sehingga rentan terhadap berbagai penyakit salah satunya cacar api.1

Kondisi ini kerap menyerang lansia usia 50 tahun ke atas yang ditandai dengan munculnya ruam dan rasa nyeri.1
Penting bagi Anda untuk memahami penyebab, gejala, serta langkah pencegahan agar orang tua dapat terhindar dari cacar api.
Cacar api atau dikenal sebagai herpes zoster disebabkan oleh reaktivasi virus varicella-zoster, yakni virus yang sama sebagai penyebab cacar air.2
Meskipun siapa saja yang pernah terkena cacar air dapat terkena cacar api, risikonya meningkat seiring bertambahnya usia. Kebanyakan yang terkena cacar api adalah orang tua yang berusia 50 tahun ke atas.3
Sementara itu, ada beberapa penyebab orang tua lebih rentan terkena cacar api yang perlu Anda ketahui, di antaranya.
Semakin bertambahnya usia, maka sistem kekebalan tubuh juga akan mengalami penurunan fungsi secara alami.1
Penurunan tersebut dapat memengaruhi kemampuan tubuh untuk merespons infeksi dengan baik, sehingga virus varicella-zoster yang menyebabkan cacar air bisa aktif kembali sebagai cacar api.1,4
Orang tua dengan diabetes mellitus, gagal ginjal, dan penyakit ganas lain, seperti limfoma, penyakit human immunodeficiency virus (HIV), kanker, penyakit autoimun, systemic lupus erythematosus (SLE), serta rheumatoid arthritis yang memiliki risiko 1,8-8,4 kali lebih tinggi terkena cacar api dibandingkan dengan pasien penyakit lain.5
Biasanya, saat khawatir, stres, atau merasa lelah, sistem kekebalan tubuh Anda akan menurun dan menjadi lebih lemah.6
Sementara itu, sistem kekebalan tubuh yang berada di bawah tekanan berlebihan akan rentan terhadap infeksi, sehingga virus varicella-zoster memiliki kesempatan untuk muncul kembali.6
Cacar api sering kali dimulai dengan rasa nyeri tertusuk atau sensasi terbakar yang terpusat pada satu sisi tubuh: di bagian kanan atau kiri tubuh.7
Rasa sakit ini berlangsung lama, bahkan berlanjut setelah ruam sembuh.1 Berikut ini adalah beberapa gejala cacar api yang sering kali muncul8
Parahnya, pada beberapa kasus komplikasi cacar api (herpes zoster) bisa muncul bahkan berakhir dengan kondisi yang lebih serius, seperti.8
Gaya hidup yang sehat memainkan peran penting dalam mencegah terjadinya cacar api.9 Adapun beberapa langkah yang bisa Anda lakukan adalah sebagai berikut.
Mengonsumsi makanan yang kaya akan nutrisi, seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan protein tanpa lemak, dapat membantu menjaga daya tahan tubuh.¹⁰
Melakukan aktivitas fisik dengan teratur membantu meningkatkan kesehatan tubuh secara keseluruhan dan memperkuat sistem imun.¹⁰
Orang dewasa disarankan untuk melakukan olahraga, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang setidaknya 150 menit per minggu.11
Usahakan untuk tidur setidaknya selama 7 sampai 9 jam setiap malam untuk menjaga gaya hidup yang sehat, sehingga dapat mengurangi stres dan juga risiko terkena cacar api.12
Seperti yang kita ketahui, kalau stres dapat menurunkan kekebalan tubuh. Pastikan Anda telah menemukan cara untuk mengatasi stres dengan baik, seperti meditasi, yoga, atau bermain dengan hewan peliharaan.6
Selain gaya hidup sehat, vaksinasi adalah langkah yang tidak boleh dilewatkan dalam mencegah cacar api.1
Vaksinasi direkomendasikan untuk membantu tubuh membangun kekebalan terhadap virus varicella-zoster, sehingga mengurangi risiko infeksi penyakit cacar api dan komplikasinya.4
Meski sebagian besar orang hanya mengalami satu kali cacar api seumur hidup, ada kemungkinan dapat terkena lebih dari satu kali.13
Bahkan, disebutkan dalam situs Dermatology and Therapy, sekitar 1,2–9,6% orang berisiko mengalami cacar api berulang.2

Jangan biarkan momen berharga dalam hidup Anda terenggut karena cacar api. Jika Anda mengalami gejala-gejala di atas segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapat penanganan yang tepat. Untuk informasi lebih lanjut, konsultasikan dengan dokter Anda.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
13. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About shingles (Herpes zoster). Retrieved 19 December 2024, from https://www.cdc.gov/shingles/about/index.html
Versi Terbaru
24/01/2025
Ditulis oleh Adhenda Madarina
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto
Diperbarui oleh: Riska Herliafifah
Ditinjau secara medis oleh
dr. Carla Pramudita Susanto
General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita