Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Tes Swab Uji COVID-19 Bisa Dilakukan Sendiri, Apa Maksudnya?

Tes Swab Uji COVID-19 Bisa Dilakukan Sendiri, Apa Maksudnya?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Bagi beberapa orang, tes swab untuk mendeteksi COVID-19 terasa lebih sakit ketika orang lain yang memasukkan alat pemeriksaan ke tenggorokan mereka. Hal ini membuat sebagian masyarakat, terutama di Amerika Serikat, coba melakukan tes swab COVID-19 secara mandiri. Lantas, apakah pemeriksaan mandiri ini akurat?

Tes swab COVID-19 mandiri dinilai lebih aman

Sumber: Health.mil

Umumnya, pengujian COVID-19 menyebabkan sensasi geli yang tidak menyenangkan bagi kebanyakan orang. Hal ini dikarenakan tenaga kesehatan akan memasukkan alat swab ke dalam lubang hidung yang tentu dapat menimbulkan rasa sakit.

Rasa sakit tersebut membuat sebagian masyarakat di beberapa negara mengambil sampel tes swab COVID-19 secara mandiri. Artinya, masyarakat dapat menyeka bagian hidung mereka sendiri dan menyerahkannya ke petugas kesehatan terdekat.

Metode ini ternyata disebut lebih efektif dan sama akuratnya dengan sampel yang dikumpulkan oleh tenaga kesehatan. Hal tersebut dibuktikan lewat penelitian terbatas yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Association.

Studi yang dilakukan oleh Stanford University School of Medicine ini diikuti oleh 30 peserta yang sebelumnya didiagnosis positif COVID-19. Awalnya, peneliti menghubungi para peserta lewat telepon dan memberi mereka instruksi secara tertulis dan video bagaimana melakukan tes swab mandiri.

test swab mandiri
Sumber: CDC

Kemudian, peserta diminta kembali ke rumah sakit untuk melakukan tes drive-thru alias pemeriksaan di mobil masing-masing. Pada saat melakukan kunjungan, peserta mencoba mengumpulkan spesimen tanpa dibantu oleh petugas kesehatan. Mulai dari usap hidung hingga memasukkan alat ke bagian belakang tenggorokan.

Lalu, tes swab juga kembali dilakukan, tetapi kali ini dibantu oleh petugas kesehatan. Ketiga sampel yang dikumpulkan akhirnya diuji untuk melihat apakah ada virus COVID-19 di tubuhnya.

Hasilnya, dari 29 dari 30 peserta menerima hasil yang sama pada tiga sampel, baik positif atau negatif. 11 peserta didiagnosis positif dan 18 lainnya negatif. Ada satu peserta yang menerima hasil yang berbeda pada ketiga sampel, yaitu satu positif lewat drive-thru dan dua lainnya negatif.

Jika dilihat dari gejalanya, 23 peserta melaporkan bahwa mereka pertama kali mengalami gejala COVID-19 empat hingga 37 hari sebelum melakukan tes drive-thru. 12 peserta diantaranya kembali lagi dan tujuh dari mereka dinyatakan positif.

Maka itu, para peneliti juga tertarik mengetahui berapa lama orang yang didiagnosis positif lewat tes swab mandiri ini ketika pertama kali mengalami gejala COVID-19.

Kelebihan tes swab COVID-19 mandiri

tes swab sakit

Selain lebih efektif dan sama akuratnya dengan pengujian yang dibantu oleh petugas kesehatan, tes swab COVID-19 mandiri memiliki kelebihan lainnya. Alat pengumpulan sampel dapat didistribusikan secara luas, sehingga memungkinkan lebih banyak pengujian dilakukan.

Masyarakat yang melakukan tes swab mandiri tidak perlu datang ke rumah sakit atau lokasi pemeriksaan. Hal ini dapat menurunkan risiko penularan virus ke petugas kesehatan atau orang lain yang berkontak dengan mereka.

Selain itu, tes swab mandiri juga menghemat persediaan alat pelindung diri (APD) yang digunakan tenaga kesehatan. Bahkan, cara ini juga memungkinkan lebih banyak orang mengirimkan sampelnya karena mereka tidak lagi khawatir tertular virus ketika datang ke lokasi.

Maka itu, peneliti mulai mempertimbangkan apakah tes swab mandiri ini bisa dilakukan pada masyarakat luas. Pasalnya, ada kebutuhan yang cukup mendesak dalam meningkatkan kapasitas pengujian virus agar dapat memperlambat penyebaran COVID-19.

Walaupun demikian, temuan awal ini cukup terbatas mengingat peserta dan sampelnya masih dalam ruang lingkup yang kecil. Peneliti masih memerlukan studi lebih lanjut dengan uji klinis yang lebih beragam agar dapat diterapkan di semua tempat.

Beijing Adakan Tes Asam Nukleat Usai Muncul Kasus Baru COVID-19, Ini Fungsinya

Pertimbangan tes swab sendiri

vaksin covid-19 indonesia

Tes swab COVID-19 mandiri memang menawarkan keunggulan. Namun, tidak menutup kemungkinan metode ini justru dapat menimbulkan masalah ketika tidak dilakukan dengan benar.

Oleh karena itu ada beberapa pertimbangan yang perlu dipikirkan ketika menjalani tes swab mandiri, seperti:

  • tes swab mandiri dinilai kurang maksimal dibandingkan swab saluran atas
  • cara penyimpanan saat sampel dikumpulkan bisa memengaruhi hasil
  • harus dilakukan dengan instruksi dari tenaga kesehatan
  • petugas laboratorium harus mengidentifikasi sampel dua kali
  • banyak negara yang belum menyetujui metode self-swab test

Tes swab COVID-19 mandiri mungkin akan menimbulkan kontroversial karena beberapa orang mungkin kesulitan membaca instruksi medis yang diberikan. Tantangan tersebut juga memengaruhi hasil akhir dari pengujian sampel.

Maka dari itu, pemerintah di negara yang sudah memperbolehkan metode ini menganjurkan agar pengumpulan sampel tetap harus diamati oleh staf yang terlatih.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Altamirano, J., Govindarajan, P., Blomkalns, A., Kushner, L., Stevens, B., Pinsky, B., & Maldonado, Y. (2020). Assessment of Sensitivity and Specificity of Patient-Collected Lower Nasal Specimens for Sudden Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 Testing. JAMA Network Open, 3(6), e2012005. doi: 10.1001/jamanetworkopen.2020.12005. Retrieved 17 June 2020. 

Braye, S. (2020). Clinical advice on self-collection swabs for COVID-19 testing. Retrieved 19 June 2020, from https://www.health.nsw.gov.au/Infectious/covid-19/communities-of-practice/Pages/self-collection.aspx

Interim guidelines for collecting, handling, and testing clinical specimens for COVID-19. (2020). CDC. Retrieved 19 June 2020, from https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/guidelines-clinical-specimens.html

Tuller, D. (2020). Do-It-Yourself cheek swab test as next best thing to detect coronavirus. California Healthline. Retrieved 19 June 2020, from https://californiahealthline.org/news/do-it-yourself-cheek-swab-tested-as-next-best-thing-to-detect-coronavirus/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nabila Azmi Diperbarui 31/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x