home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

China Gunakan Tes Swab Anal untuk COVID-19, Apa Bedanya dengan Swab Nasofaring?

China Gunakan Tes Swab Anal untuk COVID-19, Apa Bedanya dengan Swab Nasofaring?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Beberapa kota di China menggunakan sampel yang diambil dari swab anal untuk mendeteksi COVID-19. Cara ini digunakan untuk mendiagnosa sebanyak mungkin orang agar tidak ada Orang Tanpa Gejala (OTG) yang tak terdeteksi jelang perayaan tahun baru China (Imlek).

Dilansir Reuters, pertengahan Januari lalu seorang pejabat Beijing mengatakan bahwa swab anal dilakukan pada lebih dari 1000 guru dan siswa di sebuah sekolah dasar setelah ditemukan kasus COVID-19.

Namun tes tersebut dilakukan bersamaan dengan tes swab nasofaring. Ia mengatakan tes swab anal ini dilakukan untuk menghindari infeksi yang belum terdeteksi atau telah hilang, sebab jejak virus kemungkinan bertahan lebih lama di bagian anal.

Bagaimana anal swab untuk diagnosa COVID-19 ini dilakukan? Apakah lebih akurat dari pada swab nasofaring/tenggorokan PCR?

Bagaimana prosedur tes anal swab COVID-19 yang dilakukan China?

Beberapa kota di China menggunakan sampel yang diambil dari swab anal untuk mendeteksi COVID-19. Cara ini digunakan untuk mendiagnosa sebanyak-banyaknya orang agar tidak ada OTG yang tidak terdeteksi jelang perayaan tahun baru China (Imlek). Dilansir reuters, pertengahan Januari lalu seorang pejabat Beijing mengatakan, swab anal dilakukan pada lebih dari 1000 guru dan siswa di sebuah sekolah dasar setelah ditemukan kasus COVID-19. Namun tes tersebut dilakukan bersamaan dengan tes swab nasofaring. Ia mengatakan tes swab anal ini dilakukan untuk menghindari infeksi yang belum terdeteksi atau telah hilang, karena jejak virus tersebut kemungkinan masih bertahan lebih lama di anal. Bagaimana anal swab untuk diagnosa COVID-19 ini dilakukan? Apakah lebih akurat dari pada swab nasofaring/tenggorokan PCR? Bagaimana prosedur tes anal swab COVID-19 yang dilakukan China? Swab atau usapan anal dilakukan dengan memasukan kapas berukuran 3-5 cm ke dalam anus dan memutarnya untuk mengambil sampel feses atau kotoran. Cara ini disebut dapat mendeteksi keberadaan virus yang bisa saja tidak terdeteksi oleh swab nasofaring yang telah menjadi standar internasional untuk mendiagnosa COVID-19. Wakil direktur pusat penyakit menular Rumah Sakit Youan Beijing, Li Tongzen mengatakan, hasil studinya menunjukkan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 bertahan lebih lama di dalam anus atau kotoran dibandingkan sampel dari saluran pernapasan bagian atas. Li mengatakan bahwa sampel swab anal hanya perlu dilakukan pada kelompok kunci seperti mereka yang sedang di karantina. Beberapa peneliti dari Chinese University of Hong Kong berpendapat, tes feses mungkin akan lebih efektif daripada swab nasofaring untuk mendeteksi infeksi COVID-19 pada anak dan bayi. Bayi dan anak disebut membawa lebih banyak viral load (jumlah virus) dalam feses mereka daripada orang dewasa. Beberapa ahli tidak setuju dengan anal swab dan mengatakan swab nasofaring (PCR) jauh lebih akurat Jurnal Future Medicine menerbitkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan China terhadap sejumlah kecil pasien COVID-19. Dalam beberapa kasus, ada yang dinyatakan negatif melalui tes swab tenggorokan tetapi masih positif pada sampel swab anal. “Kami mengusulkan usapan anak sebagai spesimen yang berpotensi optimal untuk deteksi virus SARS-CoV-2 sebagai bahan evaluasi pasien COVID-19 yang keluar rumah sakit,” tulis peneliti. Swab anal juga disebut bisa membantu meminimalisir kemungkinan kekambuhan pasien setelah pulih. Namun, deteksi COVID-19 dengan anal swab ini menjadi pembicaraan kontroversial di kalangan ahli. Wakil direktur departemen biologi molekuler Wuhan University, mengatakan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini telah terbukti menular melalui saluran pernapasan. Karena itu tes paling efisien masih berupa pengambilan sampel melalui swab hidung dan tenggorokan. “Ada kasus ditemukannya virus corona positif pada kotoran pasien, tapi tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa itu ditularkan melalui sistem pencernaan seseorang,” kata Yang kepada Global Times. Menurut keterangan beberapa orang yang melakukan anal swab, tes ini membuatnya merasa dipermalukan. Beberapa negara seperti Australia dan Filipina sudah menyatakan tidak menggunakan anal swab sebagai alternatif pemeriksaan COVID-19.

Swab atau usapan melalui anal dilakukan dengan memasukan kapas berukuran 3-5 cm ke dalam anus dan memutarnya untuk mengambil sampel feses atau kotoran. Cara ini disebut dapat mendeteksi keberadaan virus yang bisa saja tidak terdeteksi oleh swab nasofaring yang telah menjadi standar internasional untuk mendiagnosa COVID-19.

Wakil Direktur Pusat Penyakit Menular Rumah Sakit Youan Beijing, Li Tongzen, mengatakan bahwa hasil studinya menunjukkan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 bertahan lebih lama di dalam anus atau kotoran dibandingkan sampel dari saluran pernapasan bagian atas.

Li mengatakan bahwa sampel swab anal hanya perlu dilakukan pada kelompok kunci seperti mereka yang sedang dikarantina.

Beberapa peneliti dari Chinese University of Hong Kong berpendapat, tes feses mungkin akan lebih efektif daripada swab nasofaring untuk mendeteksi infeksi COVID-19 pada anak dan bayi. Bayi dan anak disebut membawa lebih banyak viral load (jumlah virus) dalam feses mereka daripada orang dewasa.

Beberapa ahli mengatakan swab nasofaring jauh lebih akurat

Beberapa kota di China menggunakan sampel yang diambil dari swab anal untuk mendeteksi COVID-19. Cara ini digunakan untuk mendiagnosa sebanyak-banyaknya orang agar tidak ada OTG yang tidak terdeteksi jelang perayaan tahun baru China (Imlek). Dilansir reuters, pertengahan Januari lalu seorang pejabat Beijing mengatakan, swab anal dilakukan pada lebih dari 1000 guru dan siswa di sebuah sekolah dasar setelah ditemukan kasus COVID-19. Namun tes tersebut dilakukan bersamaan dengan tes swab nasofaring. Ia mengatakan tes swab anal ini dilakukan untuk menghindari infeksi yang belum terdeteksi atau telah hilang, karena jejak virus tersebut kemungkinan masih bertahan lebih lama di anal. Bagaimana anal swab untuk diagnosa COVID-19 ini dilakukan? Apakah lebih akurat dari pada swab nasofaring/tenggorokan PCR? Bagaimana prosedur tes anal swab COVID-19 yang dilakukan China? Swab atau usapan anal dilakukan dengan memasukan kapas berukuran 3-5 cm ke dalam anus dan memutarnya untuk mengambil sampel feses atau kotoran. Cara ini disebut dapat mendeteksi keberadaan virus yang bisa saja tidak terdeteksi oleh swab nasofaring yang telah menjadi standar internasional untuk mendiagnosa COVID-19. Wakil direktur pusat penyakit menular Rumah Sakit Youan Beijing, Li Tongzen mengatakan, hasil studinya menunjukkan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 bertahan lebih lama di dalam anus atau kotoran dibandingkan sampel dari saluran pernapasan bagian atas. Li mengatakan bahwa sampel swab anal hanya perlu dilakukan pada kelompok kunci seperti mereka yang sedang di karantina. Beberapa peneliti dari Chinese University of Hong Kong berpendapat, tes feses mungkin akan lebih efektif daripada swab nasofaring untuk mendeteksi infeksi COVID-19 pada anak dan bayi. Bayi dan anak disebut membawa lebih banyak viral load (jumlah virus) dalam feses mereka daripada orang dewasa. Beberapa ahli tidak setuju dengan anal swab dan mengatakan swab nasofaring (PCR) jauh lebih akurat Jurnal Future Medicine menerbitkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan China terhadap sejumlah kecil pasien COVID-19. Dalam beberapa kasus, ada yang dinyatakan negatif melalui tes swab tenggorokan tetapi masih positif pada sampel swab anal. “Kami mengusulkan usapan anak sebagai spesimen yang berpotensi optimal untuk deteksi virus SARS-CoV-2 sebagai bahan evaluasi pasien COVID-19 yang keluar rumah sakit,” tulis peneliti. Swab anal juga disebut bisa membantu meminimalisir kemungkinan kekambuhan pasien setelah pulih. Namun, deteksi COVID-19 dengan anal swab ini menjadi pembicaraan kontroversial di kalangan ahli. Wakil direktur departemen biologi molekuler Wuhan University, mengatakan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini telah terbukti menular melalui saluran pernapasan. Karena itu tes paling efisien masih berupa pengambilan sampel melalui swab hidung dan tenggorokan. “Ada kasus ditemukannya virus corona positif pada kotoran pasien, tapi tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa itu ditularkan melalui sistem pencernaan seseorang,” kata Yang kepada Global Times. Menurut keterangan beberapa orang yang melakukan anal swab, tes ini membuatnya merasa dipermalukan. Beberapa negara seperti Australia dan Filipina sudah menyatakan tidak menggunakan anal swab sebagai alternatif pemeriksaan COVID-19.

Jurnal Future Medicine menerbitkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan China terhadap sejumlah kecil pasien COVID-19. Dalam beberapa kasus, ada yang telah dinyatakan negatif melalui tes swab tenggorokan tetapi masih positif pada sampel swab anal.

“Kami mengusulkan usapan anal sebagai spesimen yang berpotensi optimal untuk deteksi virus SARS-CoV-2 sebagai bahan evaluasi pasien COVID-19 yang keluar rumah sakit,” tulis peneliti.

Swab anal juga disebut bisa membantu meminimalisir kemungkinan kekambuhan pasien setelah pulih. Namun, deteksi COVID-19 dengan anal swab ini menjadi pembicaraan kontroversial di kalangan para ahli.

Wakil Direktur Departemen Biologi Molekuler Wuhan University, Yang Zhanqiu, mengatakan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini telah terbukti menular melalui saluran pernapasan. Karena itu tes paling efisien masih berupa pengambilan sampel melalui swab hidung dan tenggorokan.

“Meskipun ada kasus ditemukannya virus corona positif pada kotoran pasien. Tapi tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa virus itu ditularkan melalui sistem pencernaan seseorang,” kata Yang kepada Global Times.

Menurut keterangan beberapa orang yang melakukan anal swab, tes ini membuatnya merasa dipermalukan. Beberapa negara menyatakan belum mempertimbangkan penggunaan anal swab sebagai alternatif pemeriksaan COVID-19.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Fan, Q., Pan, Y., Wu, Q., Liu, S., Song, X., & Xie, Z. et al. (2020). Anal swab findings in an infant with COVID‐19. PEDIATRIC INVESTIGATION, 4(1), 48-50. doi: 10.1002/ped4.12186
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal diperbarui 05/02/2021
x