China Gunakan Tes Swab Anal untuk COVID-19, Apa Bedanya dengan Swab Nasofaring?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 5 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Beberapa kota di China menggunakan sampel yang diambil dari swab anal untuk mendeteksi COVID-19. Cara ini digunakan untuk mendiagnosa sebanyak mungkin orang agar tidak ada Orang Tanpa Gejala (OTG) yang tak terdeteksi jelang perayaan tahun baru China (Imlek). 

Dilansir Reuters, pertengahan Januari lalu seorang pejabat Beijing mengatakan bahwa swab anal dilakukan pada lebih dari 1000 guru dan siswa di sebuah sekolah dasar setelah ditemukan kasus COVID-19. 

Namun tes tersebut dilakukan bersamaan dengan tes swab nasofaring. Ia mengatakan tes swab anal ini dilakukan untuk menghindari infeksi yang belum terdeteksi atau telah hilang, sebab jejak virus kemungkinan bertahan lebih lama di bagian anal. 

Bagaimana anal swab untuk diagnosa COVID-19 ini dilakukan? Apakah lebih akurat dari pada swab nasofaring/tenggorokan PCR?

Bagaimana prosedur tes anal swab COVID-19 yang dilakukan China?

Beberapa kota di China menggunakan sampel yang diambil dari swab anal untuk mendeteksi COVID-19. Cara ini digunakan untuk mendiagnosa sebanyak-banyaknya orang agar tidak ada OTG yang tidak terdeteksi jelang perayaan tahun baru China (Imlek). Dilansir reuters, pertengahan Januari lalu seorang pejabat Beijing mengatakan, swab anal dilakukan pada lebih dari 1000 guru dan siswa di sebuah sekolah dasar setelah ditemukan kasus COVID-19. Namun tes tersebut dilakukan bersamaan dengan tes swab nasofaring. Ia mengatakan tes swab anal ini dilakukan untuk menghindari infeksi yang belum terdeteksi atau telah hilang, karena jejak virus tersebut kemungkinan masih bertahan lebih lama di anal. Bagaimana anal swab untuk diagnosa COVID-19 ini dilakukan? Apakah lebih akurat dari pada swab nasofaring/tenggorokan PCR? Bagaimana prosedur tes anal swab COVID-19 yang dilakukan China? Swab atau usapan anal dilakukan dengan memasukan kapas berukuran 3-5 cm ke dalam anus dan memutarnya untuk mengambil sampel feses atau kotoran. Cara ini disebut dapat mendeteksi keberadaan virus yang bisa saja tidak terdeteksi oleh swab nasofaring yang telah menjadi standar internasional untuk mendiagnosa COVID-19. Wakil direktur pusat penyakit menular Rumah Sakit Youan Beijing, Li Tongzen mengatakan, hasil studinya menunjukkan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 bertahan lebih lama di dalam anus atau kotoran dibandingkan sampel dari saluran pernapasan bagian atas. Li mengatakan bahwa sampel swab anal hanya perlu dilakukan pada kelompok kunci seperti mereka yang sedang di karantina. Beberapa peneliti dari Chinese University of Hong Kong berpendapat, tes feses mungkin akan lebih efektif daripada swab nasofaring untuk mendeteksi infeksi COVID-19 pada anak dan bayi. Bayi dan anak disebut membawa lebih banyak viral load (jumlah virus) dalam feses mereka daripada orang dewasa. Beberapa ahli tidak setuju dengan anal swab dan mengatakan swab nasofaring (PCR) jauh lebih akurat Jurnal Future Medicine menerbitkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan China terhadap sejumlah kecil pasien COVID-19. Dalam beberapa kasus, ada yang dinyatakan negatif melalui tes swab tenggorokan tetapi masih positif pada sampel swab anal. “Kami mengusulkan usapan anak sebagai spesimen yang berpotensi optimal untuk deteksi virus SARS-CoV-2 sebagai bahan evaluasi pasien COVID-19 yang keluar rumah sakit,” tulis peneliti. Swab anal juga disebut bisa membantu meminimalisir kemungkinan kekambuhan pasien setelah pulih. Namun, deteksi COVID-19 dengan anal swab ini menjadi pembicaraan kontroversial di kalangan ahli. Wakil direktur departemen biologi molekuler Wuhan University, mengatakan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini telah terbukti menular melalui saluran pernapasan. Karena itu tes paling efisien masih berupa pengambilan sampel melalui swab hidung dan tenggorokan. “Ada kasus ditemukannya virus corona positif pada kotoran pasien, tapi tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa itu ditularkan melalui sistem pencernaan seseorang,” kata Yang kepada Global Times. Menurut keterangan beberapa orang yang melakukan anal swab, tes ini membuatnya merasa dipermalukan. Beberapa negara seperti Australia dan Filipina sudah menyatakan tidak menggunakan anal swab sebagai alternatif pemeriksaan COVID-19.

Swab atau usapan melalui anal dilakukan dengan memasukan kapas berukuran 3-5 cm ke dalam anus dan memutarnya untuk mengambil sampel feses atau kotoran. Cara ini disebut dapat mendeteksi keberadaan virus yang bisa saja tidak terdeteksi oleh swab nasofaring yang telah menjadi standar internasional untuk mendiagnosa COVID-19. 

Wakil Direktur Pusat Penyakit Menular Rumah Sakit Youan Beijing, Li Tongzen, mengatakan bahwa hasil studinya menunjukkan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 bertahan lebih lama di dalam anus atau kotoran dibandingkan sampel dari saluran pernapasan bagian atas. 

Li mengatakan bahwa sampel swab anal hanya perlu dilakukan pada kelompok kunci seperti mereka yang sedang dikarantina. 

Beberapa peneliti dari Chinese University of Hong Kong berpendapat, tes feses mungkin akan lebih efektif daripada swab nasofaring untuk mendeteksi infeksi COVID-19 pada anak dan bayi. Bayi dan anak disebut membawa lebih banyak viral load (jumlah virus) dalam feses mereka daripada orang dewasa.  

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,314,634

Confirmed

1,121,411

Recovered

35,518

Death
Distribution Map

Beberapa ahli mengatakan swab nasofaring jauh lebih akurat

Beberapa kota di China menggunakan sampel yang diambil dari swab anal untuk mendeteksi COVID-19. Cara ini digunakan untuk mendiagnosa sebanyak-banyaknya orang agar tidak ada OTG yang tidak terdeteksi jelang perayaan tahun baru China (Imlek). Dilansir reuters, pertengahan Januari lalu seorang pejabat Beijing mengatakan, swab anal dilakukan pada lebih dari 1000 guru dan siswa di sebuah sekolah dasar setelah ditemukan kasus COVID-19. Namun tes tersebut dilakukan bersamaan dengan tes swab nasofaring. Ia mengatakan tes swab anal ini dilakukan untuk menghindari infeksi yang belum terdeteksi atau telah hilang, karena jejak virus tersebut kemungkinan masih bertahan lebih lama di anal. Bagaimana anal swab untuk diagnosa COVID-19 ini dilakukan? Apakah lebih akurat dari pada swab nasofaring/tenggorokan PCR? Bagaimana prosedur tes anal swab COVID-19 yang dilakukan China? Swab atau usapan anal dilakukan dengan memasukan kapas berukuran 3-5 cm ke dalam anus dan memutarnya untuk mengambil sampel feses atau kotoran. Cara ini disebut dapat mendeteksi keberadaan virus yang bisa saja tidak terdeteksi oleh swab nasofaring yang telah menjadi standar internasional untuk mendiagnosa COVID-19. Wakil direktur pusat penyakit menular Rumah Sakit Youan Beijing, Li Tongzen mengatakan, hasil studinya menunjukkan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 bertahan lebih lama di dalam anus atau kotoran dibandingkan sampel dari saluran pernapasan bagian atas. Li mengatakan bahwa sampel swab anal hanya perlu dilakukan pada kelompok kunci seperti mereka yang sedang di karantina. Beberapa peneliti dari Chinese University of Hong Kong berpendapat, tes feses mungkin akan lebih efektif daripada swab nasofaring untuk mendeteksi infeksi COVID-19 pada anak dan bayi. Bayi dan anak disebut membawa lebih banyak viral load (jumlah virus) dalam feses mereka daripada orang dewasa. Beberapa ahli tidak setuju dengan anal swab dan mengatakan swab nasofaring (PCR) jauh lebih akurat Jurnal Future Medicine menerbitkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan China terhadap sejumlah kecil pasien COVID-19. Dalam beberapa kasus, ada yang dinyatakan negatif melalui tes swab tenggorokan tetapi masih positif pada sampel swab anal. “Kami mengusulkan usapan anak sebagai spesimen yang berpotensi optimal untuk deteksi virus SARS-CoV-2 sebagai bahan evaluasi pasien COVID-19 yang keluar rumah sakit,” tulis peneliti. Swab anal juga disebut bisa membantu meminimalisir kemungkinan kekambuhan pasien setelah pulih. Namun, deteksi COVID-19 dengan anal swab ini menjadi pembicaraan kontroversial di kalangan ahli. Wakil direktur departemen biologi molekuler Wuhan University, mengatakan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini telah terbukti menular melalui saluran pernapasan. Karena itu tes paling efisien masih berupa pengambilan sampel melalui swab hidung dan tenggorokan. “Ada kasus ditemukannya virus corona positif pada kotoran pasien, tapi tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa itu ditularkan melalui sistem pencernaan seseorang,” kata Yang kepada Global Times. Menurut keterangan beberapa orang yang melakukan anal swab, tes ini membuatnya merasa dipermalukan. Beberapa negara seperti Australia dan Filipina sudah menyatakan tidak menggunakan anal swab sebagai alternatif pemeriksaan COVID-19.

Jurnal Future Medicine menerbitkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan China terhadap sejumlah kecil pasien COVID-19. Dalam beberapa kasus, ada yang telah dinyatakan negatif melalui tes swab tenggorokan tetapi masih positif pada sampel swab anal

“Kami mengusulkan usapan anal sebagai spesimen yang berpotensi optimal untuk deteksi virus SARS-CoV-2 sebagai bahan evaluasi pasien COVID-19 yang keluar rumah sakit,” tulis peneliti.

Swab anal juga disebut bisa membantu meminimalisir kemungkinan kekambuhan pasien setelah pulih.  Namun, deteksi COVID-19 dengan anal swab ini menjadi pembicaraan kontroversial di kalangan para ahli. 

Wakil Direktur Departemen Biologi Molekuler Wuhan University, Yang Zhanqiu, mengatakan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini telah terbukti menular melalui saluran pernapasan. Karena itu tes paling efisien masih berupa pengambilan sampel melalui swab hidung dan tenggorokan.

“Meskipun ada kasus ditemukannya virus corona positif pada kotoran pasien. Tapi tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa virus itu ditularkan melalui sistem pencernaan seseorang,” kata Yang kepada Global Times.

Menurut keterangan beberapa orang yang melakukan anal swab, tes ini membuatnya merasa dipermalukan. Beberapa negara menyatakan belum mempertimbangkan penggunaan anal swab sebagai alternatif pemeriksaan COVID-19.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit