Eksperimen Tes Antibodi, Metode Lain Mendeteksi COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Kasus wabah COVID-19 secara global kini mencapai angka sekitar 83.000 dan menewaskan lebih dari 2.800 korban jiwa. Di antara puluhan ribu kasus, terdapat salah satu negara yang memiliki jumlah kasus dan kematian yang cukup rendah meskipun sering didatangi warga Tiongkok, yaitu Singapura. Bahkan, baru-baru ini mereka mengklaim penggunaan tes antibodi untuk melacak infeksi COVID-19. 

Tes antibodi ini disebut-sebut lebih efektif dibandingkan metode pemeriksaan COVID-19 lainnya. Apa sebenarnya yang membuat cara ini diunggulkan oleh Singapura?

Bagaimana tes antibodi mengecek infeksi penyakit COVID-19?

tes serum albumin

Dengan meningkatnya jumlah kasus dan kematian di seluruh dunia, terutama di pusat wabah penyakit, yaitu Wuhan, Tiongkok, para ahli berlomba dengan waktu dalam membuat vaksin

Sementara itu, para peneliti di Singapura berusaha untuk mencari metode lain yang lebih efektif mendeteksi virus SARS-CoV-2. Pasalnya, tes yang digunakan untuk melacak COVID-19, yakni RT-PCR dinilai tidak begitu efisien.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

939,948

Confirmed

763,703

Recovered

26,857

Death
Distribution Map
 

RT-PCR atau  Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction adalah pemeriksaan untuk menganalisis apakah pada sampel terdapat virus atau tidak. 

Umumnya, pasien yang menjalani RT-PCR akan melakukan swab tenggorokan, oral, atau anal dengan menggunakan reaksi rantai polimerase. Akan tetapi, metode ini memiliki kelemahan, yaitu hanya dapat mendeteksi ada tidaknya virus pada sampel. 

RT-PCR tidak dapat mengidentifikasi pasien yang mengalami infeksi, sudah pulih, atau mendeteksi, apakah virus sudah hilang dari tubuh mereka. 

Keterbatasan tersebut akhirnya membuat Singapura mengembangkan tes antibodi untuk mendeteksi COVID-19 secara lebih rinci. 

pasien positif COVID-19

Dilansir dari American Association for the Advancement of Science, para ahli di Singapura mencoba mengidentifikasi COVID-19 dengan eksperimen tes antibodi. Peserta yang menjalani uji coba merupakan pasien yang diduga terinfeksi virus di gereja Singapura. 

Tidak disangka-sangka, tes antibodi yang termasuk baru ini membantu Kementerian Kesehatan Singapura mengidentifikasi kasus COVID-19 yang bermula di gereja Grace of Assembly God.

Dari metode ini mereka dapat melihat siapa yang pertama kali terinfeksi virus, yaitu seorang pria berusia 28 tahun. Akan tetapi, pemerintah belum dapat menentukan bagaimana pria tersebut dapat terjangkit COVID-19. 

Tidak terdeteksi bukan berarti tidak terinfeksi 

menghadapi covid-19

Sementara itu, pada kelompok kasus lainnya pada 25 Januari 2020, terdapat pasangan yang diduga menghadiri kebaktian gereja bersama dengan wisatawan dari Wuhan. 

Pasangan tersebut menunjukkan gejala COVID-19 dan memeriksakan diri mereka ke dokter. Akan tetapi, mereka tidak didiagnosis terinfeksi virus karena mengalami gejala ringan. 

mencegah tertular coronavirus

Selepas perayaan Tahun Baru Imlek, para peneliti mengirim pasangan itu ke Pusat Nasional untuk Penyakit Menular untuk menjalani tes pada 18 Februari.

alkohol suhu tinggi coronavirus

Alasannya karena setelah mereka pulih dari gejala, para ahli ingin memastikan apakah keduanya sudah terbebas dari virus. Pasangan ini akhirnya menjalani pemeriksaan menggunakan tes PCR dan antibodi untuk mendeteksi COVID-19. 

Hasilnya cukup mengejutkan. Sang suami dinyatakan positif melalui tes PCR dan dirawat di rumah sakit keesokan harinya. Di sisi lain, istrinya dinyatakan negatif lewat PCR, tetapi setelah tes antibodi keluar beberapa hari kemudian, dalam tubuhnya terdapat antibodi dari COVID-19 persis seperti suaminya.

Menurut Danielle Anderson, ahli virologi dari Duke-NUS dalam konferensi pers pada Selasa, para ahli percaya bahwa pertama kalinya tes antibodi digunakan dalam masalah ini. 

laboratorium coronavirus

Walaupun demikian, mereka masih menunggu hasil dari pengujian secara serologis, yaitu tidak hanya mengikuti jalur virus. Dengan begitu, peneliti lebih dapat memahami epidemiologi dari COVID-19 karena banyaknya kasus yang menyebar berasal dari pasien yang tidak menunjukkan gejala

Akibatnya, mereka kesulitan ‘menemukan’ virus di dalam tubuh suspek terduga, sehingga kemungkinan melonjaknya kasus dalam waktu singkat cukup besar. 

Oleh karena itu, tes antibodi untuk mengidentifikasi COVID-19 diharapkan dapat menunjang diagnosis pada pasien suspek terduga. 

Apa itu tes antibodi?

pemeriksaan laboratorium demam berdarah

Tes antibodi untuk mengidentifikasi virus pada pasien terduga COVID-19 di Singapura dikembangkan oleh tim yang dipimpin oleh Linfa Wang. Linfa Wang merupakan seorang spesialis penyakit menular di Duke-NUS. Bagi masyarakat awam mungkin jarang mendengar pemeriksaan berdasarkan antibodi di tubuh manusia. 

Tes antibodi adalah pemeriksaan yang melibatkan analisis sampel darah pasien untuk melihat ada atau tidaknya antibodi tertentu dan jumlah antibodi yang ada. Normalnya, pemeriksaan ini dilakukan untuk beberapa penyakit tertentu, seperti alergi dan hepatitis A.

Pada kasus tes antibodi yang digunakan di COVID-19, peneliti mengambil sampel darah dari pasien yang sudah dinyatakan pulih. Kemudian, mereka mencoba mengidentifikasi antibodi dengan menargetkan lonjakan protein yang dapat mencegah dan membunuh sel virus

Sumber: Times of Israel

Dalam penelitian tersebut, mereka juga menciptakan protein virus sintetis yang dapat mendeteksi antibodi dalam sampel darah tanpa perlu menggunakan virus hidup. 

Akan tetapi, metode pemeriksaan COVID-19 ini perlu diteliti lebih lanjut untuk memastikan apakah antibodi hanya akan bereaksi terhadap virus baru saja. 

Selain itu, tim peneliti juga khawatir bahwa adanya kesamaan antara virus sindrom pernapasan akut dan SARS-CoV-2 dapat menyebabkan reaktivitas silang. Maka itu, mereka juga berusaha mengembangkan cara membedakan kedua virus tersebut secara akurat. 

Sampai saat ini, kasus COVID-19 di Singapura belum melonjak secara drastis seperti di negara lainnya. Hal ini mungkin dikarenakan berbagai upaya pemerintah yang melakukan diagnosis yang agresif, seperti temuan tes antibodi untuk COVID-19 ini dan karantina yang lebih ketat.

Beda Tes COVID-19 Saran WHO dan Rapid Test Perintah Jokowi

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Mengenal GeNose, Alat Deteksi COVID-19 dari Embusan Napas

UGM mengembangkan GeNose, teknologi untuk mendeteksi COVID-19 dengan cepat melalui embusan napas. Bagaimana cara kerjanya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 28 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin pasien covid-19

Rekomendasi Vitamin untuk Pasien Covid-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Keamanan Vaksin COVID-19

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit