home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal GeNose, Alat Deteksi COVID-19 dari Embusan Napas

Mengenal GeNose, Alat Deteksi COVID-19 dari Embusan Napas

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Ilmuwan Universitas Gadjah Mada mengembangkan teknologi yang bisa mendeteksi COVID-19 dengan cepat lewat alat bernama GeNose. Alat ini diklaim bisa mendeteksi apakah seseorang terinfeksi COVID-19 melalui embusan napas.

Alat tersebut kini telah mengantongi izin edar dari Kementerian Kesehatan dan siap untuk dipasarkan. Bagaimana cara kerja alat ini? Apakah GeNose bisa menjadi standar untuk mendiagnosa infeksi COVID-19? Bagaimana cara kerja alat ini?

Bagaimana GeNose mendeteksi infeksi virus corona penyebab COVID-19?

genose alat deteksi covid-19 dari embusan napas

GeNose adalah teknologi pengendus keberadaan COVID-19 dalam napas manusia. Alat ini dibuat oleh ilmuwan UGM dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UGM bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK).

Pemeriksaan dilakukan dengan meminta pasien mengembuskan napas ke tabung khusus (rebreathing mask) untuk menampung napas. Napas yang telah ditampung tersebut kemudian disambungkan ke alat GeNose melalui selang.

Sensor-sensor GeNose akan menangkap keberadaan virus penyebab COVID-19 yang terbawa oleh napas dan menganalisisnya dengan teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Ketua peneliti, Kuwat Triyana, menjelaskan bahwa ketika bagian tubuh manusia terinfeksi virus maka ia akan menghasilkan senyawa organik yang bernama Volatile Organic Compound (VOC). Senyawa organik ini disebut sangat spesifik sehingga ketika seseorang bernapas maka sensor GeNose dapat meresponnya dengan membentuk pola yang sangat khas.

Pola khas tersebut kemudian yang dianalisis oleh AI untuk menentukan apakah orang tersebut terinfeksi COVID-19 atau tidak.

“Sebelumnya butuh waktu sekitar 3 menit, namun terakhir saat kami melakukan uji di BIN (Badan Intelijen Negara) ternyata bisa dipercepat menjadi 80 detik,” kata Kuwat.

Pilot project profiling dan validasi GeNose telah dilakukan di ruang isolasi Rumah Sakit Bhayangkara Polda Yogyakarta. Uji klinis ini dilakukan pada 615 sampel napas dari 83 orang pasien. Hasilnya diketahui 43 orang terkonfirmasi positif dan 40 orang negatif.

“80 persen orang yang terkonfirmasi positif ini tanpa gejala dan mereka yang negatif juga tidak memiliki gejala apapun yang mirip COVID-19. Artinya alat ini bisa membedakan mana orang positif COVID-19 walaupun tanpa gejala,” kata dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, salah satu tim peneliti.

Untuk uji klinis selanjutnya, UGM telah mendapat dukungan penuh dari Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN).

UGM melakukan serah terima teknologi alat deteksi COVID-19 GeNose ke Kemenristek/BRIN pada Kamis (24/9).

Persiapan uji klinis GeNose

uji klinis genose alat deteksi covid-19 dari embusan napas

Uji klinis tahap kedua dilakukan pada 2.000 orang pasien di 9 rumah sakit yang telah bekerja sama dengan UGM.

Untuk bisa memvalidasi akurasi mesin ini harus ada uji diagnostik atau uji klinis. Pasien yang menjadi peserta uji deteksi COVID-19 dengan GeNose juga dilakukan tes molekuler RT-PCR (swab) untuk melihat keakuratannya.

RT-PCR adalah kepanjangan dari real-time Polymerase Chain Reaction, yakni tes yang dilakukan dengan mengambil sampel dari usapan selaput lendir hidung atau tenggorokan. Saat ini tes swab PCR adalah cara diagnosa COVID-19 yang paling akurat.

Rumah sakit yang akan bekerjasama dalam uji diagnostik ini di antaranya:

  1. RSUP Dr. Sardjito
  2. RSPAU Hardjolukito Yogyakarta
  3. RS Bhayangkara TK III Polda DI Yogyakarta
  4. RSLKC Bambanglipuro, Bantul
  5. RST Dr. Soedjono Magelang
  6. RS Bhayangkara TK I Raden Said Soekanto, Jakarta
  7. RS Akademik UGM
  8. RSUD Saiful Anwar, Malang
  9. RSPAD Gatot Soebroto (masih dalam konfirmasi)
  10. RSUP Soeradji Tirtonegoro, Klaten (masih dalam konfirmasi)

Alat pendeteksi COVID-19 itu kini mengantongi izin edar dari Kementerian Kesehatan.

“Alhamdulillah, berkat doa dan dukungan luar biasa dari banyak pihak GeNose C19 secara resmi mendapatkan izin edar (KEMENKES RI AKD 20401022883) untuk mulai dapat pengakuan oleh regulator, yakni Kemenkes, dalam membantu penanganan Covid-19 melalui skrining cepat,” kata Kuwat melalui pers rilis yang dikutip hellosehat.com dari situs resmi UGM, Sabtu (26/12).

Saat ini tersedia 100 unit GeNose yang siap dipasarkan dengan target 120 tes per hari. Itu artinya alat ini dapat membantu skrining COVID-19 sebanyak 12 ribu ornag per harinya. Kuwat berharap distribusi alat ini bisa tepat sasaran, misalnya digunakan di bandara, stasiun kereta, dan tempat keramaian lainnya termasuk di rumah sakit dan BNPB yang dapat mobile mendekati suspect Covid-19.

Kuwat juga menjelaskan bahwa nantinya biaya tes dengan GeNose C19 hanya sekitar Rp15-25 ribu. Selain lebih murah, alat ini juga mengeluarkan hasil tes hanya dalam waktu 2 menit, tidak memerlukan reagen atau bahan kimia lain, dan lebih nyaman.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal diperbarui 28/12/2020
x