Bius Total Saat Operasi Pada Lansia Meningkatkan Risiko Penyakit Alzheimer

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 24 Mei 2017 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Selama dua dekade terakhir, berbagai penyakit yang terjadi di usia lanjut semakin meningkat secara signifikan, namun jumlah pasien lanjut usia yang menjalani operasi secara bersamaan juga semakin meningkat. Ketika usia sudah lanjut, sudah tidak bisa disangkal lagi jika kondisi tubuh semakin mengalami penurunan. Dimulai dari bagian sendi, lalu ke penglihatan, dan kemudian ingatan.

Nah, sering kali orang tua diharuskan untuk menjalani operasi besar di bagian sendi atau organ tubuh lainnya untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Lantas, apa saja risiko operasi pada lansia? Simak penjelasannya berikut ini. 

Efek anestesi (bius) sebelum operasi pada lansia

Sebelum dilakukan operasi, biasanya dokter spesialis anastesi akan melakukan tindakan pembiusan yang bertujuan untuk memblok rasa nyeri pasien dalam kurun waktu tertentu agar selama operasi pasien tidak merasakan sakit. Tindakan pembiusan atau anestesi ini bisa dilakukan dengan suntikan, semprotan, salep, ataupun pemberian gas yang harus dihirup pasien. Terdapat tiga jenis anestesi yaitu, anestesi lokal, anestesi sebagian, dan anestesi total.

Efek anestesi memang bersifat sementara dan umumnya tidak berbahaya pada kebanyakan pasien operasi. Namun, pada pasien lansia yang tubuhnya terus mengalami penurunan karena usia, mungkin akan bisa berdampak saat proses pemulihannya. Terlebih jika lansia tersebut diberi anestesi total yang langsung bekerja di bagian otak sehingga membuat pasien tidak sadarkan diri selama operasi.

Sebuah studi baru menemukan bahwa anestesi total, bila digunakan pada pasien lansia, dapat meningkatkan risiko demensia dan perkembangan gangguan neurodegeneratif seperti penyakit Parkinson atau Alzheimer.

Bius total saat operasi pada lansia meningkatkan risiko penurunan fungsi otak

Para peneliti telah mengidentifikasi penurunan fungsi kognitif awal setelah operasi – disebut postoperative cognitive dysfunction (POCD), yang menyebabkan demensia. POCD dikaitkan dengan munculnya reaksi neuroinflammatory di dalam otak. Reaksi ini membuat otak rusak dan menyebabkan degenerasi sel.

Degenerasi pada tingkat sel adalah pemicu demensia alias pikun. Bahkan secara tidak langsung bisa menyebabkan penurunan fungsi kognitif yang dapat menyebabkan kepikunan, kehilangan ingatan jangka panjang, kesulitan berbahasa, dan perilaku tidak menentu. Demensia bisa berkembang menjadi penyakit, seperti Alzheimer.

Penelitian tersebut melibatkan 9.294 lansia yang telah menjalani operasi antara tahun 1999 dan 2001. Sekitar sembilan persen dari peserta mengalami demensia setelah delapan tahun menjalani eksposur anestesi dan risiko meningkat sebanyak 15 persen untuk terkena penyakit Alzheimer. Khususnya, bagi pasien lansia yang menjalani anestesi total dan mengalami penurunan fungsi kognitif lebih mungkin mengalami gangguan neurodegeneratif.

Dari penelitian tersebut, para peneliti pun menyimpulkan bahwa pasien lansia yang mendapatkan anestesi total cenderung berisiko lebih besar untuk mengalami masalah neurologis daripada mereka yang menerima anestesi lokal.

Risiko operasi pada lansia meningkat saat usia pasien di atas 75 tahun

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tingkat kesembuhan dan komplikasi pasca operasi lebih banyak terjadi saat usia pasien 75 tahun. Pada usia 75 tahun fungsi otak telah menurun dengan sendirinya, terlebih jika pasien sudah mengalami penurunan fungsi kognitifnya. Hal tersebut bisa membuat pengembangan penyakit neurodegeneratif sangat mungkin terjadi.

Penyakit Alzheimer bisa menjadi penyebab awal kematian pada lansia yang berusia 75 tahun ke atas. Pasien bisa menjadi pelupa sehingga mereka seringnya pergi jauh dari rumah dan lupa jalan pulang karena mereka lupa di mana rumah mereka. Di saat seperti itu, mereka rentan mengalami kelaparan dan risiko penyakin paru-paru basah.

Pentingnya melakukan evaluasi sebelum lansia dioperasi

Peneliti telah menyimpulkan bahwa evaluasi sebelum operasi harus dilakukan pada orang tua untuk menentukan tindakan anestesi apa yang digunakan, terlebih jika memang diharuskan melakukan anestesi total. Demikian juga mengenai rencana tindakan selanjut pasca operasi untuk memastikan pengenalan penurunan fungsi kognitif dan demensia sehingga perawatan dapat segera dilakukan untuk mencegah timbulnya gangguan neurodegeneratif yang lebih serius.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Prostatektomi, Operasi untuk Masalah Penyakit Prostat

Kanker prostat dan BPH dapat disembuhkan dengan melakukan prostatektomi. Apa itu prostatektomi? Simak penjelasannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Urologi, Prostat 5 Agustus 2020 . Waktu baca 7 menit

Obat-obatan yang Bisa Digunakan untuk Mengatasi Penyakit Prostat

Memiliki masalah di sekitar daerah intim sering membuat pria enggan konsultasi ke dokter. Lantas, obat penyakit prostat apa yang bisa digunakan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Urologi, Prostat 5 Agustus 2020 . Waktu baca 8 menit

Manfaat Virgin Coconut Oil untuk Kesehatan

Tak hanya efektif memangkas gelambir lemak perut, manfaat virgin coconut oil alias minyak kelapa dara sangat menakjubkan untuk kesehatan.

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Fakta Unik 4 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

Mendampingi Orang Terkasih Agar Tetap Tegar Sebelum Menemui Ajalnya

Meski tak mudah, penting sekali untuk membantu seseorang yang sakit keras dan tak bisa diobati lagi untuk mempersiapkan kematian. Ini langkah-langkahnya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Konten Bersponsor
merawat lansia

3 Hal yang Harus Anda Perhatikan Saat Merawat Lansia

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 5 November 2020 . Waktu baca 5 menit
syok hipovolemik

Syok Hipovolemik

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 24 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
penyakit pada lansia

5 Penyakit yang Banyak Menyerang Lansia di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 12 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
Makanan setelah operasi

Jenis Makanan Setelah Operasi yang Dapat Membantu Pemulihan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 3 menit