Beberapa Obat yang Bisa Menyebabkan Kerusakan Ginjal

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Fungsi obat memang untuk mengobati penyakit tertentu, namun banyak obat-obatan yang nyatanya dapat menyebabkan kerusakan ginjal atau bahkan gagal ginjal akut. Terlebih jika obat tersebut dikonsumsi dalam dosis tinggi atau secara terus menerus. Simak beberapa obat penyebab kerusakan ginjal dalam artikel ini.  

Obat yang efek sampingnya bisa merusak ginjal

Selain berfungsi sebagai penyaring darah dan menyingkirkan limbah tubuh, ginjal juga berperan dalam mengontrol tekanan darah, menstimulasi produksi sel darah merah, dan mengatur kadar elektrolit tubuh.

Gagal ginjal akut atau cedera ginjal akut sendiri adalah suatu kondisi di mana fungsi filtrasi ginjal menurun secara tiba-tiba atau cepat. Nah, karena fungsi ginjal menyaring produk limbah dari darah, maka ginjal memainkan peran penting dalam menghilangkan banyak efek obat dari tubuh. Hal ini yang membuat ginjal rentan terhadap cedera atau kerusakan.

Berikut ini beberapa obat yang bisa menyebabkan kerusakan ginjal jika tak digunakan dengan hati-hati:

1. Obat anti-inflamasi

Obat NSAID (Non steroidal Anti Inflammatory Drugs) biasanya digunakan untuk mengobati demam, pembengkakan dan nyeri sendi. Salah satu cara kerja obat ini adalah dengan melebarkan pembuluh darah. Namun efeknya akan mengurangi aliran darah ke ginjal dan berpotensi menimbulkan kerusakan. NSAID juga bisa langsung melukai jaringan ginjal. Obat NSAID menjadi penyebab kerusakan ginjal adalah ibuprofen, celecoxib, naproxen dan indometasin

Sebagian orang yang mengalami kerusakan ginjal akibat mengonsumsi obat NSAID tidak memiliki gejala, tapi saat dilakukan tes darah diketahui jika mereka memiliki kelainan pada fungsi ginjalnya. Sedangkan beberapa orang lainnya mengalami gejala dalam waktu 3 sampai 7 hari setelah mengonsumsi NSAID seperti jarang buang air kecil, demam, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, adanya darah dalam urin, ruam, pembengkakan, rasa kantuk yang berlebihan dan kebingungan.

2. Obat tekanan darah

Obat tekanan darah dapat menyebabkan kerusakan ginjal dengan memperlambat fungsi ginjal dalam menyaring darah dengan menurunkan aliran darah ke ginjal.

Obat-obatan yang berkontribusi menyebabkan kerusakan ginjal termasuk enzim pengubah angiotensin – ACE inhibitor (seperti lisinopril, ramipril, captopril, enalapril) dan penghambat reseptor angiotensin – ARB (seperti candesartan, losartan dan olmesartan). Meski begitu, penggunaan obat ACE-inhibitor dan ARBs sebenarnya digunakan untuk melindungi ginjal dari efek diabetes yang merusak.

3. Antibiotik

Antibiotik memang obat untuk melawan bakteri penyebab penyakit di dalam tubuh. Namun, ada antibiotik tertentu yang akan menyebabkan kerusakan ginjal. Beberapa obat ini akan memberikan efek samping ke ginjal lebih banyak dibanding yang lainnya seperti aminoglikosida, sefalosporin, amfoterisin B, bacitracin, dan vankomisin. Obat ini bisa merusak sel ginjal dengan cara memecah selaput yang mengelilinginya.

Gejala dari gagal ginjal akibat mengonsumsi antibiotik terlalu lama dalam dosis yang tinggi antara lain jarang buang air kecil, urine berwarna gelap, mudah memar dan nyeri otot. Karena beberapa antibiotik yang sudah disebutkan tadi berpotensi menyebabkan kerusakan ginjal, itu sebabnya dokter sering merekomendasikan pasiennya untuk menjalankan tes darah untuk mengetahui fungsi ginjal dan kadar obat dalam darah secara teratur.

4. Jenis obat lainnya

Selain yang sudah dijelaskan di atas, ada juga berbagai macam obat lain yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal, yaitu:

  • Asiklovir – obat yang digunakan untuk mengobati infeksi virus
  • Obat pencegahan heartburn ranitidine dan omeprazole
  • Obat kejang fenitoin dan obat allopurinol yang bisa menyebabkan asam urat
  • Obat yang digunakan dalam pengobatan kanker (kemoterapi), seperti cisplatin, carbloplatin, dan methotrexate.

Jadi, jika Anda memang sedang rutin mengonsumsi beberapa jenis obat yang sudah dijelaskan di atas, sebaiknya Anda rutin berkonsultasi ke dokter untuk meminimalisasi efek samping dari obat tersebut. Pasalnya dalam beberapa kasus, kerusakan pada ginjal memang masih bisa diperbaiki. Namun pada sebagian kasus lainnya terjadi kerusakan permanen dan pengobatannya hanya dengan melakukan transplantasi ginjal (cangkok ginjal).

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca