Bagaimana Cara Mengenali Obat Palsu?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Januari 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Pasti Anda sering membeli obat-obatan, mulai dari obat untuk penyakit ringan sampai obat untuk penyakit serius. Tapi, apakah obat yang Anda beli sudah terjamin kualitasnya? Setiap membeli obat, apakah Anda selalu memeriksa keaslian dari obat tersebut? Hati-hati, sekarang ini banyak obat palsu beredar.

Apa itu obat palsu?

Sebelum membahas tentang apa saja ciri-ciri obat palsu, sebaiknya Anda mengerti terlebih dahulu apa yang disebut sebagai obat palsu. Nyatanya, obat ini bisa sangat mirip dengan obat asli, tapi mempunyai kualitas yang tentu berbeda.

Menurut Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, obat palsu adalah obat yang dijual dengan memakai nama produk, tapi tidak mempunyai izin yang jelas. Ini bisa berlaku pada nama merek maupun produk generik, di mana identitas sumbernya disalahartikan dengan cara yang menunjukkan bahwa obat tersebut adalah produk yang disetujui secara asli.

Beberapa aspek yang dapat disebut sebagai obat palsu adalah:

  • Obat yang tidak mengandung bahan aktif
  • Obat dengan bahan aktif, tapi dalam jumlah yang rendah atau dalam jumlah yang sangat berlebihan
  • Obat dengan bahan aktif yang berbeda atau tidak semestinya
  • Obat dengan kemasan palsu

BACA JUGA: Benarkah Tidak Boleh Minum Obat Pakai Susu?

Bagaimana cara mengenali ciri obat palsu?

Secara diam-diam, ternyata banyak industri dalam skala besar dengan sengaja memproduksi obat palsu, tentu dengan tujuan untuk meraup keuntungan. Untuk memberantas hal ini, BPOM secara rutin melakukan pengawasan terhadap obat yang beredar di Indonesia. Walaupun BPOM sudah melakukan pengawasan untuk memberantas peredaran obat abal-abal ini, tapi Anda sebagai konsumen juga harus pintar dalam mengenalinya.

Berikut ini beberapa tips untuk mengenali obat palsu:

1. Pastikan Anda membeli obat di apotek, bukan di toko obat

Obat yang dijual di apotek lebih terjamin keasliannya. Walaupun obat yang Anda beli termasuk obat-obatan ringan untuk meredakan batuk pilek atau untuk menghilangkan pusing, tapi sebaiknya Anda tetap membelinya di apotek. Jangan sembarangan dalam membeli obat-obatan.

2. Perhatikan kemasan obat

Apakah kemasan obat sudah rusak? Apakah kemasan obat masih tersegel dengan baik dan tidak ada perubahan pada kemasan produk? Anda harus jeli sebelum memutuskan untuk membeli obat tersebut. Kadang, obat palsu dijual tanpa menggunakan kemasan dan tidak mencantumkan label. Sekecil apapun perubahan atau perbedaan pada kemasan obat, Anda harus mencurigainya. Ingat, obat palsu bisa sangat mirip dengan obat asli.

3. Periksa tanggal kedaluwarsa obat dan izin edar

Obat palsu biasanya mencantumkan tanggal kedaluwarsa yang dapat dibedakan dengan obat asli, misal cetakan tanggal kedaluwarsa sulit terbaca, tanggal kedaluwarsa hanya ditempel atau diganti dengan tulisan pulpen, atau bahkan tidak mencantumkan tanggal kedaluwarsa. Tanggal kedaluwarsa juga bisa saja dalam bentuk cap. Cap palsu ini dapat hilang tintanya dengan mudah jika diusap. Selain itu, periksa juga izin edar obat. Obat palsu biasanya juga tidak mempunyai izin edar. Bagaimanapun, obat palsu bisa mempunyai kecacatan dibandingkan dengan obat asli jika diperhatikan dengan seksama.

BACA JUGA: Jangan Membuang Obat Kedaluwarsa Sembarangan! Ini Cara yang Benar

4. Tablet mudah hancur

Seperti yang dikutip dari laman health.detik.com, menurut mantan Direktur Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga BPOM, Drs. Roland Hutapea, MSc., Apt., salah satu ciri obat palsu adalah tablet obat mudah dihancurkan. Biasanya para produsen obat palsu tidak mementingkan kualitas, sehingga obat dibuat sembarangan. Akibatnya, tablet obat rapuh dan mudah hancur. Kualitas obat ini di bawah standar dan kemungkinan besar palsu.

Jika Anda menemukan salah satu ciri dari obat palsu tersebut, sebaiknya urungkan niat Anda untuk membelinya dan segera laporkan hal ini ke Badan POM.

Saat membeli obat, sebaiknya ingat 5 hal ini:

  • Obat asli diproduksi oleh industri farmasi dengan alamat jelas
  • Mempunyai nomor izin edar
  • Mempunyai tanggal kedaluwarsa (expired date) yang jelas
  • Mempunyai nomor bets dan identitas produk lainnya
  • Diperoleh dari penjual obat resmi, seperti apotek, rumah sakit atau puskesmas, toko obat berizin untuk obat bebas atau bebas terbatas

Apa risiko mengonsumsi obat palsu?

Mengonsumsi obat palsu tentu memiliki risikonya sendiri. Kualitas obat yang tidak sama dengan obat asli atau mungkin obat sudah kedaluwarsa menyebabkan orang yang mengonsumsi obat palsu tersebut mengalami kerugian. Walaupun mungkin harganya lebih murah daripada obat asli, namun obat palsu dapat berdampak negatif pada kesehatan, seperti dilansir dari BPOM, yaitu:

  • Obat palsu dapat menyebabkan gangguan pada lambung, aliran darah, hati, dan ginjal. Selain itu, obat palsu juga dapat menyebabkan reaksi alergi pada obat, serta resistensi kuman.
  • Orang yang mengonsumsi obat palsu dapat membuat penyakitnya semakin parah dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

BACA JUGA: Serba-serbi Efek Plasebo (Obat Kosong)

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Obat Paling Ampuh untuk Menghilangkan Cacing Kremi

    Ada sejumlah pilihan obat cacing kremi yang bisa Anda coba, mulai dari obat kimia atau obat dari bahan alami. Baca selengkapnya dalam artikel ini.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Hidup Sehat, Tips Sehat 25 September 2020 . Waktu baca 5 menit

    Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

    Hati-hati jika punya riwayat penyakit ginjal kronis atau akut. Komplikasinya bisa merambat sampai otak, disebut dengan ensefalopati uremikum.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Urologi, Ginjal 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

    Kencing dengan posisi berdiri kerap dilakukan pria, tapi mereka yang mengidap gangguan saluran kemih justru dilarang. Apa alasannya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Urologi, Kandung Kemih 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

    Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

    Istilah 'dingin sampai menusuk tulang' bisa terjadi pada penderita rematik Nyeri sendi akibat rematik kambuh bisa disebabkan oleh cuaca, bagaimana bisa?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Tips Sehat 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    perut panas setelah makan; perut perih setelah makan; perut mulas

    Perut Panas dan Ulu Hati Sakit Setelah Makan? Begini Mengatasinya

    Ditulis oleh: Priscila Stevanni
    Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    cedera kaki pakai tongkat kruk

    Begini Cara Menggunakan Tongkat Kruk yang Benar Saat Sedang Cedera Kaki

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    psoriasis kuku

    Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Psoriasis pada Kuku

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit
    obat psoriasis alami

    Sederet Bahan Herbal yang Berpotensi Sebagai Obat untuk Psoriasis

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 9 menit