Obat Batuk Paling Manjur Berdasarkan Jenis Batuknya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto

Batuk menjadi gangguan kesehatan yang paling banyak dikonsultasikan ke dokter. Saat batuk tak sembuh-sembuh, obat batuk pasti menjadi pilihan Anda. Terdapat banyak jenis obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkan batuk. 

Namun, pilihan yang bervariasi bisa membuat Anda bingung memilih jenis obat batuk mana yang tepat untuk pengobatan Anda. Nah, oleh karena itu, kenali terlebih dahulu jenis batuk yang Anda alami.

Kenali jenis batuk untuk memilih obat yang tepat

jenis batuk

Bila Anda mengalami batuk kering dan langsung minum obat untuk batuk berdahak, maka obat ini tentu tidak cukup ampuh untuk meredakan gejalanya. Begitu pula saat Anda mengalami batuk berdahak dan malah mengonsumsi obat untuk batuk kering.

Coba perhatikan lagi gejala batuk yang Anda alami, lalu sesuaikan dengan jenis batuk berikut ini.

Batuk berdahak

Batuk berdahak dapat terjadi karena adanya lendir atau dahak yang menumpuk di saluran pernapasan bagian bawah, yaitu tenggorokan dan paru-paru. Akibatnya, batuk Anda terdengar bunyi grok-grok dan gatal di tenggorokan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh sejumlah penyakit termasuk alergi, flu, dan infeksi.

Batuk kering

Batuk kering adalah jenis batuk yang tidak menghasilkan lendir atau dahak. Hal ini biasanya terjadi akibat infeksi saluran pernapasan bagian atas (hidung dan tenggorokan) seperti pilek dan flu. Selain itu, batuk kering juga dapat disebabkan oleh alergi, asma, terkena asap atau debu secara terus menerus.

Jenis obat batuk mana yang harus saya pilih?

obat batuk berdahak

Batuk bisa ditangani secara mandiri dengan membeli obat OTC (Over The Counter), yaitu jenis obat yang dapat diperoleh tanpa menggunakan resep dokter. Biasanya obat tersebut dijual bebas di apotek atau supermarket di dekat rumah. 

Meski mudah diperoleh, bukan berarti Anda bisa sembarang minum obat yang dijual bebas. Alih-alih Anda bisa sembuh, gejalanya malah akan semakin parah jika salah mengonsumsi obat.

Merujuk artikel Pharmacology of Cough and Cold Medicine yang dirilis Journal of Pediatric Health Care berikut merupakan rekomendasi obat OTC apa saja yang aman dan juga manjur menyembuhkan batuk.

1.Dekongestan 

Sebagian besar obat batuk yang dijual secara bebas mengandung dekongestan dalam dosis yang berbeda-beda. Dekongestan sendiri sebenarnya juga berfungsi untuk meredakan flu atau hidung tersumbat. Maka dari itu, dekongestan cocok digunakan untuk jenis batuk yang disebabkan oleh virus flu dan alergi, yaitu batuk kering. 

Dekongestan sebaiknya tak dikonsumsi oleh anak-anak di bawah umur 12 tahun. Batas pemakaian aman dekongestan secara rutin adalah tidak lebih dari 5 hari. Dekongestan ada yang berbentuk spray, cairan, kapsul, dan sirup. 

2.Antihistamin

Pelepasan zat histamin yang dipicu dari munculnya alergi dapat mengakibatkan timbulnya batuk kering. Untuk dapat menyembuhkan batuk kering, diperlukan kandungan antihistamin pada obat batuk yang mampu mengurangi efek pelepasan zat histamin tersebut. 

Terdapat dua jenis antihistamin yang memiliki efek samping berbeda dalam penggunaannya. Antihistamin versi lama seperti chlorphenamine, hydroxyzine, dan promethazine bisa menimbulkan efek kantuk.

Sementara produksi terbaru dari antihistamin seperti loratadine, cetirizine, dan levocetirizine tidak terlalu memberikan efek kantuk yang signifikan.

3. Supresan 

Jika Anda mengalami batuk kering, pastikan obat batuk yang Anda pilih mengandung supresan atau antitusif . Jenis obat batuk supresan mengandung dextromethorphan yang mampu menahan refleks batuk sehingga frekuensinya jadi lebih berkurang. 

Meski dinyatakan aman penggunaannya oleh departemen kesehatan FDA (Food and Drug Association), tetap terdapat efek samping yang ditimbulkan saat mengonsumsi obat ini, di antaranya seperti rasa kantuk, kepala pening, dan perut kembung.

4. Ekspektoran

Ekspektoran sangat berguna saat Anda merasakan sesak nafas akibat dahak atau lendir yang memenuhi paru-paru. Ekspektoran akan mengencerkan dahak yang menebal sehingga Anda bisa merasa lebih lega. Maka dari itu, ekspektoran menjadi  jenis obat andalan untuk mengatasi batuk berdahak. 

Guaifenesin adalah kandungan ekspektoran yang berfungsi mengencerkan dahak yang menyelimuti paru-paru tersebut. Obat ini tersedia dalam bentuk sirup maupun tablet.

5. Obat batuk kombinasi

Jenis obat batuk kombinasi bisa Anda pakai saat Anda tidak hanya menderita batuk, tetapi juga pilek atau demam. Obat kombinasi biasanya mengandung lebih dari satu bahan aktif sehingga dapat Anda manfaatkan untuk mengobati gejala lainnya seperti pilek, hidung tersumbat, dan lainnya.

Biasanya obat kombinasi mencampur ekspektoran dan supresan dengan antihistamin, dekongestan, dan pereda nyeri. Antihistamin berfungsi untuk meredakan gatal di tenggorokan dan juga memiliki efek penenang. Sedangkan, dekongestan mampu meringankan hidung tersumbat.

Sebelum memilih obat kombinasi ini, sebaiknya baca dulu keterangan obat dan sesuaikan dengan gejala sakit Anda.

Jika yang Anda alami adalah batuk kering, sebaiknya tidak mememilih pengobatan kombinasi dengan ekspektoran dan dekongestan karena lebih ditujukan untuk meringankan batuk berdahak.

6. Obat batuk topikal

Untuk membantu meredakan gejala, Anda juga bisa menggunakan jenis obat batuk topikal. Obat ini digunakan dengan cara dioleskan ke tubuh atau dihirup secara langsung. Obat topikal ini biasanya juga digunakan untuk meringankan gejala lain seperti hidung tersumbat.

Kandungan obat ini biasanya adalah minyak kayu putih, champor, dan menthol yang memberikan efek hangat untuk menekan batuk. Obat ini biasanya berbentuk balsem atau vaporizer.

Bagi Anda yang memiliki alergi saluran pernafasan atau asma, Anda beresiko lebih sering terkena penyakit batuk. Maka dari itu, penting untuk menyimpan persedian obat OTC sebagai penangan pertama.

Obat yang diperoleh dari resep dokter

Obat batuk yang ampuh

Obat yang diberikan dokter mungkin memang lebih efektif dalam menyembuhkan batuk yang Anda derita. Pasalnya, pengobatan tersebut ditentukan setelah berhasil mendiagnosis jenis penyakit penyebab batuk melalui serangkaian pemeriksaan. 

Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan umum dengan menanyakan riwayat kesehatan dan macam-macam gejala yang dialami. Jika obat yang direkomendasikan tidak membuat kondisi Anda membaik, maka selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan lab, bronkoskopi atau rinoskopi, sehingga dapat memberikan resep obat yang lebih akurat. 

Di awal pemeriksaan, saat dokter belum dapat memastikan penyebab dari batuk tersebut, biasanya dokter akan memberikan cough suppressant  yang membantu mempercepat penyembuhan dari gejala-gejala batuk yang dialami. 

Seperti yang dilansir Mayo Clinic, dokter biasanya akan memberikan beberapa jenis obat berikut ini selama proses pemulihan penyakit batuk.

  • Antihistamin, korticosteroid, dan dekongestant: Dalam standar pengobatan batuk, dokter biasa memberikan ketiga obat ini untuk mengurangi gejala yang disebabkan oleh alergi dan postnasal drip. 
  • Korticosteroid dan bronchodilatorsDapat dengan efektif menghentikan batuk yang disebabkan oleh asma karena mereduksi inflamasi dan melegakan saluran pernafasan.
  • Antibiotik: Apabila diketahui bakteri sebagai penyebab dari batuk, dokter akan memberikan antibiotik untuk meredakan infeksi.
  • Acid blocker: Obat jenis ini akan diberikan saat hasil diagnosis memperlihatkan terdapat produksi asam yang tertahan di dalam tubuh yang mengiritasi tenggorokan.

Efek samping pemakaian obat perempuan berkacamata batuk

Faktor efek samping obat seringkali tidak dapat dihindarkan. Untuk memilih jenis obat batuk yang aman, Anda juga perlu mengetahui seberapa besar potensi efek samping yang ditimbulkan saat mengonsumsi obat tersebut. 

Efek samping yang umum muncul dalam pengobatan penyakit batuk di antaranya adalah mengantuk, tubuh menggigil, kepala pening, mual, diare, dan konstipasi. Kondisi ini biasanya diakibatkan kala mengonsumsi obat-obat OTC.

Apabila obat dikonsumsi oleh ibu hamil, efek samping yang ditimbulkan juga bisa menguat. Ibu hamil tidak bisa sembarangan meminum obat karena dapat memicu terjadinya penyakit jantung, asma, dan glaukoma.

Efek samping tersebut dapat memyebabkan janin terkena alergi, bahkan yang lebih parahnya dapat mengancam keselamatan jiwa baik ibu maupun janinya. 

Penggunaan obat OTC juga sebaiknya diberikan pada anak berusia di bawah dua tahun karena berpotensi menimbulkan efek candu. 

Perhatikan aturan pemakaian obat batuk

membeli obat di apotek

Bacalah aturan pemakaian obat dengan teliti sebelum mengonsumsinya. Aturan pakai tersebut biasanya tertera di bagian luar kemasan obat. Anda sebaiknya memahami dengan baik, Anda bisa menanyakannya pada apoteker yang berjaga. 

Apabila obat diperoleh dari resep dokter, pastikan Anda meminum sesuai dengan yang aturan yang dianjurkan. Menambah dosis penggunaan obat dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya.

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika pengobatan yang dilakukan tidak kunjung membaik.

Hindari menggunakan dua jenis obat batuk secara bersamaan selain yang dianjurkan oleh dokter. Obat mengandung zat toksik yang perlu disaring di dalam hati, maka saat semakin banyak mengonsumsi obat maka hati akan dua kali lipat bekerja lebih keras.

Oleh sebab itu, mengonsumsi dua obat sekaligus dapat meningkatkan risiko kerusakan hati dan overdosis obat.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 16, 2017 | Terakhir Diedit: April 2, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca