Saluran pencernaan manusia terdiri dari beberapa bagian, di mana bagian yang paling besar adalah usus besar (kolon). Usus besar merupakan tempat penyerapan nutrisi terakhir dan tempat pembentukan zat sisa sebelum dipindahkan ke bagian rektum lalu dibuang melalui anus. Kanker kolorektal merupakan salah penyakit paling serius yang dapat terjadi di bagian usus besar dan rektum.

Apa itu kanker kolorektal?

Kanker kolorektal adalah istilah untuk pertumbuhan kanker yang diawali dengan pertumbuhan sel abnormal (tumor) yang menyebar dan merusak sel di sekitarnya pada lapisan mukosa usus besar (kolon) dan rektum. Kanker kolorektal dapat berupa kanker kolon atau kanker rektum, bergantung pada tempat munculnya kanker pertama kali. Keduanya memiliki banyak kesamaan seperti proses pertumbuhan dan bentuk kanker.

Seberapa umumkah kanker kolorektal?

Pada umumnya laki-laki dan perempuan tidak memiliki risiko yang jauh berbeda. Namun di Indonesia, kasus kanker kolorektal lebih banyak dialami oleh laki-laki dibandingkan perempuan dengan estimasi prevalensi 19,1 per 100.000 penduduk dibandingkan dengan 15,6 per 100.000 penduduk untuk wanita. Seperti penyakit kanker pada umumnya, kanker kolorektal banyak dialami oleh individu dengan usia lanjut.

Tanda-tanda dan gejala kanker kolorektal

Pada awal terjadinya tumor dan saat fase perubahan menjadi sel kanker, biasanya tidak ditemukan gejala pada penderita. Gejala kanker kolorektal akan muncul setelah kanker menyebar dan menimbulkan kerusakan pada tubuh. Beberapa gejala yang mungkin dialami penderita adalah:

  • Perubahan aktivitas sistem pencernaan yang disertai dengan diare, sembelit, atau jumlah feses yang dikeluarkan terlalu sedikit dan berlangsung beberapa hari.
  • Perut terasa masih sakit setelah buang air besar.
  • Keluar darah dari anus, tinja berwarna gelap, atau ditemukannya darah pada tinja.
  • Sering mengalami nyeri ataupun kram perut.
  • Penurunan berat badan secara tiba-tiba.
  • Mengalami anemia karena penurunan jumlah sel darah.

Gejala-gejala ini sering muncul karena dipicu faktor gangguan lain yang dialami penderita kanker kolorektal. Tetapi jika Anda mengalami gejala ini, segera konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kemunculan dan persebaran kanker kolorektal

Sebagian besar kanker kolorektal diawali dengan pertumbuhan benjolan kecil (polip) pada bagian dalam usus besar atau rektum. Sebagian besar polip tidak berkembang menjadi kanker, hanya jenis tertentu saja yang dapat menjadi kanker, yaitu adenomatous polyp, hyperplastic poly,p dan inflammatory polyp. Sebanyak 95% sel kanker kolorektal berasal dari adenomatous polyp dan berkembang menjadi adenokarsinoma.

Sel kanker pada bagian kolon dan rektum tumbuh pada lapisan organ yang paling dalam (mukosa) dan terus tumbuh mempengaruhi semua lapisan. Jika sel kanker sudah tumbuh mencapai pembuluh darah organ, maka sel kanker dengan mudah menyebar (metastasis) dan merusak pertahan tubuh sekitar dengan menyerang nodus limfa atau hingga organ tubuh yang lebih jauh. Perkembangan kanker kolorektal dapat dinilai berdasarkan pertumbuhan tumor pada lapisan dinding usus besar atau rektum penderita, penyebaran sel kanker untuk mengenai nodus limfa di sekitar sel kanker, dan seberapa jauh penyebaran sel kanker  di dalam organ tubuh. Biasanya sel kanker kolorektal dapat menyebar hingga liver dan paru-paru.

Faktor risiko yang menyebabkan terjadinya kanker kolorektal

Penyebab utama dari kanker kolorektal belum diketahui secara pasti, namun terdapat beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami pertumbuhan sel kanker kolorektal baik yang dapat diubah maupun tidak dapat diubah.

Faktor yang dapat diubah

Terdapat beberapa penyebab terjadinya kanker kolorektal yang dipengaruhi oleh gaya hidup, di antaranya:

  1. Kelebihan berat badankegemukan dapat meningkatkan risiko pertumbuhan sel kanker dan meningkatkan risiko kematian karena kanker. Risiko terkena kanker karena kegemukan lebih besar ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan.
  2. Kurang aktivitas fisik – orang yang kurang aktivitas fisik akan lebih mudah terkena penyakit kanker, termasuk kanker kolorektal.
  3. Pola makan – diketahui pola konsumsi tinggi daging merah dan daging olahan dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal. Selain itu, memasak daging dengan temperatur tinggi menyebabkan peningkatan suatu senyawa kimia yang memicu terjadinya kanker di usus. Sedangkan pola makan sehat dengan mengonsumsi sayur, buah, dan gandum utuh diketahui mengurangi risiko penyakit kanker.
  4. Merokok – perilaku merokok sudah dikenal sebagai faktor risiko berbagai kanker termasuk kanker kolorektal. Semakin lama merokok maka semakin besar risiko terkena kanker kolorektal.
  5. Minuman beralkohol – konsumsi segala jenis minuman beralkohol terlalu banyak akan meningkatkan risiko terkena kanker kolorektal. Pembatasan hingga pengurangan konsumsi minuman alkohol akan menurunkan risiko kanker kolorektal.

Penyebab yang tidak dapat diubah

Terdapat beberapa faktor risiko yang tidak dapat diperbaiki untuk mengurangi risiko terkena kanker kolorektal, yaitu:

  1. Usia lanjut – berusia di atas 50 tahun akan meningkatkan risiko terkena kanker. Kanker membutuhkan waktu untuk berkembang dari sel yang abnormal, sehingga individu akan terdiagnosis mengalami kanker pada usia lanjut.
  2. Riwayat menderita polip atau kanker kolorektal – seseorang yang sudah dinyatakan sembuh dari kanker kolorektal atau polip dapat mengalami tumbuhnya sel kanker baru di dalam usus. Risiko ini akan lebih besar jika seseorang sudah terkena kanker kolorektal saat usia muda.
  3. Pernah mengalami inflammatory bowel disease (IBD) alias penyakit radang usus– hal ini merupakan kondisi inflamasi pada usus besar yang berlangsung sejak lama. Dinding usus penderita IBD mengalami munculnya sel abnormal yang dapat dilihat dengan mikroskop (dysplasia). Jika anda pernah terdiagnosis IBD, lakukanlah skrining kanker kolorektal secara rutin. IBD berbeda dengan inflammatory bowel syndrome (IBS) yang tidak meningkatkan risiko kanker kolorektal.
  4. Riwayat keluarga dengan kanker kolorektal dan familial adenomatous polyps – risiko terkena kanker kolorektal akan lebih tinggi jika terdapat salah satu dari orangtua, saudara sedarah, atau anak yang menderita kanker kolorektal. Risiko yang dimiliki seseorang akan lebih tinggi jika salah satu anggota keluarga pernah mengalami kanker kolorektal di bawah usia 45 tahun. Kondisi kanker dapat diturunkan di dalam salah satu keluarga karena faktor genetik atau terpengaruh faktor lingkungan atau interaksi antar keduanya. Meskipun sebagian besar penderita tidak memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ini, namun dengan adanya riwayat keluarga akan meningkatkan risiko sebesar 20% terkena kanker kolorektal. Sama halnya dengan riwayat keluarga yang pernah mengalami tumbuhnya polip yang berpotensi kanker, adenomatous polyps. Jika ada anggota keluarga yang mengalaminya, lakukanlah deteksi kanker kolorektal secara rutin.
  5. Mengalami diabetes tipe 2 – seseorang yang memiliki diabetes tipe 2 memiliki risiko terkena kanker kolorektal lebih tinggi. Baik diabetes atau kanker kolorektal banyak memiliki kesamaan faktor risiko seperti obesitas. Meskipun tidak memiliki faktor risiko lainnya, seseorang dengan diabetes memiliki risiko kanker kolorektal yang lebih tinggi.

BACA JUGA:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca