Apa yang Harus Dilakukan Saat Keracunan Makanan?

Oleh

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, kasus keracunan makanan kerap kita temui. Keracunan makanan adalah suatu kondisi gangguan pencernaan yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi zat patogen dan/atau bahan kimia. Selain itu, zat racun bisa juga masuk ke tubuh kita lewat inhalasi (dihirup) atau melalui kontak kulit.

Timbulnya keracunan tergantung pada jumlah zat dan caranya masuk ke dalam tubuh. Gejala klinis yang timbul sesuai dengan pengaruh zat racun yang merusak. Umumnya pada penyakit akibat keracunan makanan, gejala-gejala terjadi tak lama setelah menelan bahan peracun tersebut, bahkan dapat segera setelah menelan bahan beracun itu dan kurang dari 24 jam setelah tertelannya racun.

Jenis-jenis keracunan makanan

Ada beberapa istilah yang harus dibedakan dalam kasus keracunan makanan. Hal ini membantu kita dalam menentukan penyebab keracunan sehingga dapat diobati dengan segera. Istilah tersebut adalah:

1. Foodborne infections

Terjadi bila kuman terkonsumsi dan kemudian menetap di dalam tubuh. Biasanya, kuman akan memperbanyak diri di dalam saluran cerna sambil mengiritasi dinding saluran cerna, bahkan terkadang merusak jaringan. Contoh kuman golongan tersebut adalah Listeria, Salmonella, dan Campylobacter.

2. Foodborne toxicoinfections

Terjadi jika kuman yang terkonsumsi mampu menghasilkan racun sambil bereproduksi di dalam saluran cerna. Artinya, bukan hanya kuman yang membahayakan, melainkan racun yang dihasilkannya.  

3. Foodborne intoxications

Terjadi akibat mengonsumsi makanan yang telah mengandung racun. Racun ini terlepas selama pertumbuhan bakteri (enterotoksin). Penyakit yang dilatarbelakangi oleh toksin ini biasanya cepat menimbulkan gejala. Contohnya konsumsi makanan laut mentah dapat dicurigai telah mengandung Norwalk-like virus, Vibrio spp, atau hepatitis A.

Gejala-gejala keracunan makanan

1. Perut kram

Menurut ilmuwan dari University of Maryland Medical Center, gejala perut kram ini dapat dirasakan setelah mengonsumsi makanan kurang lebih dalam waktu 12-72 jam. Gejala ini menunjukkan bahwa ada elektrolit yang hilang dengan jumlah yang cukup banyak. Jika efek dari racun tersebut tidak terlalu berbahaya, biasanya gejala ini akan hilang sendiri dalam waktu 4-7 hari. Namun, jika gejala semakin berat, segera bawa pasien ke layanan medis, karena kehilangan elektrolit dapat sangat membahayakan.  

2. Muntah dan diare

Muntah dan diare merupakan usaha tubuh untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Biasanya saat diare akan diiringi keluarnya lendir dan darah bersamaan dengan keluarnya kotoran. Diare dan muntah yang berlebihan dapat membuang nutrisi sehingga tubuh menjadi lemas. Bila hal ini berlangsung terus-menerus, pasien dapat jatuh ke keadaan dehidrasi.

3. Dehidrasi

Dehidrasi disebabkan kekurangan cairan tubuh dan elektrolit. Dehidrasi adalah gejala lanjutan dari muntah dan diare. Apabila terlalu parah, perlu diberikan cairan pengganti langsung seperti infus. Tanda-tanda dehidrasi adalah denyut nadi yang cepat, tekanan darah turun, mulut kering, mata cekung, dan jumlah air seni yang berkurang. Selain itu, pasien juga malas untuk minum.

4. Gejala lainnya

Tergantung dari racun yang masuk ke tubuh. Biasanya gejala lain berupa demam, sesak napas, sakit otot, lemah dan lelah tanpa alasan jelas, nyeri kepala hebat, sampai pingsan dan koma.

Cara menangani keracunan makanan

Cara mengatasi keracunan makanan harus disesuaikan oleh penyebab keracunan, karena beda kuman, beda pula cara pengobatannya. Namun, ada prinsip umum yang dapat Anda lakukan di rumah sebelum pasien mendapat pertolongan medis. Hal sederhana yang Anda lakukan akan sangat membantu para dokter untuk meminimalisir dampak dari keracunan makanan, bahkan mampu menyelamatkan nyawa pasien. Berikut hal yang dapat Anda lakukan:

  1. Awasi keadaan pasien. Usahakan pasien tetap dalam keadaan sadar. Longgarkan pakaian pasien agar lebih nyaman.
  2. Sebisa mungkin buat pasien muntah dengan rangsang mekanik (menekan reflek muntah di tenggorokan), atau pemberian air garam. Hal ini untuk mengeluarkan racun yang belum mencapai lambung. Namun, jangan lakukan hal ini pada pasien pingsan atau sedang kejang karena dapat menyebabkan aspirasi.
  3. Miringkan kepala pasien, untuk memudahkan aliran muntah.
  4. Jangan berikan obat anti muntah sebab muntah merupakan mekanisme pengeluaran benda asing yang ada di tubuh. Obat anti muntah hanya jika pasien dehidrasi parah.
  5. Bila pasien sadar dan dapat minum, berikan susu atau air kelapa.
  6. Berikan obat golongan absorben (misalnya, kaopectate, aluminium hidroksida) yang berguna menyerap racun yang ada di dalam usus. Jangan menghentikan diarenya kecuali jika pasien dalam keadaan dehidrasi parah.
  7. Beri cairan yang mengandung garam dan gula (oralit). Bila terdapat tanda-tanda dehidrasi, segera bawa pasien ke pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan infus.
  8. Ingat-ingat makanan terakhir yang dikonsumsi pasien sebelum timbulnya gejala. Selain itu, kita dapat menebak penyebab keracunan dari bau khas yang keluar dari mulut pasien. Laporkan hal tersebut pada dokter yang menangani.

BACA JUGA:

Share now :

Direview tanggal: September 3, 2016 | Terakhir Diedit: September 5, 2017

Sumber
Yang juga perlu Anda baca