Apakah Ini Waktu yang Tepat untuk Bercerai dengan Pasangan?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto

Ketika tak ada jalan keluar atas permasalahan rumah tangga, mungkin Anda bertanya-tanya, inikah waktu yang tepat untuk bercerai? Hidup dalam pernikahan ibarat roller coaster. Ada hal yang memenuhi ekspektasi bersama, tetapi adapun yang ternyata tak sesuai harapan.

Ada pasangan yang dapat mencari jalan keluar. Namun, ada pula yang sudah mencari solusi, yang akhirnya berujung pada pertengkaran.

Hentikan diri sejenak, cobalah tarik napas dan berpikir ulang. Apakah benar ini waktu yang tepat untuk bercerai dari pasangan terkasih?

Memahami kondisi sebelum mengatakan ini waktu yang tepat untuk bercerai

Berdiskusi dengan pasangan untuk mencari solusi untuk memperbaiki hubungan ke depan sangat penting. Meskipun dilanda persoalan, pasangan dapat saling menguatkan satu sama lain. 

Mungkin ada kalanya dalam posisi masing-masing, mereka mengunci diri dalam pikiran sendiri. Ada rasa takut untuk berkomunikasi secara terbuka di dalam diri masing-masing.

Ada beberapa faktor persoalan rumah tangga yang mungkin menjadi alasan Anda untuk berpikir inilah waktu yang tepat untuk bercerai. Berikut tanda-tandanya:

1. Tidak ada resolusi konflik

pasangan diam saat marah

Komunikasi yang kurang terjaga menjadi suatu hal yang rapuh dalam pernikahan. Pasangan yang tidak mengambil inisiatif untuk mencari solusi, cenderung berdampak pada rusaknya hubungan.

Ketika keduanya putus asa dan ada pikiran yang timbul bahwa tidak ada gunanya lagi menyelesaikan konflik, maka bisa jadi itu pertanda tidak ada lagi kecocokan. Hilangnya komunikasi membuat jarak pasangan semakin menjauh secara bertahap. Ketika hal ini terjadi, bisa jadi ada pikiran inikah waktu yang tepat untuk bercerai?

2. Tidak ada keterlibatan emosional

Pasangan sedang marah-marah

Pada awal hubungan, pasangan menjalin ikatan emosional satu sama lain. Seiring berjalannya waktu, komunikasi mungkin tak berjalan seindah dulu. Tak ada lagi diskusi untuk bertukar rasa satu sama lain.

Ketika segalanya menjadi hambar, rasanya hubungan tak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Sementara, emosi dan komunikasi merupakan elemen penting dalam merawat hubungan rumah tangga. Di sinilah perasaan ingin bercerai bisa jadi muncul.

3. Tidak ada ketertarikan seks

dampak memendam amarah pada seks

Seks adalah kunci menjaga kemesraan pasangan suami istri. Kemesraan yang terjalin memperkuat hubungan emosional. Hal ini merupakan salah satu indikator yang diandalkan dalam memupuk rasa cinta. 

Ketika hubungan terasa hambar dan ketertarikan seks tak lagi sekuat dulu, kekuatan emosional semakin terkikis. Wajar adanya, bila Anda pada titik ini mulai bertanya mengenai waktu yang tepat untuk bercerai dengan pasangan.

4. Fokus lain di luar pernikahan

pertengkaran menjelang pernikahan

Ada pasangan yang melimpahkan fokusnya dalam merawat anak-anak, sebagai hal utama yang diprioritaskan dalam hidupnya. Sayangnya, yang lain mencurahkan tenaganya dalam berkarier sehingga tak ada lagi kekuatan emosional dalam pernikahan.

Ketika tak ada lagi kepuasan emosional dalam pernikahan, meningkatkan kemungkinan terjadinya perselingkuhan. Ketika hal ini sudah terjadi, tentu Anda berpikir apakah ini waktu yang tepat untuk bercerai.

5. Perubahan untuk perpisahan

pasangan suka menuntut

Mungkin saja Anda menemui pasangan bersikap berbeda dari biasanya. Misalnya, merawat diri, menurunkan berat badan, memerhatikan pakaian, ataupun rambut. Hal-hal yang semacamnya belum pernah ia lakukan selama pernikahan.

Menjaga penampilan diri menjadi salah satu tanda bahwa ia membuka diri untuk mencari hati yang lain. Hal ini umum ketika kombinasi faktor kurangnya komunikasi dan emosi sudah lama berlangsung. Jika pada waktunya, mungkin sebagian pasangan telah memantapkan hati untuk mencari pasangan lain dan ini mungkin waktu yang tepat untuk bercerai.

Ketika segala faktor sudah terjadi, apakah ini waktu yang tepat untuk bercerai?

konseling psikologi

Segala persoalan sebetulnya memiliki jalan keluarnya masing-masing. Tak ada pernikahan yang benar-benar hancur, melainkan hanya berada di titik kritis. Jalan terbaik nan sederhana adalah membuka komunikasi dan jujur terhadap pasangan. Berbicara tanpa menuduh dan menyalahkan pasangan. 

BIla dirasa tidak ada solusi, Anda dan pasangan bisa membicarakannya kepada konselor pernikahan. Di sana konselor membantu membuka jalan komunikasi yang selama ini terhalang. Mungkin saja jika Anda dan pasangan sudah bulat bercerai, konselor akan memberikan saran-saran untuk tetap menguatkan anak-anak, sebagai jalan perceraian yang baik.

Jika Anda dan pasangan telah menemupuh segala cara tetapi persoalan tak ada penyelesaian, mungkin saja ini waktu yang tepat untuk bercerai. Bila kedua belah pihak memang sudah sepakat untuk melakukan keputusan besar ini, ingatlah bahwa untuk selalu menguatkan diri.

Menghadapi perceraian bukanlah hal yang mudah. Anda perlu mengurangi stres di dalam diri. Rencanakanlah hal yang akan menjadi petualangan Anda selanjutnya untuk kembali melanjutkan kehidupan.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 11, 2020 | Terakhir Diedit: Desember 11, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca