Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan untuk Mengatasi Patah Hati?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/04/2020
Bagikan sekarang

Patah hati adalah hal yang kompleks. Ada harapan yang pupus, ada hati yang sakit, atau ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Itu alasan mengatasi patah hati bukan hal sepele.

Anda pasti ribuan kali mendengar “waktu mengobati semua luka”. Apakah itu hanya sebuah mantra atau memang waktu berperan penting dalam penyembuhan luka?

Patah hati adalah cedera psikologis yang kompleks. Sakitnya adalah kumpulan dari rasa kehilangan dan duka. Ia bisa memengaruhi kesehatan tubuh dalam banyak hal.

“Insomnia, terganggungnya pikiran, terganggunya sistem kekebalan tubuh, dan 40 persennya mengalami depresi klinis,” kaya Guy Winch, seorang psikolog Amerika, dalam sebuah sesi pidato di TED talks berjudul How to Fix a Broken Heart.

Winch menekankan, itulah mengapa menyembuhkan patah hati bukan soal waktu, juga bukan sebuah perjalanan. “Mengatasi patah hati adalah tentang perjuangan,” tutur Winch.

Kondisi patah hati dan cara mengatasi rasa sakitnya

mengatasi patah hati

Bagi sebagian orang, patah hati terasa seperti dunia akan berakhir. Menangis, tidak nafsu makan, tidak bisa tidur, bertanya-tanya apakah bisa melanjutkan hidup tanpanya.

Pengalaman patah hati seseorang cenderung dianggap sederhana. Tidak jarang kita mendengar perkataan “jangan lebay, cari yang lain aja”. Padahal, ukuran berduka setiap orang patah hati itu berbeda-beda, membuat cara mengatasi dan berdamainya pun berbeda.

Psikolog asal Amerika Jenna Palumbo mengatakan kesedihan tentang patah hati yang rumit.

“Putus cinta, kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, berganti karier, kehilangan teman dekat, semua ini bisa membuat Anda patah hati dan merasa dunia Anda tidak akan pernah sama lagi,” jelas Jenna.

Ia menambahkan, bahkan patah hati akibat putus hubungan dengan kekasih bisa lebih rumit.

Patah hati adalah cedera psikologis kompleks dan berdampak pada kesehatan fisik

mengatasi patah hati

Guy Winch membuat beberapa poin dari rumitnya proses berduka orang patah hati. Pertama, hubungan telah berakhir tapi otak menolak untuk mengakuinya seperti mendambakan suaranya, membaca pesan-pesan lama, dan melihat foto-foto saat bahagia.

Menurut Winch, otak memproses keinginan untuk melihat memori manis tersebut sama dengan ketertarikan pecandu narkoba pada obat terlarangnya. Kecanduan tersebut membuat lebih lama untuk mengatasi patah hati.

“Saat pecandu harus melawan keinginan untuk mengonsumsi narkoba, mereka yang patah hati harus berusaha untuk berpikir rasional,” kata Winch.

Kedua, pemahaman tentang alasan hubungan itu berakhir sangat penting dalam membangun kemampuan move on. Masalahnya, sering kali penjelasan sederhana tentang mengapa pasangan memilih putus tidak diterima oleh otak. 

“Patah hati itu membuat rasa sakit terkesan dramatis sehingga otak menuntut alasan yang sama dramatisnya,” jelas Winch.

Ketiga, saat patah hati tubuh mengeluarkan zat kortisol atau hormon stres yang juga bisa mempengaruhi kesehatan fisik.

Mengganggu sistem kekebalan tubuh, sesak pada dada, sakit perut, dan lemas seperti tidak bertenaga adalah beberapa gejala yang bisa timbul.

Berapa lama mengatasi patah hati dan kapan harus konsultasi dengan profesional?

agar tidak patah hati

Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Positive Psychology, 71 persen orang dewasa muda membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk mengatasi patah hati. Itu setidaknya untuk melihat aspek-aspek positif dari perpisahan mereka.

Hanya saja, angka tersebut hanya rata-rata dari total 115 orang sampel dalam penelitian tersebut. Peneliti menekankan bahwa setiap orang memiliki kecepatan dan cara berbeda dalam proses menyembuhkan hati.

Berikut beberapa hal yang mungkin dapat berguna sebagai obat untuk mengatasi patah hati.

Mengatasi patah hati dengan memberi diri Anda izin untuk bersedih

Hal terbaik yang dapat Anda lakukan untuk diri sendiri adalah memberi izin untuk merasakan semua kesedihan, kemarahan, kesepian, dan rasa bersalah. Winch menekankan langkah pertama dalam memperbaiki masalah adalah memahami bahwa itu normal.

“Cemburu, sedih, marah, adalah hal-hal kecil yang timbul karena kehancuran yang sedang terjadi. Berikan diri Anda waktu untuk memahami bahwa itu respons alami tubuh yang timbul hanya sementara dan tidak permanen,” tutur Winch.

Pahami alasan hubungan berakhir

Dengan memahami mengapa hubungan itu berakhir akan menghilangkan pemikiran adanya harapan untuk rujuk. Harapan palsu akan menghambat proses penyembuhan.

Jika tidak bisa menerima alasan yang diberikan, Winch menyarankan untuk membuat sendiri alasan tersebut. Apa pun itu alasan paling masuk akal yang bisa Anda terima.

Biarkan teman terdekat tahu apa yang Anda alami

Salah satu cara untuk membuat hati terasa lega adalah dengan berbagi perasaan pada orang lain, terutama bersama mereka yang pernah berada dalam situasi yang sama. Perasaan lega akan memberikan jalan untuk mengatasi patah hati.

Dalam hal ini, Winch memberi masukan pada teman yang dipilih untuk mendengarkan curhatan sahabatnya yang sedang berduka. Jadilah telinga yang baik dan dengarkan semua curahan hatinya. Jangan beri ceramah sebelum dia selesai menumpahkan kesedihannya. 

Cari bantuan profesional, psikolog atau psikiater

Penting untuk meluapkan kesedihan dengan bercerita pada orang lain, tapi itu bukan hal mudah. Jika Anda merasa tidak sanggup lagi menahan rasa sedih, jangan ragu untuk mencari dukungan dari profesional.

Profesional kesehatan mental bisa membantu Anda mengatasi emosi menyakitkan tersebut. Apalagi jika rasa sakit itu telah mengganggu nafsu makan dan waktu tidur dengan kadar yang tidak normal.

Sangat wajar membandingkan diri Anda dengan orang lain, tapi mengatasi patah hati dan melalui masa duka bukanlah kompetisi siapa yang lebih cepat move on. Kesedihan setiap orang tidak sama dan kesembuhannya tidak bisa dijadwalkan. 

“Berikan diri Anda semua ruang dan waktu yang dibutuhkan untuk sembuh,” ujar Jenna Palumbo.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sering Disebut Pelampiasan, Apakah Hubungan Rebound Bisa Bertahan Lama?

Hubungan rebound adalah hubungan yang Anda jalani tepat setelah putus dari mantan. Nah, apakah hubungan rebound yang Anda jalani bisa bertahan lama?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari

Penyebab Kencan Online Selama Pandemi Begitu Diminati

Siapa sangka kini pertemuan tatap muka dikalahkan oleh fenomena kencan online selama pandemi COVID-19 berlangsung? Apa yang membuat hal ini terjadi?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 06/05/2020

5 Alasan Seseorang Memiliki Ketertarikan Fisik pada Orang Lain

Banyak tips untuk meningkatkan ketertarikan pasangan pada penampilan fisik. Namun, apa sebetulnya yang membuat seseorang tertarik pada pasangannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Seks & Asmara 05/05/2020

Begini Cara Mengatasi Stres Karena PHK Akibat dari Pandemi COVID-19

Imbas dari COVID-19 membuat sebagian pekerja diberhentikan dari pekerjaannya dan merasa stres. Yuk, kenali cara mengatasi stres karena PHK di sini.

Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 04/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

diagnosis hiv

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020
hubungan poliamori

Mengenal Hubungan Poliamori, Saat Cinta Anda Tak Hanya untuk Satu Orang

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rena Widyawinata
Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020
Bunuh diri covid-19

Kasus Bunuh Diri Selama Pandemi dan Cara Mencegahnya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 11/05/2020
Manfaat psikologis puasa

Tidak Hanya untuk Fisik, Puasa Juga Memiliki Manfaat Psikologis

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 10/05/2020