Apakah Petting (Gesek-Gesek Kelamin) Bisa Menularkan HIV, Meski Sama-Sama Pakai Baju?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 10 Januari 2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Anda mungkin sudah tahu dan paham benar bahwa HIV menular lewat hubungan seks tanpa kondom. Entah itu seks vaginal, seks oral, atau pun seks anal. Asalkan salah satu pihak terbukti positif HIV dan satunya memiliki luka terbuka di kulit maupun dalam mulutnya, virus HIV bisa berpindah dengan mudah lewat cairan tubuh. Nah yang masih sering jadi pertanyaan, apakah dry humping alias petting yang dilakukan dengan saling bercumbu menggesekkan alat kelamin dalam kondisi masih berpakaian juga bisa menularkan HIV? 

Seberapa besar risiko HIV menular lewat dry humping?

Dry humping adalah aktivitas bercumbu yang dilakukan dengan cara menggesek-gesekkan alat kelamin satu sama lain. Cara ini biasa dijadikan alternatif buat pasangan mencapai klimaks tanpa harus buka baju.

Virus HIV paling banyak ditemukan dalam cairan ejakulasi atau cairan vagina. Nah karena aktivitas seksual ini sama sekali tidak melibatkan masuknya penis ke vagina, lubang anus, atau mulut maka sebetulnya sangat minim berisiko mengoper virus HIV dari satu orang ke orang lain.

Terlebih, Anda dan pasangan seks Anda masih sama-sama pakai baju. Sangat kecil kemungkinannya bagi virus HIV menembus bahan pakaian dan kemudian berenang masuk ke dalam tubuh. Semakin banyak dan tebal lapisan pakaian Anda, semakin mustahil buat virus menerobos masuk hingga sampai ke lapisan kulit.

Ketika air mani yang membasahi kain pada akhirnya mengering pun, kemungkinan besar virus akan ikut perlahan mati karena terpapar udara luar. Virus HIV tak bisa bertahan lebih dari 24 jam jika menempel pada permukaan yang berpori-pori seprrti baju atau kain.

Tunggu dulu!

Meski kecil peluangnya, bukan mustahil dry humping bisa menularkan HIV. Pada kasus yang langka, ada risiko HIV menular setelah Anda berdua asyik menggesek-gesekkan kelamin demi mencapai klimaks meski masih berpakaian lengkap.

Ejakulasi di luar saat masih pakai baju tidak lantas menangkal atau menghentikan risiko penyebaran penyakit. Kenapa? Tetap ada kemungkinan cairan mani yang terinfeksi masih dalam keadaan sangat basah sehingga sebagian besarnya dapat merembes kemudian menetes dan mengalir masuk ke dalam vagina.

Begitu juga sebaliknya. Cairan vagina yang masih dalam keadaan lembap, apalagi dalam jumlah yang banyak, masih bisa menetes dan mengalir masuk ke area selangkangan atau bokong pria. Terlebih jika Anda berdua hanya sebatas sama-sama pakai baju dalam yang bahannya jauh lebih tipis daripada pakaian luar, seperti celana jeans.

Ada risiko HIV menular lewat jalur lain

Dry humping tidak semata terbatas pada kegiatan saling menggesek. Meski tetap berpakaian lengkap, Anda berdua juga mungkin saja terus meraba, berciuman, menggigit, membuat cupang, atau bahkan tanpa sadar “main jari” ke dalam vagina selama bercumbu. Betul, bukan?

Nah, macam-macam kegiatan ekstra inilah yang dapat memperbesar peluang Anda tertular HIV dari pasangan yang positif jika tidak hati-hati. Sebab selain di air mani atau cairan vagina, virus HIV aktif juga terdapat dalam darah dan air liur.

Jika Anda ternyata punya sariawan terbuka di bibir atau gusi, luka tersebut bisa jadi gerbang masuknya virus lewat pertukaran ludah saat Anda berdua sibuk silat lidah. Anda juga bisa kedapatan virus HIV dari si pasangan apabila ia menggigit payudara, lidah, bibir, atau bagian mana pun kulit Anda sampai berdarah.

Skenario lainnya adalah tangan yang jadi lengket akibat menyentuh air mani atau cairan vagina yang masih basah. Jika tangan dan jari tersebut langsung menyentuh bukaan vagina, penis, atau bagian kulit lainnya di tubuh yang memiliki luka terbuka tanpa jeda waktu, hal ini dapat meningkatkan risiko penularan HIV.

Maka dari itu, sebaiknya selalu antisipasi segala kemungkinan dengan memelajari dan menerapkan prinsip berhubungan seks aman. Jangan lupa juga untuk selalu siap sedia kondom ketika ingin bermesraan dengan pasangan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Alergi Paracetamol

Paracetamol sering diresepkan untuk merdakan demam dan nyeri. Tapi tahukah Anda bahwa ada orang yang alergi obat paracetamol?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Hati-Hati Minum Obat, Barangkali Anda Memiliki Alergi Terhadap Antibiotik

Selain makanan dan debu, ada pemicu reaksi alergi lain yaitu golongan obat antibiotik. Cari tahu penjelasan lengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Cara Mengatasi Alergi Obat yang Tepat dan Perawatannya

Jangan biarkan alergi mengganggu aktivitas harian Anda. Ketahui cara cepat mengatasi alergi obat yang kambuh sekaligus perawatan kondisinya di rumah.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Meski “Wangi”, Hobi Menghirup Aroma Spidol Bisa Membahayakan Kesehatan

Aroma menyengat spidol mungkin menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang. Padahal, kebiasaan mencium spidol menyimpan segudang bahaya untuk tubuh.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kencing berdiri

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit
rematik kambuh akibat cuaca Etoricoxib obat

Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit
terapi urine minum air kencing

Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit
efek samping paracetamol ibuprofen

Benarkah Terlalu Sering Minum Paracetamol Sebabkan Gangguan Pendengaran?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit