Kapan Waktu Terbaik dan Terburuk untuk Membuat Keputusan?

Oleh

Misalnya Anda akan membuat sebuah pilihan sulit. Satu keputusan yang bisa berdampak besar pada kehidupan Anda. Setiap kali Anda berpikir Anda sudah menetapkan keputusan, pilihan lain mengombang-ambingkan kemantapan hati Anda. Anda kembali lagi ke awal: A atau B, ya?

Haruskah Anda membuat daftar pro-kontra yang lebih mendetail, atau mencari nasihat dan petuah dari orang-orang yang lebih terpercaya? Atau, haruskah Anda mempercayai insting Anda?

Banyak orang akan menyarankan jalan keluar yang terakhir: percaya saja apa kata hatimu! “Lakukan apa yang menurutmu benar,” ujar mereka, karena setidaknya jika ternyata keputusan itu berujung pada masalah besar, Anda tidak bisa menyalahkan ‘saran’ mereka.

Jadi, harus bagaimana?

Dikutip dari The Atlantic, menurut penelitian dari Jennifer Lerner, seorang profesor kebijakan publik dan manajemen di Harvard, pengambilan keputusan besar yang didasari oleh insting mungkin adalah cara yang paling keliru. Insting, atau “kata hati”, kurang lebih mencerminkan perasaan Anda, yang mungkin dapat mengemudikan Anda ke jalan yang salah.

Jangan membuat keputusan saat marah

Jika rasa takut menimbulkan ketidakpastian, kemarahan justru menanamkan kepercayaan diri. Orang yang sedang marah lebih cenderung menyalahkan individu lain, bukannya “masyarakat” atau nasib. Kemarahan membuat orang lebih mungkin untuk nekat mengambil risiko tanpa memedulikan bahaya dari risiko tersebut. Orang yang sedang marah juga lebih mengandalkan stereotip dan lebih termotivasi untuk bertindak cepat. Kemarahan adalah emosi yang menggerakkan.

Impuls ini adalah bagian dari evolusi adaptif, kata Lerner. “Manusia berkembang di zaman perburuan ratusan ribu tahun silam,” ujar Lerner. “Jika seseorang mencuri daging hasil buruan Anda, Anda tentunya tidak akan berpikir ‘haruskah saya mengejar pencuri itu?” Tidak. Anda akan langsung mengejarnya, tanpa banyak tanya.”

Anda bisa melihat pengaruh kemarahan ini pada kejadian Brexit baru-baru ini. Orang-orang Inggris Raya marah (akibat kebijakan penghematan dari Uni Eropa untuk menaikkan pajak di saat pemerintahan Inggris memotong pengeluaran negara dalam upaya untuk membayar utang dari resesi besar tahun 2008-09) dan menyalahkan imigran yang “mengambil hak dan wilayah pekerjaan penduduk asli Inggris”. Menurut Lerner, kemarahan dapat menjadi emosi penunjang di saat-saat penting, karena kemarahan adalah emosi utama dari keadilan. Tapi di sisi lainnya, kemarahan justru membingungkan. Kemarahan membuat pola pikir kita jadi terlampau sederhana. Orang-orang beralih ke cara cepat, dengan cepat: “Usir para imigran!”, “Keluar dari UE!” daripada kembali mempertimbangkan kebijakan untuk pengungsi dan implikasinya.

Kemarahan membuat Anda termotivasi untuk bergerak, tapi setelah itu, Anda tetap harus menggunakan logika Anda.

Jangan membuat keputusan saat sedih

Dalam keadaan tertentu, kesedihan bisa membantu Anda menetapkan pilihan, karena emosi ini mendorong pemikiran yang lebih sistematik. Orang-orang yang sedang bersendu hatinya akan banyak berpikir, “di satu sisi, ada X, tetapi sisi lainnya ada Y,” yang sebenarnya bagus. Namun, kesedihan juga membuat Anda merenung terlalu lama — “tapi X juga berarti a, b, c, d, e” — yang malah akan memperlambat Anda untuk mencapai keputusan dengan rasa puas dan lega.

Dilansir dari Inc, penelitian menunjukkan bahwa Anda lebih cenderung untuk menetapkan ‘gol’ Anda benar-benar rendah saat Anda sedang sedih atau depresi. Dalam satu studi, peserta diminta untuk menjual berbagai objek. Peserta yang merasa sedih menetapkan harga mereka lebih rendah dari peserta lainnya. Para peneliti menduga kesedihan membuat mereka untuk mengatur standar harga rendah, dengan harapan bahwa mencapai tujuan akhir akan meningkatkan suasana hati mereka.

Menetapkan standar rendah untuk diri sendiri dapat mencegah Anda mencapai potensi terbesar Anda. Anda mungkin memutuskan untuk tidak mengajukan permohonan promosi di kantor, atau tidak bernegosiasi dengan klien besar karena Anda sedang merasa galau.

Terlebih lagi, kesedihan mungkin membuat Anda menjadi lebih tidak sabar, pasrah-pasrah saja. Sebuah 2013 studi oleh Lerner dan rekanan menemukan bahwa orang yang sedang sedih menerima hingga 34 persen lebih sedikit uang agar bisa dibayarkan saat ini juga, daripada harus menunggu tiga bulan dari sekarang untuk pembayaran yang lebih besar. Tapi setidaknya itu mungkin membuat Anda lebih murah hati terhadap orang lain. Lerner juga menemukan bahwa dibandingkan orang marah, orang sedih mengalokasikan lebih banyak amal untuk orang-orang yang lebih membutuhkan, karena si pemarah biasanya cenderung akan menyalahkan orang miskin untuk malangnya nasib mereka sendiri.

Jangan membuat keputusan saat sedang bahagia

Sejauh ini, Anda mungkin berpikir bahwa saat-saat bahagia adalah waktu yang tepat untuk membuat keputusan. Tunggu dulu. Herannya, perasaan bahagia tidak sama baiknya dengan emosi yang mendidih dan kesedihan, dalam mempengaruhi cara Anda memantapkan pilihan.

Beberapa studi menunjukkan bahwa orang-orang yang menunjukkan suasana hati positif, “berada di atas awan”, dan sedang merasakan euforia, akan mengutamakan aspek keindahan dibandingkan kualitas. Karena itulah, ada alasan tertentu mengapa kasino dan pusat judi menggunakan lampu-lampu terang dan suara keras — mereka ingin Anda untuk tetap bersemangat. Semakin Anda merasa bersemangat, semakin besar kemungkinan Anda menghabiskan uang dalam jumlah besar.

Selain itu, saat Anda merasa terlalu bersemangat tentang suatu hal, Anda akan cenderung lebih mudah untuk mengesampingkan segala risiko. Apakah Anda berniat mengambil pinjaman dalam jumlah fantastis untuk suatu kesempatan yang menggiurkan, atau Anda pertaruhkan semua sisa uang Anda pada tim bola yang memimpin jalannya pertandingan, Anda akan lebih mungkin untuk menutup sebelah mata pada risiko saat Anda merasa bersemangat.

Jangan membuat keputusan di malam hari

Sepanjang hari, energi mental manusia terus diperas — oleh kewajiban rumah tangga, pekerjaan kantor, perjalanan komuter rumah-kantor, dsb. Dengan demikian, mengikuti berjalannya waktu, suka atau tidak Anda akan menjadi semakin lelah fisik dan mental di akhir hari. Akibatnya, akan lebih mungkin untuk bekerja ogah-ogahan. Kelelahan kognitif adalah hal yang menguras sumber daya mental Anda. Tampak jelas, bukan? Tapi sayangnya, sebagian besar orang mengabaikan kelelahan kognitif, meskipun fakta terus menerus menyajikan bahwa hal ini mempengaruhi pilihan dan perilaku mereka begitu besarnya

Penelitian telah menunjukkan bahwa kelelahan kognitif yang terus menerus akan menghasilkan kecapekan di kantor, penurunan motivasi, peningkatan distraksi, dan pengolahan informasi yang buruk. Kelelahan kognitif bahkan menurunkan kualitas penilaian dan keputusan seseorang. Dilansir dari Psychology Today, psikolog Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking Fast and Slow, mengatakan, “Orang-orang yang sibuk secara kognitif, lebih mungkin untuk membuat keputusan egois, menggunakan bahasa seksis, dan membuat penilaian dangkal dalam situasi sosial.”

Kahneman selanjutnya menjelaskan kelebihan bagaimana kognitif dan penipisan fisik merusak kontrol diri kita. Kita membuat pilihan bodoh. Kita menyakiti diri kita sendiri dan orang lain. Kita bertindak tidak seperti biasanya. Kemudian, setelah Anda membuat keputusan yang buruk, Anda langsung merasionalisasi perilaku kita, memberi diri kita sendiri dan orang lain alasan yang baik mengapa kita bertindak begitu buruk.

Buat keputusan setelah cukup istirahat

Satu hal, kita semua tunduk pada ritme sirkadian setiap hari. Jika Anda ingin benar-benar produktif, Anda perlu mengambil keuntungan dari saat-saat di mana Anda paling waspada untuk melakukan pemikiran Anda yang paling penting, yaitu setelah tidur cukup dan nyenyak.

Untuk membuktikannya, para ilmuwan di University of Bristol menanamkan elektroda pada otak tikus jantan, dilansir dari Men’s Fitness. Setelah pulih dari operasi tersebut, tikus-tikus ini menjalankan siklus “tidur, istirahat, dan jalan-jalan bebas” sementara para ilmuwan melacak info-infor apa saja yang mereka simpan atau buang saat tidur.

Kemudian, tikus-tikus ini dibuat tidak sadarkan diri dan otak mereka diteliti. Hasilnya: selama tidur, otak mereka dengan sangat cepat memilah pengalaman-pengalaman di siang hari dan menyimpan memori yang berarti, pada dasanya “membereskan sampah-sampah” pikiran dan memungkinkan untuk dirinya menjadi lebih fokus untuk melakukan tugas yang lebih penting: membuat keputusan.

Buat keputusan saat kandung kemih penuh

Jika nanti Anda perlu membuat keputusan penting, mungkin ada baiknya untuk menenggak dua-tiga gelas air sebelum benar-benar menetapkan pilihan. Setidaknya, begitu kata sebuah studi oleh sekelompok peneliti asal Belanda, dilansir dari Inc.

“Anda tampaknya mampu untuk membuat keputusan yang lebih baik saat kandung kemih Anda penuh,” ujar kepala peneliti Mirjam Turk dari University of Twente di Belanda.

Dalam percobaannya, peneliti meminta partisipan untuk minum lima cangkir air putih atau menelan seteguk air dari lima gelas terpisah. Setelah 40 menit (waktu yang dibutuhkan untuk cairan mencapai kandung kemih) peneliti kemudian menguji aspek pengendalian diri dari setiap subyek. Peserta diminta untuk membuat delapan macam pilihan: masing-masing adalah untuk menerima kepuasan instan, atau penghargaan yang lebih besar tapi sedikit tertunda. Contohnya, dalam satu skenario mereka bisa memilih untuk mengambil $16 keesokan harinya, atau $30 dalam 35 hari ke depan.

Hasilnya, orang-orang yang memiliki kandung kemih penuh lebih cenderung untuk memilih menunggu sedikit lebih lama untuk mendapatkan jumlah yang lebih besar. Percobaan lainnya dilaporkan telah mendukung teori ini.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa benak terdalam memiliki dampak merugikan pada kemampuan diri untuk menerapkan kontrol diri. Dalam dunia psikologi, ini disebut sebagai “penipisan ego” — otak berjuang untuk menahan satu fungsi tubuh, dalam hal ini menahan buang air kecil, sehingga akan lebih mudah untuk mengerahkan pengendalian diri di daerah lain.

Hipotesis Tuk adalah bahwa — karena perasaan mengekang berasal dari daerah yang sama dari otak — kontrol diri di satu daerah dapat mempengaruhi kontrol diri pada area lainnya. “Orang-orang yang memiliki kadar yang lebih tinggi dari kontrol kandung kemih harusnya lebih mampu untuk mengendalikan dorongan lain yang tidak terkait,” katanya.

Untuk membuat keputusan berimbang, akui emosi Anda karena tampaknya tidak ada satu suasana hati yang pasti akan menempatkan Anda dalam kerangka pikiran sempurna untuk membuat keputusan. Namun, perhatikan bagaimana suasana hati dan perasaan Anda dapat membolak-balik pemikiran Anda dan mempengaruhi pemikiran Anda.

BACA JUGA:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca