Kelelahan Biasa Atau Gejala Depresi? Kenali Perbedaannya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/09/2017 . 3 mins read
Bagikan sekarang

Anda mungkin pernah merasakan kelelahan dan kepenatan yang tak tertahankan. Seolah-olah untuk bangkit dari tempat duduk saja tubuh sudah tidak sanggup. Saat hal ini terjadi, Anda mungkin tak menyadari bahwa salah satu penyebab kelelahan berlebihan mungkin saja depresi yang terselubung. Pasalnya, kebanyakan orang memang tidak menyadari kalau dirinya mengidap depresi. Lalu, apa bedanya kelelahan biasa dengan lelah yang jadi gejala depresi? Simak jawabannya berikut ini.

Penyebab kelelahan berlebih

Ada tiga kemungkinan ketika Anda mengalami lelah yang tak tertahankan. Tiga kemungkinan tersebut adalah kebanyakan aktivitas, sindrom kelelahan kronis, dan depresi. Lelah karena kebanyakan aktivitas umumnya akan hilang dalam waktu beberapa hari atau setelah Anda cukup beristirahat.

Kemungkinan kedua yaitu sindrom kelelahan kronis. Kelelahan ini cenderung bersifat jasmani. Sederhananya, gangguan tersebut menyerang sistem tubuh Anda. Maka, tak heran jika ciri-ciri lain dari sindrom kelelahan kronis yang tidak dirasakan orang dengan depresi adalah sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, nyeri tulang, demam ringan, serta gangguan penglihatan.

Sementara itu, jika penyebab kelelahan yang Anda rasakan merupakan gejala depresi, tanda lainnya bisa diamati dari kondisi kejiwaan Anda. Anda mungkin merasakan kesedihan dan keputusasaan yang berlarut-larut, kehilangan minat terhadap hal-hal yang tadinya dinikmati, merasa tidak berdaya dan tidak berguna, sulit berkonsentrasi, tidak bisa mengambil keputusan, atau ingin bunuh diri.

Bagaimana kelelahan bisa jadi gejala depresi?

Kelelahan saat depresi menjadi salah satu cara otak untuk melindungi diri. Thomas Minor, seorang ahli ilmu saraf dari University of California, Los Angeles (UCLA) memaparkan bahwa depresi merupakan reaksi tubuh terhadap stres akut. Stres yang dimaksud merupakan gangguan di mana tubuh memproduksi hormon stres seperti kortisol secara berlebihan.

Banyaknya hormon kortisol dalam tubuh dibaca oleh otak sebagai adanya ancaman dari luar yang perlu dilawan atau dihindari (fight or flight response). Untuk mencegah kehabisan energi, otak pun memerintahkan tubuh untuk beristirahat. Akibatnya, Anda jadi sangat kelelahan dan tidak bertenaga. Padahal, pengidap depresi sebenarnya tidak sedang menghadapi ancaman yang harus dilawan atau dihindari secara fisik.

Depresi secara tidak langsung meminta Anda untuk berhenti sejenak dari hal-hal yang membebani mental Anda. Entah itu kegagalan, masalah keluarga, masalah keuangan, atau trauma akibat kehilangan orang yang dicintai. Namun, karena tubuh tidak bisa “berbicara” langsung pada Anda, salah satu tanda yang ditunjukkan merupakan rasa lelah berlebihan.

Cara mengatasi kelelahan berlebih karena depresi

Jika gejala depresi jadi penyebab kelelahan berlebih, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau terapis. Hanya dengan mengatasi depresi Anda bisa mengusir kelelahan berlebih. Anda mungkin akan dianjurkan untuk menjalani sesi terapi atau mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter dalam waktu tertentu. Dokter juga biasanya akan meminta Anda untuk melakukan perubahan gaya hidup, misalnya menjaga pola makan sehat dan rutin berolahraga.

Ingat, jika tidak mencari bantuan, depresi mungkin akan menghantui seseorang selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Anda jadi tak bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik. Depresi juga bisa berujung pada kematian. Maka, jangan meremehkan gejala depresi yang Anda rasakan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

Pandemi COVID-19 memberikan dampak beragam, beberapa orang berisiko mengalami PTSD akibat melewati peristiwa mengguncang ini. Siapa saja yang berisiko?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22/06/2020 . 4 mins read

Kenapa Kita Merasa Mual Saat Sedang Gugup?

Saat harus tampil di depan umum atau mau kencan pertama, tiba-tiba perut jadi sangat mual karena gugup. Mengapa bisa begitu dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 21/06/2020 . 6 mins read

10 Makanan Terbaik untuk Anda yang Cepat Lapar

Anda sering merasa lapar atau ingin mengunyah sesuatu meski sudah makan? Sudah saatnya mencoba menu makanan berikut ini agar Anda tidak cepat lapar.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 21/06/2020 . 5 mins read

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Selain itu studi terbaru menunjukkan bahwa berpikir negatif (negative thinking) terus menerus bisa meningkatkan risiko demensia. Apa bisa dicegah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Hidup Sehat, Fakta Unik 20/06/2020 . 4 mins read

Direkomendasikan untuk Anda

gejala penyakit yang diacuhkan

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 4 mins read
kacang almond

Khasiat Mujarab Kacang Almond untuk Penderita Hipertensi

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 mins read
menjaga kebersihan diri

Apakah Anda Termasuk Orang yang Cukup Bersih? Cek Dulu di Sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 5 mins read
apa itu kolesterol

7 Hal yang Paling Sering Ditanyakan Tentang Kolesterol

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 5 mins read