Kedekatan Emosional Pengaruhi Cara Anda Menjalin Hubungan dengan Orang Lain

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Suatu hubungan bisa terjalin karena adanya kedekatan emosional yang terbangun. Dengan siapa pun Anda berinteraksi dan menjalin hubungan, kedekatan emosional ini pasti ada. Bahkan, hubungan emosi akan mulai terbentuk sejak seorang bayi baru lahir. Sebenarnya, apa itu kedekatan emosional? Apakah

Kedekatan emosional terbentuk sejak kecil

Kedekatan emosional juga bisa disebut dengan ikatan emosi yang terjalin dalam suatu hubungan. Tanpa sadar, setiap orang sudah membangun kedekatan emosionalnya sejak dalam kandungan, bayi dan sang ibu.

Ikatan ini akan terus ada dan terbentuk ketika Anda menjalin hubungan dengan siapa pun. Kedekatan ini bisa terbentuk dengan baik jika kebutuhan emosionalnya terpenuhi dengan beragam respon yang di dapat.

Maka itu, kedekatan emosional akan terbentuk dengan baik ketika seseorang sudah merasa kebutuhan emosionalnya terpenuhi.

Menurut sebuah artikel yang dilansir dari Psychology Today, saat masih anak-anak, dua kebutuhan emosional utama yang sangat mendasar dan dimiliki oleh setiap manusia adalah kebutuhan untuk merasa dicintai dan kebutuhan untuk diberi penghargaan yang positif.

Pemenuhan kebutuhan ini kemudian membantu terbentuknya kedekatan emosional antara Anda dengan orang tua atau pengasuh. Hal ini disebabkan orang tua atau pengasuh Anda adalah sosok yang dapat menenangkan dan membantu memenuhi kebutuhan emosional Anda. 

Kedekatan emosional berpengaruh ketika seseorang menjalin hubungan

Nah, sayangnya tidak semua orang bisa mendapatkan kebutuhan emosionalnya sejak kecil. Mungkin ada yang kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi dengan baik sejak kecil.

Misalnya di masa kecil, ia tidak mendapatkan perhatian atau merasa kurang disayang oleh orang-orang di sekitarnya, hal ini akan memengaruhi kebutuhan emosionalnya kelak.

Akibat kebutuhannya tak terpenuhi, kedekatan emosional yang terbentuk juga tidak baik yang akhirnya berpengaruh ketika ia menjalin hubungan dengan orang lain.

Orang yang seperti ini biasanya cenderung akan mencari perhatian lebih pada orang lain. Selain itu, ia juga tidak dapat menghadapi segala bentuk perpisahan.

Hal ini memicu orang tersebut untuk melakukan berbagai macam cara demi mendapatkan perhatian orang lain, atau bisa juga disebut ‘cari perhatian’. Perilaku ini diterapkan hanya untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya.

Jika sudah demikian, sikap cari perhatian ini akan terus berulang. Mengapa? Karena orang ini menganggap bahwa ia hanya akan mendapatkan perhatian jika melakukan hal-hal negatif tersebut.

Jika sudah demikian, orang tersebut tentu cenderung memiliki pola berhubungan yang tidak sehat. Hal ini bisa dipicu karena kurangnya kedekatan emosional yang terbentuk dengan orang terdekat membuatnya kurang paham mengenai konsep hubungan sehat.

4 ciri pola berhubungan yang tidak sehat

Orang yang kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi dengan baik cenderung membentuk pola berhubungan yang tidak sehat. Tahukah kamu apa saja ciri dari pola hubungan tak sehat?

1. Terlalu cepat akrab

Akrab dengan orang lain bukanlah sebuah masalah. Namun, hal ini dapat menjadi masalah jika Anda telah menentukan bahwa orang yang baru saja Anda kenal adalah sahabat sejati Anda atau belahan jiwa Anda.

Anda mungkin merasa bahwa Anda memiliki kedekatan emosional dengan orang yang baru Anda temui sehingga Anda langsung menganggapnya sebagai teman baik Anda dan memercayakan segala sesuatu padanya. Padahal, orang tersebut belum tentu merasakan hal yang sama terhadap Anda. Bisa saja, lawan bicara Anda ini berpikir sebaliknya tentang diri Anda.

Oleh sebab itu, jika suatu hari orang tersebut mengecewakan Anda atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi Anda, perasaan terlalu cepat akrab ini dapat menjadi boomerang bagi kesehatan mental Anda.

2. Merasa ingin selalu bersama dengan pasangan

Perilaku Anda dalam sebuah hubungan romantis juga salah satu refleksi dari kedekatan emosional yang Anda miliki saat masa pertumbuhan. Jika kebutuhan Anda untuk meningkatkan rasa percaya diri tidak dipenuhi oleh orang tua atau pengasuh, maka rasa minder atau tidak percaya diri akan terpupuk sejak dini. Hal ini menunjukkan proses terbentuknya kedekatan emosional dengan orang tua atau pengasuh tidak berjalan dengan baik.

Hal ini memicu rasa khawatir akan ditinggalkan terus muncul sekalipun  Anda merasa hubungan dengan pasangan baik-baik saja. Oleh sebab itu, untuk menampik rasa tidak percaya diri tersebut, Anda berusaha untuk mendapatkan jaminan tidak akan ditinggalkan oleh pasangan, salah satunya dengan cara selalu berdekatan bahkan hingga terobsesi untuk selalu bersama dengan pasangan.

3. Merasa orang asing sebagai salah satu orang terdekat

Kurangnya kedekatan emosional juga berpotensi membuat Anda memiliki kecenderungan memposisikan orang asing yang memberikan Anda sedikit perhatian, sebagai salah satu orang terdekat dalam hidup Anda. Padahal, ini hanyalah perasaan Anda saja, bukan sebuah fakta yang harus Anda percaya.

Perasaan ini memicu Anda untuk merasa memiliki hak tertentu pada orang asing tersebut. Misalnya, Anda memiliki perasaan bahwa Anda berhak untuk sedih, marah, dan kecewa terhadap berbagai keputusan pribadi yang dibuat oleh orang lain.  Hanya karena Anda merasa seharusnya Anda terlibat dalam pengambilan keputusan itu, bukan berarti Anda memang memiliki hak tersebut.

Hal itu terjadi karena ada kebutuhan emosional dalam diri Anda yang sedang berusaha Anda penuhi dengan membentuk suatu kedekatan emosional semu yang Anda buat sepihak.

4. Merasa butuh pengakuan publik

Kurangnya rasa percaya diri yang dirasakan oleh orang yang kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi dengan baik, dapat berujung pada sikap meniru orang lain yang dianggapnya sebagai role model atau panutan.

Saat ia mengagumi orang lain, ia akan berusaha untuk mendapatkan label yang melekat pada orang tersebut. Hal ini dilakukan dengan harapan ia akan mendapatkan pengakuan yang sama dengan pengakuan yang didapatkan oleh orang yang sedang ditirunya.

Bahkan, pada situasi tertentu, orang ini mungkin rela mengubah bentuk fisiknya. Hal ini dilakukan agar ia bisa menjadi benar-benar mirip baik secara fisik maupun sifat dan sikap dengan orang yang ditirunya.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca