Ternyata Marah-Marah Bisa Bikin Orang Bahagia, Ini Alasannya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 27 November 2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Di balik emosi yang muncul saat marah atau meluapkannya kepada orang lain, diam-diam ada rasa bahagia yang Anda raakan dalam diri. Bagaimana bisa marah bikin bahagia? Bukankah keduanya adalah dua emosi yang saling bertolak belakang?

Kenapa muncul rasa marah?

Pasangan sedang marah-marah

Sebelum memahami mengapa marah bikin Anda bahagia, ada baiknya Anda memahami dulu soal kemarahan.

Rasa marah merupakan salah satu emosi dasar yang melekat pada manusia, bersamaan dengan rasa sedih, bahagia, cemas, dan jijik.

Ekspresi kemarahan dinilai negatif karena dapat memicu tindakan atau hal-hal agresif yang muncul dalam bentuk penyerangan fisik, seperti perkelahian atau melukai orang lain secara langsung. Meskipun dalam situasi tertentu rasa marah dapat menjadi sesuatu yang menguntungkan.

Sumber kemarahan dapat berasal dari mana pun, mulai dari orang terdekat, orang asing, ataupun peristiwa eksternal yang cenderung merugikan Anda. Dalam beberapa kondisi, melihat atau mengetahui kejadian yang mana tidak berhubungan sama sekali dengan Anda juga dapat memicu munculnya perasaan ini.

Menurut dr. Ryan Martin, yang secara khusus mendalami psikologi rasa marah dalam situsnya All The Rage, kemarahan muncul dari kombinasi berbagai hal ataupun dari salah satunya, seperti adanya pemicu, sifat atau karakter tertentu, dan cara seseorang merespons situasi.

Kenapa Anda merasa bahagia saat marah?

Marah bikin bahagia

Peristiwa yang memicu rasa marah merupakan kondisi di mana seseorang merasa tidak diuntungkan atau merasa terancam di dalam sebuah situasi. Menunjukan kemarahan merupakan bagian dari perlawanan untuk kembali mengambil peran dalam situasi yang dirasa tidak adil tersebut.

Meskipun saat Anda marah permasalahan tak selesai, meluapkannya bisa membawa perasaan lega yang sepadan. Secara tidak sadar marah bisa bikin Anda bahagia dan mendatangkan rasa nyaman di dalam diri

Leon F. Seltzer, psikolog klinis yang memiliki spesialisasi dalam resolusi pengendalian trauma dan rasa marah, menjelaskan ketika seseorang mengekspresikan kemarahannya ia  akan menempatkan diri sebagai korban dan merasa berhak untuk menumpahkan perasaannya.

Korban sendiri didefinisikan sebagai pihak yang paling tidak bersalah, sementara target dari kemarahan merupakan pelaku yang paling bersalah. Maka ketika Anda memosisikan diri sebagai korban, secara moral Anda akan merasa lebih hebat dari target kemarahan Anda.

Perbandingan peran antara korban dan pelaku yang dipakai inilah yang kemudian memunculkan perasan senang. Anda seakan menikmati kemarahan yang Anda tunjukkan pada orang lain.

Kemarahan tetap perlu dikendalikan

Laki-laki baju abu-abu sedang marah

Leon menyatakan bahwa rasa bahagia yang muncul saat marah dapat terjadi pada siapa pun. Dalam artian, ini bukanlah suatu kelainan atau gangguan psikologis tertentu.

Perasaan senang yang muncul saat marah-marah juga dapat dipengaruhi oleh kejadian atau kondisi sebelum seseorang tersebut merasa marah atau disebut pre-existing condition. 

Jika sebelumnya Anda merasa begitu ‘kecil’ dan tak berdaya karena emosi negatif, seperti cemas, kecewa, malu, dan rasa bersalah, kemungkinan Anda cenderung merasa bahwa melampiaskan marah yang Anda rasakan bisa bikin bahagia.

Begitu juga jika Anda sebelumnya merasa dicurangi, diabaikan, atau diremehkan. Dalam situasi ini, Anda memanfaatkan kemarahan sebagai sesuatu yang dapat membenarkan situasi Anda.

Meski begitu, rasa bahagia yang muncul saat Anda bahagia bisa disebut sebagai perasaan yang bermasalah.

Betul memang jika pada saat tertentu marah bisa bikin bahagia dan hal itu menguntungkan Anda. Perasaan itu dapat membangun kekuatan diri, karena menimbulkan perasaan superior.

Akan tetapi, kemarahan yang diliputi kebahagiaan bisa berbalik merugikan Anda. Misalnya saja, karena merasa superior dan merasa benar, Anda bisa melakukan intimidasi secara berlebihan terhadap orang yang jadi target kemarahan Anda. Oleh karena itu, Anda tetap harus berusaha untuk mengendalikan amarah yang Anda rasakan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tidak Selalu Buruk, Ternyata Marah Bisa Memberikan 3 Manfaat Ini

Marah biasanya dikaitkan dengan hal yang buruk, padahal tidak selalu demikian. Ada manfaat yang bisa didapat jika Anda menghadapi rasa marah dengan tepat.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Psikologi 29 Mei 2019 . Waktu baca 4 menit

Bagaimana Mau Hidup Bahagia Jika Masih Punya 4 Pola Pikir Ini?

Salah satu faktor yang membuat Anda hidup tidak bahagia adalah pola pikir dan kebiasaan yang negatif. Ingat, pola pikir negatif jangan dipelihara!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Psikologi 24 Oktober 2018 . Waktu baca 4 menit

5 Cara Cepat Mendinginkan Emosi Pasangan yang Sedang Marah

Bertengkar adalah bumbu asmara. Tapi apabila Anda yang jadi bulan-bulanan saat pasangan marah, segera lakukan 5 hal ini untuk mendinginkan kepalanya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Hidup Sehat, Seks & Asmara 25 Agustus 2018 . Waktu baca 3 menit

Pahami 7 Jenis Emosi Dasar yang Ternyata Punya Fungsi Masing-masing

Berbagai Emosi yang Anda alami ternyata sangat penting perannya dalam kehidupan; bagi diri Anda dan juga orang lain. Sebenarnya, apa saja jenis emosi itu?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Psikologi 25 Agustus 2018 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

akibat anak terlalu sering dibentak

Apa Dampaknya Bila Orangtua Sering Membentak Anak?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 22 Juni 2020 . Waktu baca 8 menit
sumber stres dalam pernikahan

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
menangis saat marah

Mengapa Ada Orang yang Mudah Menangis Saat Marah?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 2 April 2020 . Waktu baca 5 menit
membenci diri sendiri

Mengapa Ada Orang yang Membenci Dirinya Sendiri? Plus Cara Menghentikannya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 30 November 2019 . Waktu baca 6 menit