Alasan Psikologis Kenapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 September 2017 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

“Kenapa dia nggak pisah saja dari suaminya?” Mungkin inilah komentar Anda ketika mendengar kabar bahwa seseorang jadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Bagi orang yang tak pernah mengalami KDRT, memang sulit untuk memahami mengapa kebanyakan korban masih mau tinggal bersama pasangannya yang abusive atau kejam. Padahal dengan mengetahui alasan korban KDRT bertahan dalam pernikahannya yang penuh kekerasan, Anda bisa membantu orang terdekat dalam jerat kekerasan.  

KDRT adalah sebuah siklus kekerasan

Korban KDRT bertahan dalam hubungan atau pernikahan yang penuh kekerasan dengan harapan bahwa keadaan mereka akan membaik suatu hari nanti. Menurut psikolog sekaligus penemu teori sosial siklus kekerasan, Lenore E. Walker, KDRT adalah sebuah pola yang bisa ditebak.

Maksudnya, kasus kekerasan terjadi mengikuti sebuah siklus yang berulang. Siklus ini dimulai dari munculnya masalah dalam hubungan, misalnya masalah finansial atau pertengkaran soal anak. Biasanya dalam tahap ini korban berusaha memperbaiki keadaan dengan cara mengalah atau menuruti keinginan pasangannya.

Jika usahanya gagal, masuklah ke tahap kedua, yaitu kekerasan. Dalam tahap ini pelaku akan menyiksa atau menindas korban sebagai hukuman atau pelampiasan emosi. Korban mungkin secara tak sadar berpikir bahwa ia memang pantas mendapat ganjaran ini karena ia gagal menyelesaikan masalah.

Setelah puas melakukan tindak kekerasan, pelaku jadi merasa bersalah dan minta maaf pada korban. Pelaku mungkin memberikan hadiah, merayu dengan kata-kata manis, atau berjanji pada korban tak akan mengulangi perbuatannya lagi. Dalam beberapa kasus, pelaku justru pura-pura tidak tahu, seolah kekerasan tersebut tidak pernah terjadi. Tahap ini dikenal dengan sebutan bulan madu.

Lalu masuklah ke tahap keempat, yaitu ketenangan. Biasanya korban dan pelaku akan menjalani hari-hari layaknya pasangan pada umumnya. Mereka mungkin makan bersama atau berhubungan seks seperti biasa. Namun, saat timbul suatu permasalahan, pasangan ini akan masuk lagi ke tahap pertama. Begitu terus selanjutnya, siklus ini akan berputar tanpa henti.   

Alasan korban KDRT bertahan dalam hubungan abusive

Sampai titik ini Anda mungkin heran, apa yang membuat korban betah terjebak dalam siklus menakutkan seperti itu. Menurut para pakar, ada tujuh alasan utamanya.  

1. Malu

Korban KDRT bertahan karena merasa perceraian atau perpisahan akan jadi aib baginya. Apalagi kalau sampai orang-orang tahu pasangannya kejam. Ia justru malu karena gagal mempertahankan keharmonisan rumah tangganya.

2. Merasa bersalah

Ada juga korban yang merasa bersalah kalau meninggalkan pasangannya. Ia malah merasa bahwa amukan dan kekejaman pasangannya justru disebabkan oleh perbuatannya sendiri. Misalnya seorang istri merasa dirinya pantas dipukuli suami karena ia pulang malam tanpa izin. Pikiran yang salah ini sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan diri korban supaya ia tidak terlalu stres.

3. Diancam

Pelaku mungkin mengancam akan membunuh, menyakiti, atau mengganggu kehidupan korban dan keluarga korban bila ia nekat meninggalkan pelaku. Karena takut akan ancaman tersebut, korban jadi sulit berpikir jernih, apalagi sampai mencari bantuan.

4. Ketergantungan ekonomi

Banyak korban KDRT bertahan karena ia bergantung secara finansial pada pelaku. Korban pun takut kalau ia meninggalkan pelaku, ia tak akan bisa menghidupi dirinya sendiri atau anak-anaknya.

5. Tekanan sosial atau spiritual

Wanita korban KDRT sering mendapat tekanan sosial atau spiritual untuk bertahan dalam pernikahannya meskipun sarat kekerasan. Pasalnya, dalam budaya atau agama tertentu wanita harus patuh terhadap suami. Korban yang menelan mentah-mentah nilai tersebut akan kemudian percaya bahwa sudah sepantasnya ia tetap mematuhi suaminya.

6. Sudah punya anak

Korban KDRT mungkin tak mau meninggalkan pernikahannya karena memikirkan masa depan anak. Ia takut bahwa perceraian atau perpisahannya akan membuat nasib anak jadi tak tentu. Demi kebaikan anak, ia pun memilih untuk bertahan.  

7. Depresi

Depresi yang menyerang korban KDRT membuatnya tak mampu bertindak, membela diri, apalagi meninggalkan pasangan. Pelaku juga biasanya mengekang korban sehingga korban tidak bisa mencari bantuan dari keluarga, polisi, atau yayasan pelindung korban kekerasan. Akibatnya korban jadi semakin merasa terisolasi dan tak punya pilihan lain.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

Lama-lama, seks bisa jadi membosankan. Apakah artinya sudah tak saling cinta lagi? Bisakah hubungan suami istri terasa nikmat seperti dulu lagi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit

5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

Anda sering melihat bullying tapi tidak tahu harus berbuat apa? Anda ingin menolong korban tapi takut? Cari tahu di sini apa yang harus Anda lakukan!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Psikologi 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Kencing dengan posisi berdiri kerap dilakukan pria, tapi mereka yang mengidap gangguan saluran kemih justru dilarang. Apa alasannya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Urologi, Kandung Kemih 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

Istilah 'dingin sampai menusuk tulang' bisa terjadi pada penderita rematik Nyeri sendi akibat rematik kambuh bisa disebabkan oleh cuaca, bagaimana bisa?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pasangan malu berhubungan intim

6 Tips Membantu Pasangan yang Malu Berhubungan Intim

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
cedera kaki pakai tongkat kruk

Begini Cara Menggunakan Tongkat Kruk yang Benar Saat Sedang Cedera Kaki

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
psoriasis kuku

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Psoriasis pada Kuku

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit
ensefalopati uremikum

Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit