Waduh! Orang yang Hidup Membujang Lebih Rentan Terkena Depresi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 September 2017 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Di zaman modern seperti sekarang ini, tren hidup sendiri sebatang kara alias membujang kian meningkat atas alasan beragam. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah hidup menyendiri benar berdampak negatif pada kesehatan mental seseorang, seperti apa kata orangtua?

Efek negatif hidup sendiri dengan mental seseorang

1. Kesepian

Kesepian memang sudah menjadi dampak nyata dari hidup sendiri. Orang yang hidup sendirian cenderung merasa sering kesepian, dibandingkan dengan orang yang tidak sendirian. Meski hidup sendiri bisa menurunkan kemungkinan seseorang untuk marah akibat tidak adanya pertengkaran, hal itu juga bisa menjadi hambatan untuk terhubung dan berinteraksi dengan orang lain serta untuk membentuk hubungan yang bermakna.

Hal ini bisa menjadi masalah bagi sekelompok orang tertentu. Misalnya, bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik mungkin mengalami kesulitan untuk melakukan perjalanan yang diperlukan untuk meninggalkan rumah.

Salah satu alasan utama pengaruh negatif hidup sendiri terhadap kesehatan mental yaitu bahwa orang-orang yang tinggal sendiri cenderung menghabiskan banyak waktu sendiri. Menghabiskan waktu dengan orang lain mungkin akan meningkatkan interaksi negatif, tapi juga penting dalam mencegah kesepian dengan mempromosikan rasa dukungan sosial Anda.

2. Depresi

Telah lama diketahui bahwa dampak hidup sendirian adalah rentan akan depresi dan masalah kesehatan mental lainnya. Penelitian baru menunjukkan pola yang sama juga dapat ditemukan pada orang dewasa dan orang yang lanjut usia. Pria dewasa yang hidup membujang cenderung lebih merasa tertekan daripada laki-laki yang tinggal seatap dengan pasangan atau anggota keluarga lainnya. Begitupun dengan janda. Wanita yang mungkin saja baru-baru ini tinggal sendiri untuk pertama kalinya (entah karena cerai atau pasangan meninggal dunia) bisa berada pada risiko depresi yang lebih besar daripada mereka yang telah tinggal sendiri untuk jangka waktu yang lebih lama.

Dalam sebuah penelitian pada 3.500 pria dan wanita  yang berusia 30 sampai 65, para periset di Finlandia menemukan bahwa orang-orang yang tinggal sendiri lebih cenderung menerima resep dan mengonsumsi obat antidepresan. Hal itu berlaku ketika dibandingkan dengan 16% dari mereka yang tinggal dengan pasangan, keluarga, atau bahkan teman sekamar.

3. Pola makannya lebih tidak sehat

Penelitian lainnya juga menunjukkan, bahwa ketika hidup sendirian Anda cenderung makan makanan yang kurang menyehatkan. Misalnya Anda akan makan lebih sedikit sayuran setiap hari daripada orang yang sudah berpasangan. Orang yang hidup bersama dengan orang lain, akan memasak atau makan makanan sehat guna menjaga kesehatan. Kesehatan  mereka dijaga juga karena ingin hidup dan bahagia lebih lama dengan orang-orang yang tinggal bersama mereka.

Tapi tak semua orang yang hidup sendiri akan rentan depresi

Sejauh mana dampak hidup sendiri bisa memengaruhi kesehatan mental, tampaknya bergantung pada karakteristik individu. Misalnya usia, jenis kelamin, kesehatan, serta karakteristik kehidupan sosial masing. Sebetulnya, tidak semua hal yang merujuk pada kesendirian hidup dikaitkan negatif. Kembali lagi pada, niat dan manfaat yang orang tersebut terima. Namun, alangkah lebih baiknya jika Anda tinggal dengan orang lain untuk menghindari dampak hubungan antara kondisi mental dan pola hidup yang Anda jalani.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy

Yang juga perlu Anda baca

Apa Perbedaan Tekanan Darah di Pagi, Siang, dan Malam Hari?

Pengukuran tekanan darah banyak dianjurkan untuk dilakukan pada pagi hari. Apakah akan ada perbedaan tekanan darah, jika dilakukan di lain waktu?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 1 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Osteopenia

Osteopenia adalah kondisi pengeroposan tulang sebelum berlanjut menjadi osteoporosis. Yuk, pelajari lebih dalam gejala, penyebab, dan cara mengobatinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 1 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit

Kista Ganglion

Ganglion adalah kista yang umumnya terbentuk pada tendon dan persendian yang umum timbul di tangan. Berikut informasi lengkap tentang ganglion.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 1 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

Flat Foot (Telapak Kaki Datar)

Normalnya, bagian tengah telapak kaki akan berlekuk. Namun, orang-orang penderita flat feet memiliki telapak kaki datar. Apa efeknya pada kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 1 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

veneer gigi

Semua yang Perlu Anda Ketahui tentang Veneer Gigi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit
cepat turun berat badan pagi hari

7 Kebiasaan di Pagi Hari yang Bikin Cepat Turun Berat Badan

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
berapa banyak makan nasi saat sarapan

Seberapa Banyak Harusnya Porsi Makan Nasi Saat Sarapan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
krim perontok bulu

Menggunakan Krim untuk Menghilangkan Bulu, Amankah?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 1 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit