Mengenal Bias Implisit, Kecenderungan yang Tak Disadari Melekat pada Diri

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 16 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Berbeda dengan bias eksplisit yang jelas terlihat dan dilakukan secara sengaja, bias implisit terjadi secara diam-diam dan tanpa disadari Anda juga memilikinya. Bias implisit tidak hanya terbatas pada soal perbedaan ras, tapi juga agama, gender, jenis kelamin, usia, atau asal tempat tinggal seseorang.

Apa itu bias implisit?

curhat masalah cinta dan masalah hubungan ke teman

Efrén Pérez, seorang profesor ilmu politik, dalam bukunya yang bertajuk “Unspoken Politics: Implicit Attitudes and Political Thinking”, mendefinisikan bias implisit atau implicit bias sebagai sekumpulan tindakan, kepercayaan, pengetahuan, dan stereotip yang dimiliki oleh sekelompok sosial dan dapat memengaruhi apa yang kita lakukan dan katakan tanpa disadari.

Lebih jelasnya, kata implisit juga berarti pikiran dan perasaan yang Anda miliki hanyalah tersirat. Lalu, bias terjadi ketika Anda memiliki preferensi terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Sehingga, tanpa sadar Anda memperlakukan orang lain sesuai dengan stereotip yang mereka miliki.

Misalnya, seseorang cenderung memiliki lebih banyak teman yang berasal dari suku yang sama, alasannya karena ia merasa lebih nyaman dengan teman-teman tersebut dibandingkan dengan teman dari suku yang lainnya. Preferensi semacam ini tidak terucap dan hanya dirasakan dalam hati, sehingga membuatnya bersifat implisit.

Setiap orang rentan terhadap bias implisit. Namun, bias ini seringnya tidak sejalan dengan keyakinan yang Anda miliki atau mencerminkan pendirian Anda.

Mengapa bias implisit bisa terjadi?

mengganggu kesehatan mental

Umumnya, bias implisit telah didapatkan semenjak seseorang masih berada pada usia dini dan berkembang ketika dewasa, baik melalui paparan pesan langsung maupun tidak langsung. Kebanyakan, bias implisit bermula dari ditanamkannya kecenderungan yang positif terhadap golongannya sendiri.

Ada juga yang memiliki bias karena terbiasa dengan nasihat atau petuah dari orang tua terhadap beberapa golongan tertentu. Paparan dari media dan berita juga dapat menimbulkan suatu stereotip yang implisit.

Selain itu, bias implisit juga dipengaruhi oleh cara kerja otak manusia. Otak kita selalu bekerja untuk mencari pola dan hubungan di antara satu hal dengan yang lainnya, tujuannya adalah untuk mempermudah penerimaan informasi tentang banyak orang dalam situasi sosial.

Setelahnya, otak yang didorong dengan pintas mental pun menyederhanakannya dengan membagi-bagi informasi tersebut menjadi beberapa kelompok agar lebih mudah untuk memilahnya.

Bagaimana pengaruhnya pada kehidupan sehari-hari?

manfaat air mata saat berduka

Bias implisit bisa menimbulkan efek yang positif maupun negatif. Meski demikian, keduanya dapat memiliki efek yang berbahaya terhadap bagaimana seseorang berperilaku pada orang lain dan memengaruhi pengambilan keputusan.

Pikiran manusia dapat bekerja pada dua tingkatan, satu berfungsi secara rasional dan sengaja (eksplisit), sedangkan yang lain bekerja secara intuitif dan otomatis (implisit). Keduanya tidak sepenuhnya bekerja sendirian.

Tingkat kesadaran dapat bekerja dengan mengacu pada informasi yang didapatkan dari alam bawah sadar manusia, menjadikannya sebagai dasar untuk tindakan yang dilakukan. Karena itu, seseorang mungkin merasa bahwa ia melakukan hal yang tidak merugikan, tapi tanpa ia ketahui tindakannya telah menyakiti orang lain.

Salah satu dampak bias implisit bisa terlihat pada beberapa kasus seperti bagaimana ahli tenaga kesehatan memperlakukan pasiennya.

Dari sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Public Health, seorang dokter yang cenderung mendominasi percakapan dengan pasien kulit hitam membuat pasien jadi tak percaya diri dan enggan untuk berobat. Tentunya, hal ini dapat berdampak pada kondisi kesehatan pasien.

Selain itu, adanya stigma yang menempel pada orang-orang dengan masalah kesehatan tertentu juga memengaruhi cara orang lain dalam memperlakukan mereka.

Misalnya, seseorang jadi mengubah pandangannya terhadap teman yang sedang mengalami masalah psikis dan jadi sedikit menghindar karena takut akan terkena hal yang sama, meski ia tahu ia tak seharusnya memikirkan hal tersebut.

Mengurangi bias implisit terhadap orang lain

mengurangi bias implisit pada pergaulan

Meski manusiawi, bukan berarti Anda bisa mengabaikannya begitu saja. Seperti yang telah dijelaskan, Anda mungkin telah melakukan tindakan yang tanpa diketahui membuat orang lain sakit hati. Agar tak terjadi, berikut langkah yang bisa Anda lakukan untuk mengunranginya.

1. Edukasi diri

Memang, kebanyakan orang tidak tahu bahwa mereka memiliki bias implisit. Karena sering didorong tanpa sadar, akan sulit bagi Anda untuk menemukan sendiri bias implisit terhadap kelompok mana yang Anda miliki.

Untuk mengetahuinya, Anda bisa melakukan tes bernama Implicit Association Test yang akan memperlihatkan kecenderungan Anda terhadap sesuatu. Setelah mendapatkan hasilnya, pertanyakan pada diri sendiri, apa yang membuat Anda bertindak demikian dan apa yang membuat Anda tak nyaman akan suatu kelompok atau individu.

Kemudian, carilah semua informasi yang sekiranya Anda butuhkan untuk mengurangi bias yang Anda miliki. Sering kali, ketidaktahuan bisa menjadi sesuatu yang membuat Anda keliru dalam bertindak.

2. Kenali seseorang tanpa memandang latar belakangnya

Dekatilah individu yang rentan dengan stereotip yang ada di sekitar Anda. Kenali mereka sebagai individu yang memiliki kepribadiannya masing-masing. Coba untuk memperluas pertemanan untuk mengetahui lebih banyak perspektif dari orang lain. Langkah ini bisa menjadi cara yang efektif untuk mengurangi pandangan akan stereotip tertentu terhadap orang lain.

3. Ubah sudut pandang Anda

Lihatlah permasalahan dari sudut pandang orang lain. Bagaimana bila Anda yang berada pada posisi mereka dan apa yang akan Anda lakukan bila mendapatkan perlakuan yang tak menyenangkan. Dengan ini, Anda juga sekaligus akan belajar untuk lebih berempati pada orang lain.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber