Obsesi Berlebihan Pada Idola, Normal atau Tidak?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda mengagumi seseorang public figure yang tidak Anda kenal, dari yang awalnya hanya ngefans biasa, sampai lama-lama tak bisa berhenti memikirkannya? Apakah ini artinya Anda jatuh cinta pada idola Anda? Atau, jangan-jangan Anda hanya terobsesi?

Cinta adalah emosi yang memiliki kekuatan untuk mengeluarkan semua emosi lainnya, dan bisa memulihkan kita dari kondisi tersedih dalam hidup kita. Tapi apa yang terjadi ketika cinta yang hadir justru merusak dan mengundang emosi negatif seperti takut, cemas, atau marah? Hasilnya adalah obsesi.

Ketika seseorang mulai terobsesi, ia tidak mau mengakui bahwa ia ternyata memiliki obsesi terhadap sesuatu atau seseorang, karena kata obsesi sendiri dianggap sebagai hal yang buruk. Tapi faktanya, banyak dari kita yang terobsesi terhadap sesuatu.

Beberapa di antara kita mungkin terobsesi dengan pakaian, lainnya terobesi dengan makanan, lainnya dengan penampilan atau terobsesi dengan pekerjaannya, bahkan terobsesi dengan seseorang yang kita idolai. Yang jelas, seperti dikatakan Dr. Carmen Harra, PhD, seorang psikolog intuitif dalam websitenya CarmenHarra.com, yang perlu kita mengerti adalah obsesi tidak akan pernah menjadi sesuatu yang positif.

“Bahkan kalau kita terobsesi dengan menolong orang miskin atau menyebarkan cinta, yang merupakan sebuah hal positif, tetap saja tidak boleh ada pikiran atau tindakan yang sampai mendominasi hidup kita sampai ke titik di mana kita hanya hidup untuknya,” papar Harra.

Kata “obsesi” berasal dari bahasa latin “obsidere”, yang artinya “untuk duduk di dalamnya, atau menghuni”. Orang yang menjadi obsesi kita ibarat menghuni otak kita. Mereka menjadi perhatian utama yang mengelilingi pikiran kita.

Obsesi bisa mempengaruhi pikiran kita

Ketika obsesi mendominasi diri kita, ia akan mencuri kemauan kita dan melemahkan semua kesenangan dalam hidup. Kita akan menjadi bodo, ketika pikiran kita mengulang lagi dialog, gambar, atau kata-kata yang sama. Dalam obrolan, kita hanya memiliki sedikit ketertarikan dari apa yang dikatakan orang lain, dan hanya membicarakan apa yang jadi obsesi kita, tidak sadar akan apa dampaknya pada orang lain.

Seperti dikatakan Darlen Lancer, JD, MFT, terapis pernikahan dan keluarga, serta ahli dalam hubungan dan kodependensi dalam PsychCentral, obsesi memiliki kekuatan yang berbeda-beda pada setiap orang. Ketika obsesi hanya dalam tahap ringan, kita masih bisa bekerja dan mengendalikan diri kita. Ketika obsesi semakin intens, pikiran kita akan fokus pada obsesi kita. 

Yang perlu diperhatikan adalah obsesi bisa memengaruhi pikiran kita. Pikiran kita berlari dalam lingkaran, merasakan kecemasan, fantasi, atau berusaha mencari sebuah jawaban. Mereka bisa mengambil alih hidup kita, jadi kita bisa lupa jam, tidur, atau bahkan hari, dan kita teralihkan dari aktivitas yang menyenangkan dan produktif.

Obsesi bisa melumpuhkan kita. Kadang-kadang ia mendorong kita berperilaku kompulsif seperti berkali-kali mengecek email atau media sosial. Kita kehilangan kendali dengan diri kita, perasaan kita, dan kemampuan kita untuk berpikir logis dan menyelesaikan masalah. Obsesi seperti ini biasanya dikendalikan oleh rasa takut.

Ada banyak sekali obsesi yang bisa memberikan dampak buruk bagi kita, tapi hanya ada satu cara untuk menghentikannya. “Cara terbaik untuk menghentikan obsesi adalah dengan mendatangi akal sehat kita,” jelas Lancer singkat.

5 langkah mengendalikan obsesi

Mungkin awalnya agak sulit bila langsung berusaha untuk menghilangkan obsesi pada diri Anda, baik pada apapun itu. Mulai dari obsesi terhadap pakaian, makanan, wanita, bahkan aktor atau penyanyi idola.

Namun, Alex Lickerman, M.D., dokter penyakit dalam umum dan juga asisten wakil presiden untuk Student Health and Counseling Services di University of Chicago, mengungkapkan beberapa langkah dalam mengendalikan obsesi, seperti yang ia tulis di PsychologyToday.

  • Alihkan perhatian Anda. Paksakan diri Anda untuk menjinakkan obsesi Anda dengan tidak mengindahkannya. Cari sesuatu yang lebih menarik dan nyaman untuk mengalihkan Anda dari obsesi tersebut, untuk memberikan Anda waktu istirahat dari obsesi Anda. Ini akan membantu Anda mengingat bahwa ada hal lainnya dalam hidup yang lebih penting. Baca novel, nonton film, atau bantu teman yang lagi stres. Lakukan sesuatu yang bisa membuat Anda keluar dari pikiran Anda sendiri.
  • Selesaikan pekerjaan yang tertunda. Kadang-kadang obsesi menghambat kita melakukan sesuatu. Mungkin obsesi membuat kita tidak bisa menyelesaikan membaca buku, tidak fokus dalam mengerjakan tugas, atau kurang perhatian pada teman yang sedang butuh bantuan. Ambil waktu untuk fokus pada satu tujuan, dan buat tujuan baru setelah tercapai.
  • Fokus pada tujuan terbesar Anda. Temukan tujuan hidup Anda baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dan jika Anda bisa menemukan tujuan hidup yang bisa menginspirasi, Anda akan bisa menyadarkan diri sendiri untuk kembali ke realita ketika pikiran obsesif menyerang Anda.
  • Lakukan kegiatan olahraga yang menyenangkan. Lakukan kegiatan fisik apapun yang menyenangkan bagi Anda dan bisa mengalihkan perhatian dari obsesi Anda. Anda bisa melakukan meditasi, ikut karate, atau menari. Luangkan banyak waktu, karena seiring berjalannya waktu, obsesi akan hilang dengan sendirinya.
  • Dengarkan yang orang lain katakan kepada Anda. Jika Anda memiliki teman dekat atau keluarga yang khawatir dengan obsesi Anda yang berlebihan, mereka mungkin benar. Bukalah telinga dan pikiran Anda pada apa yang mereka sampaikan kepada Anda.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Kenapa Berat Badan Turun Drastis Saat Sedang Depresi?

    Salah satu tanda seseorang sedang depresi biasanya adalah berat turun drastis. Tapi berat badan turun saat depresi ini bukan hanya karena tak nafsu makan.

    Ditulis oleh: Theresia Evelyn
    Hidup Sehat, Psikologi 22 November 2020 . Waktu baca 4 menit

    Mengenali Ciri-Ciri Psikopat di Sekitar Anda

    Pada kesan pertama, psikopat umumnya terlihat menawan, senang bersosialisasi, peduli, dan ramah pada orang lain. Apa lagi ciri-ciri psikopat pada umumnya?

    Ditulis oleh: Adinda Rudystina
    Hidup Sehat, Psikologi, Fakta Unik 10 November 2020 . Waktu baca 7 menit

    4 Tips Menahan Diri untuk Tidak Berlebihan Memikirkan Sesuatu

    Apakah Anda salah satu orang yang sering berlebihan memikirkan sesuatu? Hal ini dapat menghambat aktivitas. Lalu, bagaimana cara mengatasi overthinking?

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Hidup Sehat, Psikologi, Tips Sehat 10 November 2020 . Waktu baca 4 menit

    Alasan Psikologis Mengapa Pria Lebih Sulit Menangis Dibanding Wanita

    Perempuan identik lebih mudah untuk menangis dan mengeluarkan air mata dibanding laki-laki. Apa yang membuat seorang pria sulit menangis? Baca di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Hidup Sehat, Fakta Unik 29 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    memiliki alter ego

    Apa Itu Alter Ego? Apakah Sama Dengan Kepribadian Ganda?

    Ditulis oleh: Theresia Evelyn
    Dipublikasikan tanggal: 29 November 2020 . Waktu baca 4 menit
    akibat sering main hp

    4 Jenis Gangguan Kesehatan Akibat Terlalu Sering Bermain Smartphone

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
    Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit
    makanan terbaik untuk kesehatan jiwa

    5 Makanan Terbaik untuk Menjaga Kesehatan Jiwa

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit
    komunikasi dengan anak

    Kenapa Orangtua Wajib Rutin Berkomunikasi Dengan Anak?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit