Mengenal Diet Tradisional Ala Jepang Beserta Manfaatnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 20/01/2020 . 4 menit baca
Bagikan sekarang

Terdapat beragam jenis diet yang dapat Anda pilih dan sesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari diet rendah garam untuk hipertensi, diet mayo, hingga diet tinggi serat. Nah, artikel kali ini akan memperkenalkan diet tradisional ala Jepang. Pola diet ini memberikan banyak manfaat kesehatan, termasuk menurunkan berat badan, lho. Ingin tahu bagaimana cara menjalani diet ala Jepang ini? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Apa itu diet tradisional ala Jepang?

Diet tradisional ala Jepang adalah jenis diet yang berfokus pada menu makanan berbahan dasar ikan, seafood, sayur, serta buah-buahan. Dalam diet ini, Anda dianjurkan untuk mengurangi konsumsi protein hewani lain, gula, dan lemak.

Lebih lanjut lagi, diet ini juga menghindari bumbu-bumbu tambahan, seperti penyedap, garam, atau saus. Pada dasarnya, menu dalam diet ini mengedepankan cita rasa alami dari bahan-bahan makanan yang ada.

Diet ini mengutamakan bahan-bahan seperti ikan, seafood, tahu, kacang-kacangan, rumput laut, serta sayur dan buah yang masih segar. Sebagai pendamping menu utama, Anda masih dibolehkan makan nasi atau mi.

Apakah dalam diet Jepang ini masih boleh mengonsumsi daging dan produk olahan hewan lainnya? Tentu boleh, tapi biasanya tidak dijadikan sebagai menu utama.

Makanan seperti telur atau daging merah misalnya, hanya disajikan sebagai makanan pendamping.

Seperti apa diet ala Jepang?

Nah, seperti halnya makanan yang mungkin pernah Anda jumpai di restoran-restoran Jepang, diet ini biasanya terdiri atas makanan pokok yang dilengkapi dengan sup, lauk, dan menu pendamping atau sampingan.

Komposisi diet ala Jepang antara lain:

  • Makanan pokok: nasi, mi, udon, atau soba.
  • Sup: dapat terdiri dari tahu, rumput laut, seafood, sayuran, dan kuah kaldu.
  • Lauk: ikan, seafood, tahu, atau tempe. Dapat Anda lengkapi dengan sedikit produk hewan lainnya, seperti telur atau daging merah.
  • Menu sampingan: sayuran mentah, rebus, tumis, atau kukus. Bisa juga berupa buah-buahan.

Sepintas, mungkin menu di atas terlihat seperti menu makanan sehari-hari saat Anda sedang tidak diet. Namun, yang membedakan adalah cita rasanya.

Diet ala Jepang menghindari bumbu-bumbu penyedap, seperti garam, gula, vetsin, kecap, ataupun sambal. Hal ini bertujuan untuk menonjolkan cita rasa asli dari bahan-bahan masakan dalam diet ini, yang disebut oleh orang Jepang dengan umami.

Sebagai tambahan, minuman yang dapat Anda pilih adalah teh hijau hangat. Anda juga tidak dianjurkan terlalu sering makan camilan saat menjalani diet ini.

Apa saja manfaat dari diet ala Jepang?

Berikut adalah berbagai manfaat yang dapat Anda peroleh dari diet Jepang:

1. Mengandung nutrisi dan senyawa yang bermanfaat

Menurut sebuah studi dari Tohoku University School of Public Health, Jepang, Anda dapat memperoleh beragam nutrisi dan senyawa yang baik untuk kesehatan tubuh, seperti serat, kalsium, kalium, magnesium, zat besi, serta vitamin A, C, dan E.

Tidak hanya itu. Teh hijau dalam diet Jepang ini juga merupakan sumber antioksidan yang tinggi, sehingga tubuh Anda dapat terlindungi dari berbagi penyakit dan kerusakan sel-sel.

2. Baik untuk sistem pencernaan

Tingginya kandungan serat dalam diet ini dapat membantu melancarkan pencernaan Anda, sehingga Anda terhindar dari risiko sembelit atau susah BAB.

Selain itu, dengan mengonsumsi banyak sayur dan buah yang kaya akan probiotik, Anda juga dapat mencegah terjadinya diare, perut kembung, serta gas berlebih.

3. Menjaga berat badan sehat

Porsi dalam diet ini terhitung kecil serta mengandung sedikit gula dan lemak. Maka itu, asupan kalori ke dalam tubuh Anda pun dapat berkurang.

Budaya makan orang Jepang juga mengajarkan bahwa Anda sebaiknya cukup merasa 80% kenyang saat makan. Dengan kebiasaan ini, Anda dapat mengontrol berat badan Anda dengan baik.

4. Mencegah penyakit kronis

Dengan menjalani diet ala Jepang, Anda juga mengurangi risiko terjadinya diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Hal ini dibuktikan dalam sebuah studi yang terdapat di Journal of Atherosclerosis and Thrombosis. Dalam penelitian tersebut, 33 orang menjalani diet ini selama 6 minggu.

Sebanyak 91% mengalami penurunan berat badan, kadar kolesterol jahat, serta faktor-faktor risiko diabetes di dalam tubuhnya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Yang Perlu Anda Tahu Seputar Pangan Rekayasa Genetika

Sudah saatnya kita meluruskan isu-isu seputar pangan rekayasa genetika (PRG) atau genetically modified foods yang penuh kontroversi ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 15/06/2020 . 5 menit baca

3 Resep Dessert Vegan yang Mudah dan Lezat

Kata siapa seorang vegan tak bisa menikmati berbagai pencuci mulut yang menggugah selera? Tiga dessert vegan yang mudah dibuat ini nikmatnya berani diadu!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 15/06/2020 . 5 menit baca

Dua Resep Sorbet, Camilan Segar Sehat yang Mudah Dibuat

Doyan camilan dingin yang manis, tapi takut gemuk kalau keseringan makan es krim? Sudahkah Anda mencoba sorbet? Anda bisa membuatnya sendiri di rumah, lho!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 14/06/2020 . 5 menit baca

Mengulik Serba-Serbi Diet South Beach untuk Menurunkan Berat Badan

Hampir serupa dengan diet Atkins, diet south beach menekankan pola makan dengan mengurangi konsumsi karbohidrat dan perbanyak protein.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Berat Badan Ideal, Hidup Sehat 05/06/2020 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

makanan dan buah untuk jantung lemah

Daftar Makanan yang Perlu Dikonsumsi dan Dihindari Penderita Jantung Lemah (Kardiomiopati)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 23/06/2020 . 7 menit baca
apa itu kolesterol

7 Hal yang Paling Sering Ditanyakan Tentang Kolesterol

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 5 menit baca
tidak cepat lapar

10 Makanan Terbaik untuk Anda yang Cepat Lapar

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21/06/2020 . 5 menit baca
frozen yogurt vs es krim sehat mana

Frozen Yogurt Versus Es Krim, Lebih Sehat Mana?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 17/06/2020 . 5 menit baca