Waspada 3 Risiko Berikut Jika Anda Menjalani Diet Tinggi Protein

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31/03/2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Mungkin Anda sedang menjalani diet untuk menurunkan berat badan? Atau sedang menjalani program untuk membentuk otot tubuh? Banyak orang yang menjalani diet tinggi protein untuk menurunkan berat badan atau membentuk otot secara cepat. Namun apakah diet tinggi protein itu aman?

Apa itu diet tinggi protein?

Protein merupakan zat yang sangat penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Zat gizi ini terdapat di hampir seluruh jaringan tubuh dan menjadi zat pembangun tubuh. Berbagai peran penting yang dilakukan protein dalam tubuh di antaranya adalah untuk menunjang pertumbuhan, pembentukan sistem kekebalan tubuh, hormon, enzim, dan berbagai jaringan tubuh lain. Berbagai prinsip diet banyak yang menganjurkan untuk mengonsumsi protein yang tinggi dan mengurangi karbohidrat. Selain itu, protein dianggap dapat menahan rasa lapar lebih lama.

Terdapat dua jenis tipe diet tinggi protein, yaitu diet yang disertai dengan pembatasan karbohidrat dan digantikan dengan protein, dan diet yang menggantikan seluruh kebutuhan karbohidrat dengan protein. Diet tinggi protein biasanya menghabiskan 25 hingga 35 persen dari total kalori dalam sehari. Sedangkan yang tubuh kita butuhkan hanya sekitar 10 sampai 15 persen protein dari total kalori sehari. Menurut ketentuan Kementerian Kesehatan tentang angka kecukupan gizi, kebutuhan protein normal yang harus dipenuhi setiap harinya adalah sebesar 62 hingga 65 gram untuk laki-laki dan 56 hingga 57 untuk perempuan usia dewasa, atau sebanyak 0,8-1,0 gram per kg berat badan per hari.

Apakah benar diet tinggi protein dapat menahan rasa lapar?

Beberapa ahli menyatakan bahwa mengonsumsi protein lebih banyak bisa meningkatkan kepuasan dan menahan rasa lapar lebih lama. Mengonsumsi makanan yang tinggi protein sehingga rendah lemak dan karbohidrat akan menimbulkan peningkatan hormon leptin dalam tubuh. Hormon leptin merupakan hormon yang bekerja untuk menurunkan dan menekan nafsu makan dalam tubuh. Oleh karena itu, banyak yang menyarankan untuk meningkatkan konsumsi protein jika ingin menurunkan berat badan.

Apa diet tinggi protein baik bagi kesehatan?

Ada beberapa dampak yang mungkin bisa ditimbulkan dari diet tinggi protein. Namun, bukan berarti diet tinggi protein itu tidak boleh dilakukan. Siapa saja yang harus lebih berhati-hati dalam menjalani diet tinggi protein?

Diet tinggi protein dan kerusakan ginjal

Walaupun ada anjuran untuk pasien penyakit ginjal, seperti gagal ginjal, untuk tidak mengonsumsi protein terlalu banyak, hal ini tidak berarti protein tidak baik dikonsumsi. Sebenarnya, orang sehat tidak masalah mengonsumsi makanan tinggi protein. Pasien yang sudah mengalami penyakit ginjal akibat berbagai faktor risiko, memang tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi protein yang terlalu banyak karena akan memperberat kerja ginjal, yang sebelumnya sudah mengalami kerusakan. Namun, bagaimana jika ginjal sehat dan mampu bekerja dengan baik? Tidak apa-apa mengonsumsi diet tinggi protein, dan beberapa penelitian menyatakan belum ada bukti yang kuat diet tinggi protein dapat menyebabkan penyakit ginjal pada orang yang sehat.

Diet tinggi protein dan kerusakan pada hati

Hati merupakan organ yang berperan penting dalam segala proses metabolisme dalam tubuh. Sama seperti kasus pada pasien penyakit ginjal, pasien yang mengalami gangguan fungsi hati seperti sirosis, dianjurkan untuk tidak mengonsumsi protein dalam jumlah banyak, bahkan harus mengurangi jumlah proteinnya dalam satu hari agar tidak memperparah gangguan pada hati. Namun pada orang yang sehat dan memiliki fungsi hati yang normal, tidak masalah mengonsumsi makanan tinggi protein. Sampai saat ini juga belum ada penelitian yang membuktikan bahwa mengonsumsi makanan tinggi protein dapat menyebabkan kerusakan hati.

Diet tinggi protein dan kanker

Sebuah penelitian yang dimuat pada Journal cell Metabolism menemukan bahwa mengonsumsi banyak sumber protein dalam waktu yang lama di pertengahan usia, meningkatkan risiko kematian karena berbagai sebab sebanyak 74%, dan risiko kematian akibat kanker meningkat menjadi 4 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi protein yang rendah. Bahkan hasil penelitian ini menyebutkan bahwa pada kelompok orang yang mengonsumsi protein dalam jumlah sedang masih memiliki risiko 3 kali lebih besar untuk terkena penyakit kanker dibandingkan dengan kelompok yang mengonsumsi dalam jumlah yang sedikit.

Lalu, apakah mengonsumsi protein itu berbahaya?

Tentu saja tidak, protein tetap zat yang paling dibutuhkan oleh tubuh, namun tipe dari protein yang kita makanlah yang mempengaruhi kejadian tersebut. Sebagian besar masyarakat mungkin menganggap sumber protein hanyalah yang berasal dari daging sapi atau daging ayam dan sebagainya. Padahal protein memiliki dua sumber yaitu protein hewani yang berasal dari hewan dan protein nabati yang berasal dari tumbuhan. Dalam penelitian itu, para peneliti menyatakan bahwa kelompok yang lebih banyak mengonsumsi protein nabati, seperti kacang kedelai, kacang merah, dan kacang-kacangan lainnya, memiliki risiko yang rendah untuk terkena penyakit kanker.

Jadi, bagaimana cara menjalani diet tinggi protein yang aman?

Dari berbagai penelitian yang telah disebutkan di atas, menerapkan diet tinggi protein tidak menimbulkan masalah pada orang yang sehat, namun tubuh Anda tetap memerlukan zat gizi lainnya untuk menunjang fungsi tubuh. Jika Anda melakukan diet tinggi protein dengan mengganti semua jumlah karbohidrat dengan protein, maka hal ini akan berbahaya bagi tubuh karena dapat mengakibatkan ketosis, di  mana tubuh kekurangan gula dalam tubuh yang biasa dipakai sebagai sumber energi dan kemudian memecah lemak sebagai pengganti bahan bakar. Proses ini akan menghasilkan zat keton dalam darah yang dapat berbahaya bagi kesehatan.

Makanlah dengan porsi yang cukup dan tetap mengonsumsi berbagai sumber makanan dalam sehari untuk menghindari Anda kekurangan suatu zat gizi. Selain itu, sebaiknya memilih sumber protein yang baik dan rendah lemak, seperti kacang-kacangan, ikan, daging ayam tanpa kulit, daging sapi tanpa lemak, dan produk susu yang rendah lemak.

BACA JUGA

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Umur Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Disunat?

    Momen anak disunat menjadi salah satu hal penting, khususnya di Indonesia. Tapi, dari sisi medis, kapan waktu yang tepat untuk melakukan sunat?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hidup Sehat, Tips Sehat 07/07/2020 . Waktu baca 4 menit

    Mengenal Diet Eliminasi (Elimination Diet) untuk Tahu Intoleransi Makanan

    Diet eliminasi akan membantu Anda untuk menemukan beberapa jenis makanan yang memperburuk kondisi tubuh Anda. Seperti apa dietnya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Alergi, Health Centers 05/07/2020 . Waktu baca 5 menit

    8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

    Banyak gejala penyakit yang sering kali kita abaikan karena terkesan remeh. Padahal, jika dibiarkan justru efeknya bisa fatal.

    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Tips Sehat 03/07/2020 . Waktu baca 4 menit

    Khasiat Mujarab Kacang Almond untuk Penderita Hipertensi

    Camilan yang gurih memang menggoda. Namun, sebaiknya mulai ganti camilan Anda dengan kacang almond, terutama untuk penderita hipertensi.

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hipertensi, Health Centers 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    kode wadah plastik pada makanan atau minuman

    Apakah Wadah Plastik untuk Makanan Anda Aman Bagi Kesehatan? Cari Tahu Lewat Kode Ini

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
    botol plastik hangat

    Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
    manfaat bersepeda

    Yuk, Ketahui Beragam Manfaat Bersepeda Bagi Kesehatan

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
    Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit
    kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

    Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit