Keratitis

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16 September 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu keratitis?

Keratitis adalah kondisi ketika bagian kornea Anda mengalami peradangan atau infeksi. Penyebabnya bisa karena infeksi virus, bakteri, jamur, atau bisa juga karena cedera pada mata.

Keratitis adalah jenis infeksi mata yang paling sering dialami oleh orang yang pakai lensa kontak. Kondisi ini menyebabkan mata terasa perih, kemerahan, dan cenderung sensitif terhadap cahaya.

Jika Anda mengalami mata merah atau gejala  lainnya, segera hubungi dokter. Kasus yang ringan hingga sedang biasanya dapat diobati secara efektif tanpa ada kehilangan penglihatan. 

Sebaliknya, jika tidak diobati, atau jika infeksinya parah, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi serius yang dapat merusak penglihatan Anda secara permanen. 

Gejala

Apa saja gejala keratitis?

Orang yang mengalami keratitis biasanya akan mengalami mata merah, berair, terasa perih, dan sensitif terhadap cahaya. Selain itu, dikutip dari Mayo Clinic, berikut adalah gejala dan tanda umum keratitis:

Kapan sebaiknya ke dokter?

Segera kunjungi klinik terdekat jika mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas. Terlebih jika Anda mengalaminya secara mendadak. Jika tidak diobati, keratitis bakteri dapat berujung kebutaan. Perawatan kondisi ini pun harus segera dilakukan untuk mencegah kehilangan penglihatan.

Penyebab

Apa saja penyebab keratitis?

Penyebab keratitis bisa karena infeksi virus, bakteri, jamur, atau bisa juga karena cedera pada mata. Berikut penjelasannya:

1. Virus

Salah satu virus yang dapat menjadi penyebab keratitis adalah herpes simplex virus (HSV). Dikutip dari American Academy of Ophthalmology, terdapat dua tipe HSV yang dapat menyebabkan Anda terkena keratitis:

  • Tipe I, yaitu virus yang paling umum dan biasanya menginfeksi wajah 
  • Tipe II, yaitu virus yang menyebar melalui hubungan seksual dan menginfeksi area genital

HSV tipe I sangat menular dan biasanya ditularkan melalui kontak fisik. Hampir 90 persen kemungkinan pernah terinfeksi virus ini pada masa kanak-kanak. 

2. Bakteri

Jenis bakteri yang menjadi penyebab keratitis adalah Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Keratitis akibat bakteri biasanya terjadi karena penggunaan lensa kontak, terutama lensa bekas pakai. 

Kondisi ini juga bisa disebabkan oleh cedera mata. Cedera terjadi ketika ada benda yang menggores atau melukai permukaan korna Anda. Dalam hal ini, keratitis tidak akan menular. 

Namun, ketika cedera menyebabkan kuman, termasuk bakteri, masuk ke kornea yang rusak, ini menyebabkan jenis yang menular. 

3. Jamur

Jenis jamur yang biasanya menginfeksi kornea adalah Fusarium, Aspergillus, atau Candida. Anda dapat terinfeksi jamur akibat cedera mata atau penggunaan lensa kontak. 

Selain bakteri, virus, dan jamur, mikroorganisme lain yang dapat menyebabkan keratitis adalah Acanthamoeba. Jenis ini merupakan infeksi langka, tapi serius, yang dapat menyebabkan kehilang penglihatan atau kebutaan.

Faktor risiko

Faktor apa saja yang dapat meningkatkan risiko terkena keratitis?

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena keratitis di antaranya adalah:

  • Menggunakan lensa kontak dalam waktu yang lama, terutama saat tidur, dapat meningkatkan risiko Anda terkena keratitis non-infeksi atau pun infeksi. 
  • Kekebalan tubuh terganggu akibat penyakit atau obat-obatan juga dapat membuat Anda cenderung terkena kondisi ini.
  • Mengonsumsi kortikosteroid untuk mengobati gangguan mata dapat meningkatkan risiko berkembangnya keratitis menular atau memperburuk kondisi yang sudah ada. 
  • Mengalami cedera mata yang mengakibatkan rusaknya kornea mata juga menyebabkan Anda lebih cenderung mengalami keratitis. 

Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana mendiagnosis kondisi ini?

Dokter akan menanyakan gejala apa saja yang Anda alami. Kemudian, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan di bawah ini: 

  • Pemeriksaan mata, yang termasuk menilai seberapa tajam penglihatan Anda. 
  • Pemeriksaan dengan senter, untuk memeriksa reaksi pupil Anda, ukuran dan faktor lainnya. 
  • Pemeriksaan slit-lamp, untuk mendeteksi karakter dan tingkat keratitis, serta efeknya pada struktur mata lainnya. 
  • Analisis laboratorium, yaitu langkah, yang dilakukan setelah dokter mengambil sampel air mata atau beberapa sel kornea, untuk membantu menentukan pengobatan yang tepat. 

Apa saja pilihan pengobatan untuk mengatasi keratitis?

Anda tidak perlu mengobati infeksi mata akibat keratitis jika disebabkan oleh cedera, contohnya karena kebiasaan mengucek mata. Biasanya, mata merah atau perih yang dirasakan akan hilang sendiri saat mata Anda sembuh.

Bila perlu, Anda bahkan hanya membutuhkan obat tetes mata untuk mempercepat penyembuhannya.

Namun, apabila keratitis menyebabkan infeksi yang lebih dalam pada kornea mata, maka kondisi ini dapat meninggalkan bekas luka yang tak boleh disepelekan.

Jika dibiarkan terus-menerus, luka tersebut bisa merusak penglihatan atau bahkan menyebabkan kebutaan. Untuk mencegahnya, pergilah ke dokter mata terdekat sesegera mungkin untuk mengobati infeksi mata akibat keratitis.

1. Air mata buatan

Cara mengobati infeksi mata akibat keratitis yang tergolong ringan adalah dengan menggunakan air mata buatan. Jenis pengobatan ini bekerja dengan cara meningkatkan jumlah cairan pada mata sekaligus mengurangi penguapan air mata. Dengan begitu, rasa perih dan merah di mata akan berkurang secara perlahan.

Air mata buatan ini bisa berbentuk obat tetes, salep, atau gel. Nah, Anda bisa memilihnya sesuai kebutuhan. Bila rasa nyeri pada mata tergolong ringan, lalu Anda mencari obat yang mudah dan nyaman digunakan, maka obat tetes bisa menjadi pilihan yang tepat.

Pemilihan obat tetes mata juga harus disesuaikan lagi dengan penyebab keratitis yang Anda alami. Bila kondisi disebabkan oleh jamur, maka Anda membutuhkan obat tetes mata yang sifatnya antijamur.

Sedangkan untuk mengobati infeksi mata yang tergolong parah, Anda mungkin membutuhkan obat berbentuk salep atau gel. Jenis obat ini sebaiknya digunakan pada malam hari karena teksturnya lebih kental dan dapat bikin pandangan kabur sejenak.

2. Antibiotik dan antiviral

Antibiotik oral digunakan untuk mengobati infeksi mata akibat keratitis bakteri yang tergolong sedang hingga berat. Jenis obat ini berfungsi untuk melawan bakteri dan menghilangkan infeksi pada mata.

Antiviral dapat digunakan untuk mengatasi keratitis ringan. Namun, tidak ada obat yang dapat mengobati virus herpes penyebab keratitis secara tuntas. Sekali tubuh Anda terserang virus, Anda tidak dapat menyingkirkannya. 

3. Transplantasi kornea

Transplantasi kornea dapat dilakukan untuk mengobati infeksi mata akibat keratitis acanthamoeba. Acanthamoeba itu sendiri adalah sejenis parasit yang bisa membuat kornea meradang dan cenderung sulit disembuhkan.

Sebagai langkah awal, Anda sebetulnya bisa mengobati infeksi mata ini dengan obat tetes mata yang mengandung antibiotik. Namun sayangnya, beberapa jenis parasit acanthamoeba cenderung resisten terhadap pengobatan.

Ketika tidak dapat diobati atau menyebabkan kornea rusak permanen, dokter akan menganjurkan transplantasi kornea sebagai jalan terakhir. Kornea yang sudah rusak akan diangkat dan diganti dengan jaringan kornea sehat dari mata pendonor. Secara bertahap, kedua mata Anda akan kembali jernih dan kian jelas untuk melihat.

Pencegahan

Apa saja langkah yang dapat mencegah keratitis?

Salah satu langkah penting untuk mencegah kondisi ini adalah memerhatikan penggunaan dan kebersihan lensa kontak. Lakukan tips di bawah ini sebagai pencegahan:

  • Gunakan lensa kontak harian dan lepaskan saat Anda tidur.
  • Cuci tangan dan keringkan tangan Anda sebelum menyentuh lensa kontak.
  • Ikuti rekomendasi dokter mata untuk merawat lensa kontak.
  • Gunakan produk steril untuk merawat lensa kontak.
  • Ganti wadah lensa kontak Anda paling tidak tiga sampai enam bulan sekali.
  • Jangan menggunakan lensa kontak saat Anda berenang.

Sementara itu, sebagian keratitis yang disebabkan oleh virus tidak dapat sepenuhnya dihindari. Namun, Anda bisa melakukan tips di bawah ini untuk mengendalikan penularan:

  • Jika Anda mengalami herpes blister, hindari menyentuh mata, kelopak mata, dan kulit di sekitar mata Anda sebelum mencuci tangan.
  • Gunakan obat tetes mata yang diresepkan dokter. 
  • Sering mencuci tangan untuk mencegah penyebaran virus. 

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sederet Bahan Herbal yang Berpotensi Sebagai Obat untuk Psoriasis

Lidah buaya dan cuka apel adalah dua obat alami yang sering digunakan untuk penyakit psoriasis. Seberapa efektif kerja obat herbal psoriasis ini?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Penyakit Kulit, Psoriasis 25 September 2020 . Waktu baca 9 menit

Obat Paling Ampuh untuk Menghilangkan Cacing Kremi

Ada sejumlah pilihan obat cacing kremi yang bisa Anda coba, mulai dari obat kimia atau obat dari bahan alami. Baca selengkapnya dalam artikel ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Tips Sehat 25 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

Hati-hati jika punya riwayat penyakit ginjal kronis atau akut. Komplikasinya bisa merambat sampai otak, disebut dengan ensefalopati uremikum.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Urologi, Ginjal 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Kencing dengan posisi berdiri kerap dilakukan pria, tapi mereka yang mengidap gangguan saluran kemih justru dilarang. Apa alasannya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Urologi, Kandung Kemih 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gangguan pencernaan anak

Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Bayi dan Anak-Anak

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 10 menit
perut panas setelah makan; perut perih setelah makan; perut mulas

Perut Panas dan Ulu Hati Sakit Setelah Makan? Begini Mengatasinya

Ditulis oleh: Priscila Stevanni
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
cedera kaki pakai tongkat kruk

Begini Cara Menggunakan Tongkat Kruk yang Benar Saat Sedang Cedera Kaki

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
psoriasis kuku

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Psoriasis pada Kuku

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit