Awas, Stres Karena Pekerjaan Bisa Memperpendek Usia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Secara umum, bekerja keras adalah hal yang baik. Bekerja keras bisa membantu Anda meningkatkan potensi diri serta mengejar jenjang karier yang lebih baik. Namun, bekerja terlalu keras sampai menimbulkan stres akibatnya bisa fatal. Penelitian menunjukkan bahwa stres bisa menyebabkan kematian dini atau kematian yang mendadak. Maka, sebaiknya jangan remehkan stres yang muncul saat bergelut dengan berbagai tekanan yang Anda hadapi di kantor. Simak baik-baik informasi lengkap soal stres karena pekerjaan di bawah ini.

Mengenal gejala stres karena pekerjaan

Stres adalah sebuah kondisi yang bisa menghantui Anda perlahan-lahan, sehingga kadang Anda tidak menyadarinya. Terutama saat berhadapan dengan pekerjaan, banyak orang menyepelekan atau tidak begitu memahami berbagai gejala yang menandakan munculnya stres. Stres karena pekerjaan juga sering dikenal dengan sebutan job burnout. Berikut adalah contoh-contoh gejala stres karena pekerjaan.

  • Selalu merasa lelah meskipun sudah tidur cukup atau mengonsumsi minuman berkafein
  • Kehilangan semangat dan dorongan untuk berangkat ke kantor dan bekerja
  • Muncul pikiran-pikiran negatif seputar kehidupan profesional Anda, misalnya soal apa yang Anda kerjakan, orang-orang dalam tim kerja Anda, atau hasil yang akan dicapai
  • Gangguan kognitif seperti sulit berkonsetrasi atau mengingat
  • Kinerja yang menurun, misalnya tidak bisa memenuhi tenggat waktu atau target yang ingin dicapai
  • Timbul masalah pribadi dengan rekan kerja, klien, atasan, bahkan keluarga di rumah
  • Mengabaikan kesehatan dan perawatan diri, misalnya dengan cara merokok, terlalu banyak minum kopi, lupa makan, atau minum obat tidur setiap malam
  • Tidak bisa melepas pikiran dari pekerjaan Anda bahkan saat Anda sedang tidak bekerja atau di kantor

Benarkah stres bisa berakibat kematian?

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yale University School of Medicine, stres pada manusia bisa mengakibatkan kematian mendadak karena ritme jantung yang tidak normal. Penelitian yang diterbitkan oleh American Heart Association dalam jurnal bertajuk Circulation ini mengungkapkan bahwa stres karena pekerjaan atau studi (atau apa pun yang melibatkan kinerja dan prestasi seseorang) bisa mengubah irama detak jantung manusia. Aritmia atau gangguan irama jantung yang terjadi pada orang yang stres terjadi lebih cepat dan lebih sulit dikendalikan daripada mereka yang mengalami aritmia karena alasan lain. Tekanan mental ternyata sangat berpengaruh pada sirkuit jantung. Jika stres yang dialami terlalu berat, Anda bisa tiba-tiba mengalami serangan jantung yang bersifat fatal atau mematikan.

Penelitian lain oleh para ahli di Columbia University Medical Center juga mendukung hasil penemuan Yale University School of Medicine. Dalam studi yang berlangsung selama enam tahun tersebut, diketahui bahwa mereka yang memiliki masalah jantung dan mengalami stres berat berisiko melalui ‘periode rentan’. Periode ini adalah masa-masa di mana seseorang rentan mengalami kematian mendadak yang disebabkan oleh stres dan komplikasi pada jantung. Biasanya periode yang rentan ini berlangsung kira-kira selama dua setengah tahun. Setelah melewati periode tersebut, penelitian yang melibatkan 5.000 peserta ini menyimpulkan bahwa risiko kematian dini atau kematian mendadak akan berangsur-angsur menurun.  

Bisakah stres karena pekerjaan memperpendek usia?

Dampak dari stres karena pekerjaan sudah sering dibahas, misalnya kondisi kesehatan yang menurun. Namun, sebuah studi yang dilakukan oleh Indiana University Kelley School of Business baru-baru ini mengungkapkan fakta baru. Stres berkepanjangan karena situasi pekerjaan bisa memotong harapan hidup alias mempercepat kematian seseorang. Penelitian yang berlangsung selama tujuh tahun tersebut menemukan bahwa orang yang hanya memiliki sedikit (atau tidak ada sama sekali) kendali terhadap pekerjaan mereka cenderung lebih cepat meninggal daripada mereka yang lebih fleksibel dalam bekerja.

Ada dua faktor yang dipertimbangkan untuk mencapai kesimpulan tersebut. Faktor pertama adalah besarnya tuntutan pekerjaan yang dihadapi peserta penelitian, antara lain seperti banyaknya pekerjaan, lamanya waktu bekerja, dan konsentrasi yang dibutuhkan. Faktor kedua adalah kendali atas pekerjaan mereka. Kendali atas pekerjaan contohnya adalah keleluasaan untuk memutuskan sendiri work flow atau jadwal kerja yang paling sesuai, kebebasan untuk berpendapat, dan kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri.

Hasil dari penelitian tersebut cukup mengejutkan. Mereka yang tuntutan kerjanya sangat tinggi dan tidak memiliki banyak kendali terhadap pekerjaannya menunjukkan angka kematian yang 15% lebih cepat daripada orang-orang kebanyakan. Sementara itu, mereka yang memiliki kendali penuh terhadap pekerjaannya memiliki harapan hidup 34% lebih lama daripada mereka yang tidak memiliki kendali terhadap pekerjaannya.   

Menghindari stres karena pekerjaan

Untuk menghindari stres karena pekerjaan, Anda harus benar-benar memahami sifat dan kebiasaan Anda sendiri. Dengan mengenali kebiasaan kerja Anda, Anda pun akan lebih mahir dalam menyesuaikan diri terhadap tekanan dan masalah yang muncul. Pastikan juga bahwa Anda benar-benar menyukai pekerjaan Anda. Dengan demikian, tantangan yang Anda hadapi akan terasa lebih ringan.

Namun, jika beberapa tanda stres sudah mulai dirasakan, bersegeralah menyempatkan waktu untuk menenangkan diri. Mungkin Anda merasa sudah tidak punya waktu lagi, tetapi ingatlah bahwa memaksakan diri untuk bekerja di bawah tekanan juga tidak akan membuat Anda lebih produktif. Lebih baik cari waktu sejenak untuk beristirahat dan melakukan hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian seperti menghabiskan waktu bersama keluarga. Saat melakukan ini, hindari dulu alat-alat elektronik Anda supaya tidak tambah stres dan terus teringat-ingat pada pekerjaan.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Waktu Paling Sehat untuk Minum Kopi Ternyata Bukan Pagi Hari

    Anda penggemar kopi? Kapan Anda biasanya minum kopi? Jika jawabannya pagi hari, Anda salah waktu. Cari tahu waktu efektif minum kopi di artikel ini.

    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Hidup Sehat, Fakta Unik 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Cara Mudah Ukur Kebugaran Jantung dan Paru, Tak Perlu Periksa ke Rumah Sakit

    Cepat lelah dan kehabisan napas bisa jadi tanda kebugaran jantung dan paru-paru Anda kurang baik. Tapi bagaimana cara mengukurnya? Simak di sini!

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
    Kebugaran, Hidup Sehat 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    6 Tips Membantu Pasangan yang Malu Berhubungan Intim

    Mau coba hal-hal baru di ranjang, tapi pasangan Anda malu berhubungan intim? Tenang, Anda bisa membangkitkan kehidupan seks Anda dengan beragam cara ini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Seks & Asmara 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Begini Cara Menggunakan Tongkat Kruk yang Benar Saat Sedang Cedera Kaki

    Ketika Ada mengalami cedera kaki, mungkin Anda akan diminta untuk menggunakan tongkat penyangga (kruk) untuk berjalan. Lalu bagaimana cara menggunakannya?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Tips Sehat 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    kepribadian introvert ekstrovert kesehatan

    Apakah Kepribadian Anda Introvert atau Ekstrovert? Ini Pengaruhnya untuk Kesehatan

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
    Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    gangguan pencernaan anak

    Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Bayi dan Anak-Anak

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Riska Herliafifah
    Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 10 menit
    Seks dengan Lampu Menyala

    6 Alasan Seks Lebih Menyenangkan dengan Lampu Menyala

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    teh tanpa kafein

    3 Jenis Teh yang Tidak Mengandung Kafein

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit