Benarkah Perilaku Manusia Adalah Bawaan dari Lahir?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Setiap manusia memiliki gen dan rangkaian DNA yang berbeda-beda, sehingga jarang ada yang memiliki muka yang mirip – kecuali kembar identik. Masing-masing orang memiliki perbedaan fisik, bahkan pada saudara kembar yang identik pun masih terdapat perbedaan fisik. Penampilan fisik yang terlihat, seperti warna dan gaya rambut, tinggi atau pendek, bentuk wajah, hidung, mulut, bahkan alis berbeda pada setiap orang. Perbedaan ini terbentuk akibat perbedaan gen serta DNA yang dimiliki oleh masing-masing orang.

Lalu, bagaimana dengan sifat dan perilaku seseorang? Apakah terbentuk juga dari gen dan DNA? Dari mana asalnya dan apakah genetik mempengaruhi perilaku seseorang? Sama seperti perbedaan fisik, setiap orang juga mempunyai perbedaan sifat, kebiasaan serta perilaku. Namun pertanyaan yang masih menjadi misteri sampai saat ini adalah apa yang membentuk perilaku serta kebiasaan seseorang? Apakah hanya lingkungan atau genetik juga berkontribusi dalam hal tersebut?

BACA JUGA: Perubahan Gen Akibat Lingkungan, Bagaimana Bisa?

Apakah perilaku dipengaruhi genetik?

Teori yang pernah ada menyatakan bahwa masing-masing DNA yang terdapat di dalam gen manusia akan mempengaruhi kerja sel. Proses kimiawi pada DNA ini akan menghasilkan surat perintah yang berbeda-beda pada masing-masing sel. Ketika sel tersebut melakukan perintah yang telah dibuatkan maka hal ini kemudian secara tidak langsung mempengaruhi tindakan dan perilaku seseorang.

Tetapi, teori ini masih menjadi perdebatan karena perilaku yang muncul tidak lepas dari lingkungan. Dari teori ini muncul pernyataan bahwa dua orang individu yang mungkin memiliki persamaan genetik – seperti saudara kembar identik yang memiliki kesamaan gen sekitar 99% – mempunyai perilaku yang berbeda karena hidup di lingkungan yang berbeda dan dua orang individu yang tidak ada kemiripan genetik, tinggal di lingkungan yang sama setiap hari juga mempunyai perilaku berbeda.

BACA JUGA: Seberapa Sehatkah Menjadi Seorang Vegan?

Penelitian tentang pengaruh genetik terhadap perilaku manusia

Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk menjawab hal tersebut. Tetapi tetap saja belum ada jawaban yang pasti sampai sekarang. Hal ini terjadi karena sangat susah untuk mengetahui seberapa besar gen dan lingkungan mempengaruhi seseorang dalam berperilaku, mengambil keputusan, atau melakukan kebiasaannya. Penelitian-penelitian tersebut bahkan telah dilakukan pada berbagai objek, seperti anak kembar identik dan fratenal, bahkan pada kelompok orang yang memiliki sindrom mental.

Sebuah riset lain juga telah dilakukan dan melibatkan penderita sindrom Williams. Sindrom ini cukup langka dan menyebabkan penderitanya mengalami berbagai kekurangan, yaitu gangguan belajar sesuatu, mempunyai kepribadian yang unik, kemampuan intelektual juga rendah. Tidak hanya masalah pada kemampuan psikis saja, sindrom Williams ini menyebabkan penderitanya mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah. Kemudian para peneliti dalam penelitian tersebut mengukur kemampuan otak responden mereka dengan melakukan berbagai tes, seperti tes kemampuan bahasa dan kemampuan mengingat.

Peneliti mencoba untuk mengerti dan menemukan hubungan antara gen dan perilaku dengan melihat perilaku pada penderita sindrom Williams. Lalu, mereka berhasil menemukan adanya perbedaan sistem kerja otak pada penderita Williams dibandingkan dengan orang yang normal. Hal ini menyatakan bahwa memang genetik bisa berpengaruh pada perilaku dan kehidupan sosial seseorang. Namun hal mengejutkan muncul dari hasil penelitian tersebut, yaitu diketahui bahwa otak pada penderita sindrom Williams kembali bekerja dengan normal setelah mereka beranjak dewasa. Dan peneliti pun menyatakan bahwa terdapat pengaruh lingkungan pada penderita sindrom Williams.

BACA JUGA: Nutrigenomik: Mengonsumsi Makanan Sesuai Dengan Gen Anda

Lingkungan tidak kalah penting dalam menentukan perilaku

Penelitian lain malah menyatakan bahwa perilaku antisosial seseorang telah ada di dalam gen orang tersebut, hal ini berarti menyatakan bahwa antisosial adalah bawaan dari lahir. Penelitian yang dilakukan pada 1300 anak remaja yang berumur 17 hingga 18 tahun di Swedia ini menemukan bahwa pada anak yang cenderung anti dengan kehidupan sosial, pasif, serta menarik diri dari lingkungan memiliki lebih banyak monoamine oxidase A (MAOA), yaitu  sejenis zat perantara yang ada di sistem saraf yang berfungsi untuk mengantarkan sinyal antar sel saraf.

Dari penelitian ini juga ditemukan bahwa remaja yang memiliki MAOA tinggi tersebut mempunyai pengalaman kekerasan di masa kecilnya. Maka dapat disimpulkan bahwa genetik memang mempengaruhi perilaku seseorang tapi hal itu tidak terlepas dari lingkungan serta pengalaman yang pernah dialaminya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

    Kenikmatan kopi sudah tidak diragukan. Namun, tahukan Anda ada beberapa cara membuat kopi yang dapat menjadikan manfaatnya lebih baik untuk kesehatan.

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hidup Sehat, Tips Sehat 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

    Kenapa Ada Orang yang Mengalami Alergi Bawang Putih dan Bisakah Diobati?

    Selain alergi susu dan kacang, ada juga alergi bawang putih. Apa penyebabnya dan adakah cara mengatasinya? Simak penjelasan berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Alergi, Alergi Makanan 20 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

    4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

    Anda suka nekat makan daging ayam belum matang? Awas, akibatnya bisa fatal. Ini dia berbagai bahaya dan ciri-ciri daging ayam yang belum dimasak sempurna.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

    MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    KDRT konflik rumah tangga

    Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
    tips menghindari perceraian

    7 Rahasia Menghindari Perceraian dalam Rumah Tangga

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
    masalah seks pada pria

    5 Masalah Seks yang Paling Mengganggu Pria (Plus Cara Mengatasinya)

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
    pekerjaan rumah tangga saat hamil

    Pekerjaan Rumah Tangga Ini Dilarang Bagi Ibu Hamil

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit