Hati-hati, 7 Hal Ini Bisa Membuat Tubuh Mengalami Kelebihan Cairan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 05/01/2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Apakah Anda tahu bahwa tubuh juga bisa kelebihan cairan? Bahkan jika tak ditangani, kondisi yang disebut dengan hipervolemia ini bisa menyebabkan berbagai komplikasi penyakit seperti pembengkakan jantung, gagal jantung, hingga kerusakan jaringan. Agar terhindar dari kondisi ini, yuk cari tahu dahulu apa  saja penyebab kelebihan cairan dalam tubuh.

Berbagai penyebab kelebihan cairan dalam tubuh

Terlalu banyak cairan dalam tubuh dapat merusak kesehatan. Berikut beberapa penyebab mengapa cairan di dalam tubuh bisa berlebih.

1. Gagal jantung kongestif

congestive heart failure (CHF) gagal jantung kongestif adalah

Gagal jantung kongestif adalah kondisi saat jantung tidak mampu memompa darah ke seluruh tubuh. Ketika kemampuan jantung untuk memompa darah mengalami penurunan, maka berbagai organ di dalam tubuh tidak mampu bekerja secara maksimal, termasuk ginjal.

Padahal ginjal bertugas untuk mengeluarkan kelebihan cairan di dalam tubuh melalui urine. Akhirnya cairan akan menumpuk di dalam tubuh dan merusak berbagai jaringan di dalam tubuh.

2. Gagal ginjal

gagal ginjal kronis dan risiko penyakit jantung

Ginjal membantu mengatur kadar natrium dan cairan di dalam tubuh. Akibatnya, orang-orang dengan masalah ginjal berisiko mengalami hipervolemia. Bahkan, dikutip dari Medical News Today, sebuah penelitian menyatakan bahwa orang dengan masalah ginjal yang cukup parah cenderung ditempatkan di unit perawatan kritis di rumah sakit.

Penulis menunjukkan bahwa orang gagal ginjal yang mengalami hipervolemia ini sangat berisiko terkena gagal jantung kongestif, masalah pada usus, dan penyembuhan luka yang lebih lama. Tak hanya itu, orang yang mengalami kondisi hipervolemia dan memiliki penyakit ginjal stadium akhir bisa membuat pengidapnya mengalami sleep apnea.

3. Sirosis hati

penyakit hati (liver) hepatitis sirosis

Hipervolemia bisa muncul dan terjadi pada orang yang memiliki penyakit sirosis hati. Sirosis adalah jaringan parut yang sangat parah pada hati. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh kebiasaan minum alkohol berlebihan atau infeksi virus. Akibatnya, orang yang memiliki sirosis hati memiliki fungsi hati yang sangat buruk.

Hati tidak dapat menyimpan dan memproses nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Selain itu, hati juga tak lagi mampu menyaring racun dengan benar. Salah satu masalah yang paling sering muncul ialah penumpukan cairan di area perut atau yang disebut dengan ascites.

4. Cairan infus

rawat inap

Cairan infus biasanya diberikan untuk membantu orang yang mengalami dehidrasi atau tidak dapat minum cukup cairan, misalnya pascaoperasi. Cairan ini mengandung natrium (garam) dan air untuk mengisi kembali cairan tubuh dan menyeimbangkan kadarnya di dalam tubuh.

Sayangnya, tubuh yang mendapatkan terlalu banyak cairan infus bisa mengalami hipervolemia. Apalagi jika Anda memiliki berbagai masalah kesehatan lain yang bisa meningkatkan risiko tersebut. Kondisi ini umumnya terjadi selama dan pascaoperasi.

5. Perubahan kadar hormon

Perubahan kadar hormon dalam tubuh dalam kondisi-kondisi tertentu seperti saat premenstrual syndrome (PMS) dan hamil bisa membuat tubuh menahan lebih banyak natrium dan air. Kondisi ini akhirnya membuat Anda mengalami kembung atau pembengkakan ringan.

6. Obat-obatan

efek minum pil kb

Obat-obatan tertentu yang menyebabkan perubahan hormonal juga bisa membuat tubuh mengalami kelebihan cairan. Pil KB, terapi penggantian hormon, dan obat-obatan hormonal lain membuat tubuh terlalu banyak menahan garam dan cairan. Selain itu, obat-obatan seperti antidepresan, tekanan darah, dan obat antiradang nonsteroid (NSAID) dapat menyebabkan hipervolemia ringan.

7. Makan terlalu banyak garam

manfaat garam untuk wajah

Makanan yang tinggi garam (natrium) bisa membuat tubuh menahan air. Kebiasaan ini membuat penurunan fungsi ginjal untuk mengeluarkan kelebihan air di dalam tubuh. Akibatnya, kelebihan cairan dalam tubuh menumpuk dan merusak keseimbangan.

Selain mengalami hipervolemia, Anda juga berisiko mengalami kerusakan ginjal. Hal ini karena cairan berlebih memberikan tekanan yang cukup besar pada pembuluh darah yang mengarah ke ginjal. Akibatnya, lama-lama ginjal akan rusak dan tidak lagi mampu untuk berfungsi sebagaimana mestinya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Beragam Komplikasi Pneumonia yang Perlu Diwaspadai

Pneumonia dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang mengancam jiwa. Meskipun begitu, pneumonia merupakan kondisi yang bisa dirawat hingga sembuh.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Pernapasan, Pneumonia 27/05/2020 . Waktu baca 6 menit

Perawatan Pasien Cuci Darah yang Rentan Tertular COVID-19

Karena ketidakberfungsian ginjalnya, pasien cuci darah memiliki risiko terinfeksi COVID-19 lebih tinggi daripada mereka tidak memiliki penyakit penyerta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 09/04/2020 . Waktu baca 5 menit

Apa Itu Prosedur Cimino Dalam Proses Cuci Darah?

Cimino merupakan salah satu prosedur dalam proses cuci darah (hemodialisis). Apa itu cimino dan bagaimana prosedurnya dilakukan? Simak artikel berikut.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Penyakit Ginjal dan Saluran Kemih, Health Centers 31/03/2020 . Waktu baca 4 menit

Pengobatan Hemodialisis dan CAPD untuk Gagal Ginjal, Mana yang Lebih Baik?

Hemodialisis dan CAPD adalah dua metode pencucian darah yang sering digunakan untuk pengobatan gagal ginjal. Namun, manakah yang lebih baik?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Penyakit Ginjal dan Saluran Kemih, Health Centers 23/03/2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pengobatan gagal ginjal

Informasi Pengobatan dan Perawatan untuk Pasien Gagal Ginjal

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 6 menit
gagal jantung akut

Gagal Jantung Akut, Apa Bedanya dengan Gagal Jantung Kronis?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . Waktu baca 5 menit
komplikasi gagal jantung

Berbagai Komplikasi Gagal Jantung yang Perlu Diwaspadai

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 7 menit
penyebab gagal jantung

Penyebab Gagal Jantung dan Faktor Risikonya, Apa Saja?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 15/06/2020 . Waktu baca 12 menit