Uji Coba Riset Pada Hewan Tidak Selalu Sama dengan Manusia, Kenapa?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 17 Desember 2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Untuk menguji efektivitas tanaman herbal, obat, maupun penyakit, dibutuhkan penelitian mendalam. Nah, periset sering kali menggunakan hewan sebagai bahan percobaan. Namun, tidak semua penelitian berbasis hewan ini memberikan efek yang sama pada manusia. Apa alasannya?

Kenapa penelitian banyak yang menggunakan hewan?

Binatang tidak hanya menjadi sahabat bagi manusia, tapi juga bahan percobaan untuk penelitian. Sebut saja tikus, kelinci, anjing, kucing, dan simpanse, hewan-hewan ini sangat umum digunakan sebagai hewan percobaan.

Umumnya, penelitian yang dilakukan sangat berhubungan dengan dunia kesehatan, contohnya penemuan obat atau teknik pembedahan baru. Kenapa penelitian tidak langsung diterapkan pada manusia, melainkan pada hewan?

Penelitian tidak akan diujikan pertama kali pada manusia untuk mencegah terjadinya kegagalan yang berakhir dengan kerusakan, gangguan, kecacatan, maupun kematian. Untuk menghindari risiko tersebut, itulah sebabnya binatang menjadi objek pengganti untuk diketahui keamanan dan efektivitasnya.

Menurut laman National Academy Press, hewan juga memiliki kesamaan biologis dengan manusia sehingga menjadi bahan percobaan yang baik untuk beberapa penyakit tertentu. Contohnya, periset menjadikan kelinci untuk mengetahui perkembangan penyakit aterosklerosis dan monyet untuk mengembangkan vaksin polio.

Namun, penelitian hewan tidak selalu efektif pada manusia

fungsi otak manusia

Walaupun memiliki kesamaan biologis, penelitian berbasis binatang tidak selalu menunjukkan hasil yang efektif pada manusia.

Peneliti dari Institute Allen di Seattle menyelidiki hal ini secara mendalam. Mereka mengamati perbandingan jaringan otak dari pasien epilepsi yang sudah meninggal dengan otak tikus.

Bagian otak yang diamati adalah girus temporal medial, yakni area otak yang berfungsi untuk memproses bahasa dan penalaran deduktif. Setelah dibandingkan, sel otak yang ada pada tikus mirip dengan sel otak manusia. Namun, peneliti juga menemukan perbedaan, yakni reseptor serotonin.

Serotonin adalah hormon yang dihasilkan otak untuk mengatur nafsu makan, suasana hati, memori, dan keinginan tidur. Sel reseptor yang ada pada manusia tidak ditemukan pada sel yang sama di hewan penelitian ini.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa hasil uji obat depresi yang bekerja untuk meningkatkan kadar serotonin, akan dialirkan ke sel otak yang berbeda antara manusia dan tikus.

Selain sel reseptor serotonin, periset juga menemukan adanya perbedaan pada ekspresi gen yang membangun koneksi antar neuron (saraf). Itu artinya, peta yang menggambarkan hubungan antar saraf di manusia akan terlihat berbeda dengan yang tampak pada tikus.

Peneliti percaya bahwa perbedaan tersebut menunjukkan bahwa otak manusia dan sistem saraf manusia, jauh lebih kompleks dari pada hewan.

Pasalnya, otak manusia tidak hanya bertanggung jawab untuk mengatur pergerakan, komunikasi, daya ingat, persepsi, dan emosi, tapi juga penalaran moral, keterampilan berbahasa, dan belajar.

Jadi, kesimpulannya …

Penelitian berbasis hewan tidak 100% menunjukkan efek yang sama jika dilakukan oleh manusia. Oleh karena itu, penelitian tersebut perlu dilakukan peninjauan berulang kali.

Namun, dengan adanya penelitian dengan hewan sebagai bahan percobaan bisa menjadi memberikan harapan para ilmuwan mengenai bidang kesehatan dan pengobatan di masa depan.

Bahkan, bila sudah diujicobakan pada manusia, perlu memenuhi berbagai ketentuan, yakni dilakukan skala besar dan dilihat berbagai faktor yang memengaruhi, seperti usia, jenis kelamin, masalah kesehatan, atau kebiasaan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Kenapa Kita Bisa Merasakan Saat Ada Sepasang Mata yang Sedang Mengawasi?

    Saat duduk di restoran, tiba-tiba Anda merasa diawasi oleh sepasang mata. Bagaimana perasaan ini bisa muncul? Firasat belaka atau ada penjelasan ilmiahnya?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi, Fakta Unik 13 Agustus 2017 . Waktu baca 4 menit

    5 Fakta Menakjubkan Soal Organ Tubuh Buatan

    Perkembangan teknologi di bidang kesehatan begitu pesat dan mengagumkan. Salah satunya organ buatan (artifisial). Cari tahu seluk-beluknya di sini, yuk!

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 31 Mei 2017 . Waktu baca 4 menit

    Ini yang Akan Terjadi Pada Tubuh Manusia Jika Lari Secepat Kilat

    Pada kenyataannya, jika manusia lari secepat kilat bak Quicksilver atau The Flash, hal-hal mengerikan akan terjadi pada tubuh, seperti ini.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 10 April 2017 . Waktu baca 4 menit

    Berapa Lama Manusia Dapat Bertahan Hidup Tanpa Makan dan Minum?

    Manusia hanya dapat bertahan hidup selama tiga menit tanpa udara. Di hari keberapa tubuh akan mulai menggerogoti dirinya sendiri karena tidak makan?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Hidup Sehat, Fakta Unik 11 Desember 2016 . Waktu baca 6 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    Segudang Manfaat yang Ditawarkan dari Memelihara Ikan

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 11 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
    memilih hewan untuk anak

    Tidak Perlu Bingung Pilih Hewan Peliharaan untuk Anak, Ini 5 Tips dan Manfaatnya

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 10 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit
    efek kesehatan makan trenggiling

    Saatnya Berhenti Mengonsumsi Trenggiling

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 13 Februari 2020 . Waktu baca 5 menit
    gambar tangan manusia

    Gambar Tangan Manusia Beserta Fungsi Setiap Bagiannya

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 7 November 2018 . Waktu baca 12 menit