Wanita Lebih Bisa Menahan Nyeri Daripada Pria, Mitos Atau Fakta?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Katanya, toleransi nyeri alias kemampuan orang menahan rasa sakit itu beda-beda. Toleransi atau ambang batas nyeri adalah titik ketika suatu stimulus, misalnya panas, menimbulkan rasa sakit pada tubuh Anda. Orang-orang dengan toleransi rendah lebih mudah merasakan sakit dibandingkan mereka yang memiliki toleransi lebih tinggi.

Wanita disebut-sebut memiliki toleransi rasa sakit yang lebih tinggi dibandingkan pria. Hal ini diduga berhubungan dengan kemampuan tubuh wanita untuk menahan rasa sakit ketika menghadapi nyeri menstruasi dan melahirkan. Namun, benarkah demikian?

Mengapa kemampuan menahan rasa sakit setiap orang berbeda?

Rasa sakit timbul akibat interaksi antara jaringan saraf dan otak. Saraf menyampaikan sinyal-sinyal kepada otak, kemudian otak mengartikannya sebagai nyeri sehingga tubuh bisa menanggapinya dengan refleks menghindar.

Perbedaan kemampuan seseorang dalam menahan rasa sakit biasanya bergantung pada interaksi tersebut. Beberapa faktor lain yang membuat kemampuan menahan rasa sakit orang beda-beda, yaitu:

  • Usia. Lansia memiliki toleransi lebih tinggi terhadap nyeri, tapi penyebabnya belum diketahui secara pasti.
  • Jenis kelamin. Wanita diketahui lebih mampu menahan rasa sakit dibandingkan pria.
  • Genetik. Gen pada tubuh Anda dapat memengaruhi ketahanan terhadap rasa sakit dan efektivitas obat pereda nyeri.
  • Penyakit kronis yang mengubah toleransi sakit.
  • Gangguan psikologis, stres, dan isolasi diri. Ketiganya dapat menurunkan toleransi seseorang terhadap nyeri.
  • Ekspektasi saat menghadapi sumber nyeri. Misalnya, rasa takut akan jarum suntik bisa membuat rasa sakitnya seakan bertambah besar.
  • Pengalaman sebelumnya. Contohnya, orang yang terbiasa terpapar suhu tinggi mungkin lebih bisa menahan rasa sakit.

Kemampuan menahan rasa sakit antara pria dan wanita berbeda

Terdapat perbedaan kemampuan antara pria dan wanita dalam menahan rasa sakit. Perbedaan ini disinyalir berkaitan dengan faktor biologis, psikologis, dan sosial.

1. Faktor biologis

Hormon seks, yakni estrogen dan testosteron, berpengaruh terhadap perbedaan kemampuan menahan nyeri antara pria dan wanita.

Selama siklus menstruasi, wanita lebih sering merasakan sakit/nyeri. Sensasi nyeri ini bisa muncul pada sebelum, saat, atau setelah menstruasi.

2. Faktor sosial dan psikologis

Cara pria dan wanita dalam merespons rasa sakit juga berperan dalam perbedaan toleransi. Wanita cenderung lebih cepat pulih dari rasa sakit.

Saat tubuhnya mengalami nyeri, mereka pun lebih cepat mencari bantuan medis dan tidak membiarkan rasa nyeri berlama-lama di tubuh.

Dibandingkan pria, para wanita memiliki lebih banyak cara untuk mengelola rasa sakit dengan baik. Mereka juga lebih mahir mengalihkan perhatian dari rasa sakit dan memiliki lebih banyak dukungan untuk mengatasinya.

Mengapa toleransi nyeri wanita lebih tinggi?

Rasa sakit adalah hal yang sangat subjektif. Apa yang menurut Anda menyakitkan belum tentu terasa sama bagi orang lain.

Inilah yang menjadi penghambat dalam berbagai penelitian mengenai toleransi rasa sakit pada pria dan wanita.

Kendati demikian, penelitian yang dilakukan oleh Stanford University School of Medicine menghasilkan sebuah titik terang.

Ternyata, alasan di balik fenomena ini adalah karena wanita mengalami rasa sakit yang lebih besar dibandingkan pria.

Pada studi skala besar tersebut, peserta penelitian dari kelompok wanita melaporkan rasa sakit yang lebih besar pada semua kategori penyakit.

Dari skala 1-10, angka yang mereka laporkan rata-rata satu tingkat lebih tinggi dibandingkan pria.

Hal ini juga membuat wanita menjadi lebih peka terhadap rasa nyeri sehingga bisa mengatasinya dengan lebih efektif. Melalui mekanisme inilah, wanita lebih mampu menahan rasa sakit alias memiliki toleransi nyeri yang lebih tinggi dibandingkan pria.

Baca Juga:

Sumber