Kenapa Malah Sakit Perut Setelah Makan?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Makan biasanya dilakukan untuk memenuhi rasa lapar yang menyerang dan untuk mencegah perut terasa perih dan nyeri jika terlambat dilakukan, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit maag. Namun, beberapa orang atau mungkin Anda pernah merasakan sakit perut yang justru terjadi setelah makan. Bisa jadi kondisi ini diakibatkan oleh jenis makanan yang Anda makan. Lalu, jenis makanan dan minuman seperti apa yang bisa memicu rasa sakit perut setelah makan?

Makanan dan minuman pemicu sakit perut setelah makan

1. Makanan asam

Benjamin Krevsky, MD., MPH., kepala gastrointestinal endoskopi dan profesor obat di Lewis Katz School of Medicine di Temple University Philadelphia menyatakan bahwa makanan dan minuman yang terlalu asam dapat menimbulkan iritasi pada lapisan lambung. Golongan makanan ini misalnya acar, makanan yang banyak mengandung cuka, serta buah-buahan asam seperti lemon, jeruk, dan limau.

2. Makanan pedas

Hampir semua makanan pedas biasanya mengandung cabai. Cabai sendiri mengandung senyawa capsaicin yang bisa mengiritasi lambung dan memberikan sensasi panas atau terbakar di perut saat dikonsumsi terlalu banyak.

Terlebih bagi Anda yang tidak suka makanan pedas, maka mengonsumsi sedikit saja makanan yang mengandung cabai langsung membuat perut Anda bergejolak tidak karuan.

3. Kafein

Coba ingat-ingat, apakah setelah makan Anda mengonsumsi teh, kopi, atau cokelat? Jika iya, berarti salah satu penyebab kenapa perut sakit setelah makan ialah karena kandungan kafein pada makanan dan minuman yang Anda konsumsi.

Kafein merupakan minuman stimulan yang bisa mengiritasi dan menimbulkan rsa ketidaknyamanan pada lambung. Kafein menstimulasi gerak usus untuk bergerak lebih cepat saat mencerna makanan. Ketika gerakan usus saat mencerna makanan terlalu cepat maka hal ini bisa menyebabkan sakit perut yang diakhiri dengan diare.

4. Makanan yang tidak bersih

Mengonsumi makanan yang tidak terjaga kebersihannya bisa menjadi salah satu penyebab perut terasa sakit setelah makan. Entah karena proses pembuatannya yang kurang higienis, tempat penyimpanannya yang kotor, atau bahkan makanan ini telah kedaluwarsa.

Makanan yang telah kedaluwarsa bisa menyebabkan Anda mengalami keracunan yang akan berakibat pada perut yang terasa sakit. Selain sakit perut, Anda juga biasanya akan merasakan mual, muntah, diare, dan tubuh terasa lemas.

5. Makanan penyebab alergi atau intoleransi

Sebagian orang memiliki alergi terhadap makanan tertentu. Akan tetapi ada orang yang justru tidak mengetahui jika ia alergi terhadap makanan tertentu. Mengonsumsi makanan pemicu alergi bisa menimbulkan radang di lambung dan menyebabkan rasa sakit setelah mengonsumsinya.

Begitupun jika Anda mengonsumsi makanan yang ternyata tubuh tidak bisa menerimanya dengan baik atau disebut intoleransi. Kondisi intoleransi umum biasanya disebabkan oleh gluten, gandum, dan laktosa.

Banyak orang yang tidak mengetahui jika tubuhnya ternyata tidak bisa mencerna jenis makanan tersebut. Oleh karena itu setelah dikonsumsi tubuh akan menunjukkan reaksi protesnya yang ditunjukkan dengan sakit perut.

Penyebab lain Anda sakit perut setelah makan

Selain karena faktor makanan, penyebab kenapa perut sakit setelah makan juga bisa merujuk pada kondisi kesehatan tertentu. Letak dan tipe sakit perut biasanya bisa memberikan petunjuk penyebabnya.

Misalnya, nyeri perut di bagian bawah setelah makan umumnya menunjukan gejala gastroenteritis (infeksi pada usus atau perut) dan keracunan makanan, terutama jika disertai diare, mual, dan muntah.

Kemudian nyeri di tengah perut beberapa jam setelah makan mengindikasikan gejala maag. Sementara itu, rasa sakit seperti terbakar di daerah dada bisa menunjukkan gejala GERD atau asam lambung dan rasa sakit perut biasa seperti begah menandakan Anda mengonsumsi makanan terlalu banyak.

Jika rasa sakit yang Anda alami berlangsung cukup lama dan disertai gejala lainnya hingga menghambat aktivitas sehari-hari, maka Anda perlu berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca