Perhatikan, 5 Penyakit Ini Mungkin Saja Salah Didiagnosis Oleh Dokter

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 9 Agustus 2018 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda merasakan sakit atau gejala pada tubuh yang sulit untuk dijelaskan? Untuk mengetahui penyebabnya, tentu Anda harus pergi ke dokter. Namun, terkadang dokter juga mengalami kesulitan untuk mengenali gangguan atau kondisi medis yang terjadi pada tubuh Anda. Bahkan, parahnya bisa menyebabkan dokter salah diagnosis penyakit, meskipun ini sangatlah jarang terjadi.

Dilansir dari ABC News, dr. David Fleming, ketua American College of Physicians sekaligus seorang dosen ilmu kedokteran di University of Missouri berkata, “Setiap orang menunjukkan gejala penyakit yang berbeda-beda. Apalagi jika yang muncul bukan gejala umum.” Untuk mendapatkan diagnosis yang benar, pasien harus menjalani berbagai tes.

Apa saja kondisi yang sering membuat dokter salah diagnosis penyakit? Simak ulasannya berikut ini.

1. Sindrom iritasi usus (IBS)

gejala radang usus ciri-ciri radang usus

Tidak semua penyakit dapat didiagnosis hanya dari gejala-gejala yang ditimbulkan. Sebab sebagian besar penyakit menunjukkan gejala yang hampir mirip penyakit lainnya. Untuk mengetahui apa penyakitnya dengan pasti, perlu dilakukan diagnosis eliminasi, yaitu mengesampingkan beberapa penyakit untuk mencari yang paling berpotensi.

Sindrom iritasi usus (IBS), misalnya. IBS merupakan kondisi kronis yang menyebabkan usus besar mengalami peradangan dan menyebabkan gejala sakit perut, kram, perut kembung, diare, atau sembelit. Banyak masalah gangguan pencernaan yang memiliki gejala serupa dengan IBS.

Untuk menetapkan diagnosis, pasien setidaknya merasakan gejala-gejala tersebut selama 3 sampai 6 bulan. Pria dan wanita memiliki gejala yang serupa, hanya saja wanita akan merasakan gejala yang lebih parah saat menstruasi. Diagnosis eliminasi yang dilakukan dokter untuk kondisi ini meliputi:

  • Mempelajari pola makan untuk menyisihkan kemungkinan alergi makanan
  • Tes sampel feses untuk menyingkirkan infeksi
  • Tes darah untuk memeriksa kemungkinan anemia dan menyisihkan penyakit Celiac
  • Kolonoskopi (prosedur untuk melihat adanya iritasi pada usus atau kanker)

2. Penyakit Celiac

fakta buang air besar wanita

Hingga saat ini, penyakit Celiac menjadi penyakit yang cukup sulit didiagnosis. Sebab rata-rata pasein baru didiagnosis dengan benar dalam waktu 6 sampai 10 tahun setelahnya. Penyakit Celiac menunjukkan reaksi kekebalan tubuh terhadap gluten sehingga memicu peradangan di usus kecil.

Orang yang memiliki kondisi ini biasanya akan mengalami gangguan pencernaan, terutama diare setelah mengonsumsi makanan yang mengandung gluten, seperti gandum. Gejala lain meliputi gatal pada kulit, nyeri sendi, asam lambung naik, dan penurunan berat badan. Sayangnya, hanya setengah dari jumlah pasien yang mengalami diare dan penurunan berat badan.

Supaya tidak salah diagnsis, dokter harus melakukan pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan dulu. Kemudian, pasien akan diminta melakukan tes darah. Orang dengan penyakit Celiac umumnya memiliki tingkat antibodi tertentu, seperti antiendomysium (EMA) dan anti-tissue transglutaminase (tTGA) yang cukup tinggi.

Orang yang mengalami DH (dermatitis herpetiformis) — yaitu gejala lain dari penyakit Celiac — dapat melakukan biopsi kulit. Potongan jringan kecil dari kulit pasien akan diperiksa dengan mikroskop. Selain itu, pasien mungkin akan dianjurkan untuk melakukan endoskopi untuk melihat kerusakan pada usus kecil.

3. Fibromyalgia

mengatasi nyeri leher

Fibromyalgia adalah penyakit kronis yang menimbulkan rasa nyeri pada tulang dan otot dan menyebabkan kelelahan. Dilansir dari Health.com, ketika dokter tidak dapat menemukan penyebab rasa sakit dan kelelahan kronis pada pasien, maka diagnosis penyakit fibromyalgia akan ditetapkan. Pada suatu penelitian, orang-orang yang memiliki gejala tertentu didiagnosis fibromyalgia pada rematologi dan didiagnosis sindrom iritasi usus pada gastroenterologi.

Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, dokter akan menganalisis gejala yang muncul pada pasien. Biasanya rasa sakit dan nyeri pada tulang atau otot akan meluas dan terus menerus terjadi lebih dari tiga bulan. Tidak ada tes khusus untuk mendeteksi kondisi ini, tapi tes darah dapat membantu menyisihkan kemungkinan kondisi lain.

4. Multiple sclerosis

sindrom guyon

Multiple sclerosis (MS) terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel tubuh sendiri dang mengganggu komunikasi antar otak dengan bagian tubuh lainnya. Gejala MS meliputi sering mengalami mati rasa pada tubuh, kelemahan, dan kesemutan. Kondisi ini terjadi bisa bertambah parah atau menghilang sewaktu-waktu, tergantung seberapa banyak jumlah lesi pada otak.

Dokter bisa saja salah diagnosis karena gejalanya yang kadang muncul dan kadang hilang. Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, pasien perlu melakukan beberapa tes, seperti:

  • Tes pencitraan MRI untuk mengetahui adanya kerusakan pada otak dan sumsum tulang belakang
  • Pungsi lumbal untuk menemukan kelainan cairan pada tulang belakang dan menyingkirkan penyakit menular
  • Tes darah dan uji rangsangan saraf untuk mengetahui aktivitas listrik di otak

5. Rematik

rematik bisa sembuh total

Rematik atau radang sendi menyebabkan pegal dan rasa nyeri pada tulang dan sendi yang disebabkan oleh gangguan autoimun. Penyakit ini bisa terjadi pada siapa pun dan kapan pun, tidak seperti osteoarthritis yang kerap muncul pada lansia. Rasa sakit atau kaku pada sendi dapat disebabkan oleh banyak hal sehingga dokter mungkin saja salah diagnosis.

Untuk mendeteksi adanya peradangan pada sendi, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, yaitu melihat pembengkakan, kemerahan, dan menguji refleks dan kekuatan otot. Kemudian, akan dilakukan tes darah untuk melihat kadar RA antibodi yang menyebabkan peradangan serta melakukan tes pencitraan untuk melihat seberapa parah peradangan yang terjadi pada sendi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

8 Kondisi yang Menjadi Penyebab Sering Buang Air Kecil

Ada banyak hal yang menjadi penyebab sering buang air kecil, mulai dari kebiasaan minum, konsumsi obat, hingga penyakit. Apakah Anda memiliki salah satunya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Urologi, Kandung Kemih 6 Agustus 2020 . Waktu baca 6 menit

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ada yang bilang kita sudah tak boleh minum air yang disimpan dalam botol plastik hangat. Misalnya karena ditinggal di mobil seharian. Benarkah demikian?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 10 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit

Bahan Kimia pada Alat Masak Antilengket Tingkatkan Risiko Penyakit Celiac

Penyebab penyakit celiac belum diketahui. Namun, menurut studi terbaru, bahan kimia pada alat masak antilengket bisa meningkatkan risiko penyakit celiac.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Gangguan Pencernaan, Health Centers 25 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit

Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

Hampir semua orang pernah mengalami mata atau tangan kedutan. Namun, apakah Anda tahu arti kedutan dan risikonya bagi kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 15 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

merawat kulit orang diabetes

Berbagai Perawatan untuk Menjaga Kesehatan Kulit

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 8 menit
transplantasi ginjal

Transplantasi Ginjal

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 15 September 2020 . Waktu baca 11 menit
akantosis nigrikans

Akantosis Nigrikans, Saat Kulit Menebal dan Menghitam Akibat Diabetes

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 8 September 2020 . Waktu baca 5 menit
cara mencegah dan pencegahan diabetes

11 Cara Mencegah Diabetes yang Bisa Dilakukan Mulai Hari Ini

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 8 September 2020 . Waktu baca 9 menit