Vasodilator, Obat untuk Memperlebar Pembuluh Darah

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Vasodilator adalah salah satu golongan obat yang berfungsi mencegah penyempitan pembuluh darah. Obat ini digunakan untuk menangani masalah kesehatan yang terkait dengan jantung seperti gagal jantung kongestif, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan preeklampsia.

Obat vasodilator bekerja untuk melebarkan pembuluh darah arteri dan vena dengan mengendurkan otot-otot pada dinding arteri. Nantinya, pembuluh darah yang telah melebar akan melancarkan aliran darah sehingga dapat meringankan kerja jantung dalam memompa darah dan oksigen.

Cara kerja obat vasodilator

vasodilator
Sumber: Heart.org

Berbagai jenis yang termasuk golongan obat ini memiliki mekanisme yang berbeda-beda di dalam tubuh, berikut adalah di antaranya:

  • Angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitors: vasodilator jenis ini bekerja dengan menghambat aktivitas enzim ACE yang akan menurunkan produksi angiotensin penyebab pembuluh darah mengkerut. Beberapa jenis obat yang termasuk ACE inhibitors adalah benazepril (Lotensin), captopril (capoten), dan enalapril (vasotec, epaned).
  • Calcium channel blockers (CCB): serangan jantung dapat disebabkan oleh penegangan otot pembuluh darah akibat menumpuknya plak dari kalsium. Calcium channel blockers atau antagonis kalsium inilah yang akan mencegahnya dengan menghambat kalsium masuk ke dalam sel-sel otot. Beberapa jenis obatnya adalah amlodipine (Norvasc), clevidipine (cleviprex), dan diltiazem (Cardizem).
  • Angiotensin receptor blocker (ARB):  vasodilator ARB berfungsi untuk menghalangi angiotensin agar tidak menempel pada otot pembuluh darah. Proses ini juga akan menyebabkan terjadinya vasodilatasi. Beberapa obatnya adalah azilsartan (Edarbi), candesartan (Atacand), dan eprosartan (Teveten).
  • Nitrat: Nitrat yang masuk ke dalam tubuh akan dikonversi menjadi nitrogen monoksida. Nitrogen monoksida dapat mendorong zat kimia yang lainnya untuk membantu melebarkan pembuluh darah. Biasanya obat jenis ini digunakan untuk mengatasi gangguan angina atau nyeri dada. Contoh yang termasuk obat ini adalah nitroglycerin (Gonitro, Nitrobid, Nitromist, Nitrolingual, Nitrostat, Nitrobid) dan isosorbide mononitrate (Ismo, Moneket).

Efek samping

efek samping obat fenitoin phenytoin

Obat vasodilator yang diminum langsung termasuk ke dalam golongan obat keras yang baru akan digunakan jika pengobatan lain tidak berhasil dalam mengendalikan tekanan darah Anda. Tentunya, obat ini juga memiliki berbagai efek samping sebagai berikut.

  • Detak jantung abnormal
  • Hilang rasa atau geli di sekitar jari kaki dan tangan
  • Nafsu makan berkurang
  • Diare
  • Mual

Jika efek samping di atas muncul, Anda mungkin akan membutuhkan obat tambahan untuk mengatasinya. Namun, ada baiknya untuk segera menghubungi dokter jika obat vasodilator yang Anda konsumsi menimbulkan efek seperti demam, nyeri dada dan sendi, atau pendarahan.

Kemungkinan diare akan semakin tinggi terutama jika Anda menggunakan jenis ACE inhibitors. ACE inhibitors dapat meningkatkan konsentrasi litium dalam darah. Kelebihan litium juga akan memperburuk efek samping berupa mual, muntah, kram.

Selain itu, pemakaian obat vasodilator akan sangat mengurangi tekanan darah. Bagi Anda yang memiliki tekanan darah rendah, konsumsi obat ini dapat menimbulkan efek kepala pusing.

Hal yang harus diperhatikan sebelum menggunakan vasodilator

obat asam urat dan kolesterol

Perlu diketahui, penggunaan obat ini hanya akan membantu mengendalikan tekanan darah Anda, tapi tidak sepenuhnya menyembuhkan dari kondisi darah tinggi.

Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu pada dokter jika Anda ingin menggunakannya untuk pengobatan, beri tahu juga bila ada kondisi medis lain yang Anda miliki. Jelaskan semua obat-obatan yang Anda konsumsi sebelumnya atau jika Anda memiliki alergi zat tertentu.

Disarankan untuk tidak melakukan aktivitas yang memerlukan kewaspadaan tinggi seperti menyetir karena vasodilator dapat menyebabkan pusing.

Terkadang, ada kondisi pasien yang tidak cukup ditangani hanya dengan satu jenis obat antihipertensi, maka percampuran antara dua atau lebih jenis obat kerap digunakan. Namun, perpaduan antara ACE inhibitors dengan ARB sebaiknya tidak dilakukan untuk menghindari meningkatnya risiko terhadap tekanan darah rendah dan masalah ginjal.

Bagi Anda yang sedang hamil, penggunaan vasodilator jenis ACE inhibitors dan ARB juga tidak direkomendasikan demi mencegah bayi lahir cacat.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Maret 16, 2020 | Terakhir Diedit: Maret 13, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca