Perhatikan Hal-Hal Ini Sebelum Mengonsumsi Jamu atau Obat Tradisional

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Indonesia bisa dibilang surganya tumbuh-tumbuhan yang memiliki khasiat untuk pengobatan dan kesehatan manusia. Terlepas dari kemampuan medis dan teknologi modern, konsumsi jamu dan obat tradisional hingga saat ini masih banyak diminati. 

Alasan orang-orang banyak memilih mengonsumsi jamu adalah karena harganya yang lebih terjangkau, mudah didapat, dan sejalan dengan resep turun temurun. Namun, keamanan dalam mengonsumsi jamu atau obat tradisional mesti tetap Anda perhatikan.

Keamanan, dosis, dan hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum mengonsumsi jamu atau obat tradisional

Jamu atau obat tradisional dibedakan dalam dua jenis, ada jamu atau obat tradisional produksi industri dan jamu segar. 

Dalam mengonsumsi jamu segar, banyak tips yang perlu diperhatikan agar mendapatkan khasiat yang maksimal dan terhindar dari efek samping yang tidak diinginkan, terutama higienitas dalam proses pembuatanjamu obat tradisionaljamu obat tradisional

  1. Higienitas dalam proses pembuatan

Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam mengonsumsi jamu segar yakni harus dibuat tanpa bahan kimia, tanpa bahan pengawet, dan higienis atau terjamin kebersihannya.

Pada jamu segar tentunya akan sulit untuk memastikan hal-hal tersebut kecuali Anda meraciknya sendiri. Karena itu, belilah jamu segar dari orang bisa Anda percaya.

  1. Langsung dihabiskan

Jamu segar harus langsung diminum dalam waktu 24 jam. Jika tidak bisa menghabiskannya, jamu segar bisa disimpan di lemari pendingin (kulkas) maksimal 3 hari.

  1. Lebih baik dikonsumsi sebelum makan

Jamu segar lebih baik dikonsumsi sebelum makan karena mayoritas memiliki khasiat melancarkan proses pencernaan. Tapi jika Anda sudah memiliki masalah pencernaan sebelumnya, misalnya sakit maag, maka konsumsi jamu segar bisa dilakukan sesudah makan. 

  1. Jangan melebihi dosis

Konsumsi jamu segar harus sesuai dengan kebutuhan, batasan yang harus diingat adalah maksimal 4 gelas jamu dalam sehari.

  1. Cukupi kebutuhan makanan dan air putih

Jamu segar memang banyak memiliki khasiat dalam meningkatkan stamina tubuh, namun ia tidak bisa menggantikan asupan makanan dan air putih. Penuhi kebutuhan air putih minimal 2 liter sehari dan asupan nutrisi seimbang.

Minum jamu tanpa asupan air putih yang cukup bisa meningkatkan risiko gangguan kesehatan misalnya gangguan fungsi ginjal. Begitu juga dengan asupan makanan, konsumsi jamu tanpa asupan makanan bergizi lengkap seimbang bisa berisiko menimbulkan gangguan pencernaan.

Jamu atau obat tradisional produksi industri

Obat tradisional produksi industri dibedakan dalam tiga kategori yakni jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Pemilihan kategori ini dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berdasarkan sejauh mana pengujian terhadap keamanan produk tersebut telah dilakukan. 

Jamu yang mendapatkan label obat herbal terstandar berarti telah lolos uji preklinik atau pengujian pada hewan. Sedangkan jamu yang mendapatkan label fitofarmaka artinya jamu tersebut telah lolos uji klinis atau pengujian pada manusia. 

Informasi labelisasi kategori ini tercantum dalam kemasan dan penting untuk memastikan keamanan jamu atau obat tradisional sebelum mengonsumsinya. Dalam kemasan jamu produksi industri  juga tercantum beberapa informasi yang perlu diperhatikan. BPOM menyebutnya dengan istilah cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa). Apa itu KLIK? 

  • Kemasan: harus dalam keadaan baik, tersegel, dan tidak rusak.
  • Label: baca informasi produk pada label, termasuk komposisi, khasiat, dan label peringatan. Misalnya, apakah produk tidak boleh dikonsumsi untuk ibu hamil, menyusui, atau kelompok-kelompok lain.
  • Izin edar: pastikan memiliki izin edar BPOM RI TR /BPOM RI TL
  • Kedaluwarsa: cek tanggal kedaluwarsa. Jika kemasan jamu atau obat tradisional produksi industri yang Anda beli tidak memiliki tanggal kedaluwarsa, sebaiknya jangan dikonsumsi.

Selain keempat hal di atas, keamanan jamu atau obat tradisional produksi industri juga tergantung dari cara mengonsumsinya. Jangan konsumsi jamu produksi industri melebih dosis yang tertera di kemasan. Jika Anda mengubah sendiri dosis melebihi anjuran pakai, maka akan berisiko memicu efek samping yang tidak diinginkan. 

Baik jamu segar maupun produksi industri sebaiknya jangan dikonsumsi bersamaan dengan obat lain. Jika ingin mengonsumsinya di hari yang sama, berilah jeda 2 jam. 

Bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta, misalnya penyakit tekanan darah tinggi atau diabetes, wajib konsultasi terlebih dulu kepada dokter jika ingin mengonsumsi obat atau jamu tradisional. 

Hal ini dilakukan untuk mencegah efek yang tidak diinginkan. Contoh sederhana kenapa perlu berkonsultasi dengan dokter, misalnya pada pasien hipertensi, dokter akan memberikan obat penurun tekanan darah. Lalu pasien juga mengonsumsi jamu yang memiliki khasiat penurun tekanan darah tinggi, maka tekanan darah bisa menurun drastis. 

Oleh karena itu, untuk mendapat khasiat yang diharapkan selalu perhatikan tips di atas dalam mengonsumsinya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Artikel dari ahli DR. (Cand.) Dr. Inggrid Tania, M.Si.

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Meski belum terbukti ampuh mencegah COVID-19, jamu dan obat tradisional dapat membantu meningkatkan imun tubuh di masa pandemi. Apa saja contohnya?

Ditulis oleh: DR. (Cand.) Dr. Inggrid Tania, M.Si.
jamu covid-19

Perhatikan Hal-Hal Ini Sebelum Mengonsumsi Jamu atau Obat Tradisional

Banyak orang memilih mengonsumsi jamu dan obat tradisional karena harganya lebih terjangkau dan mudah didapat. Sebelum itu, perhatikan tips berikut ini.

Ditulis oleh: DR. (Cand.) Dr. Inggrid Tania, M.Si.
Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Bentonite Clay dan Segudang Manfaatnya

Tak banyak yang tahu tentang bentonite clay. Padahal, bentonite clay punya banyak manfaat untuk tubuh yang sangat sayang jika dilewatkan begitu saja.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Perawatan Kulit, Kesehatan Kulit 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

7 Resep Oatmeal Sehat dan Mudah untuk di Rumah

Oatmeal bukan hanya lezat, tapi juga penuh serat., mengenyangkan, dan cocok untuk Anda yang sedang berdiet. Simak 7 resep oatmeal berikut.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Resep Sehat, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

3 Manfaat yang Bisa Didapat dari Minum Kopi Sebelum Olahraga

Suka olahraga di pagi hari dan harus minum kopi dulu biar segar? Penelitian membuktikan kalau minum kopi sebelum olahraga ternyata baik buat tubuh, lho!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Gizi Olahraga, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Kenapa Anda Sebaiknya Harus Ganti Celana Dalam Setelah Berhubungan Seks

Anda harus mulai membiasakan untuk langsung ganti celana dalam setelah berhubungan intim. Celana dalam kotor bisa jadi sarang bakteri.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Kesehatan Seksual, Tips Seks 20 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengatasi sciatica

6 Anjuran Gerakan Peregangan untuk Mengatasi Nyeri Saraf Kejepit

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
strategi menahan lapar

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
skincare anti-aging usia 50 tahun

Baru Pakai Skincare Antiaging Usia 50 Tahun ke Atas, Bermanfaatkah?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
gerak peristaltik dan sindrom usus malas

Mengulik Gerak Peristaltik dan Hubungannya dengan Sindrom Usus Malas

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit