backup og meta

Bahaya Gigi Ompong Jika Dibiarkan Terlalu Lama

Gigi ompong sering dianggap bukan masalah besar, terutama jika letaknya di bagian belakang dan tidak terlihat saat tersenyum. Selama tidak sakit dan masih bisa dipakai makan, sebagian orang mungkin merasa belum perlu mencari solusi.

Bahaya Gigi Ompong Jika Dibiarkan Terlalu Lama

Padahal, kehilangan satu atau beberapa gigi dapat memengaruhi fungsi mulut secara keseluruhan. Gigi bukan hanya berperan untuk penampilan, tetapi juga membantu mengunyah, menjaga susunan gigi, mendukung cara bicara, serta menjaga keseimbangan gigitan antara rahang atas dan bawah.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, gigi hilang, dicabut, atau tanggal sendiri masih menjadi salah satu masalah kesehatan gigi yang cukup banyak dialami masyarakat Indonesia. Pada penduduk usia 3 tahun ke atas, prevalensinya tercatat sebesar 21,0%. Untuk usia 55-64, prevalensinya mencapai 37%. Angka ini menunjukkan bahwa kehilangan gigi merupakan kondisi yang umum terjadi dan perlu ditangani dengan tepat.

Kenapa gigi ompong sering dianggap sepele?

Ada beberapa alasan mengapa gigi ompong sering dibiarkan. Salah satunya karena gigi yang hilang tidak terlihat dari luar, misalnya gigi geraham belakang. Akibatnya, banyak orang merasa kondisi ini tidak terlalu mengganggu.

Selain itu, sebagian orang baru merasa perlu ke dokter gigi ketika muncul keluhan seperti nyeri, gusi bengkak, atau sulit makan. Padahal, dampak gigi ompong tidak selalu langsung terasa. Perubahan pada susunan gigi, cara mengunyah, dan kenyamanan mulut bisa terjadi perlahan.

Misalnya, seseorang mungkin mulai mengunyah hanya di satu sisi tanpa sadar. Awalnya terasa biasa saja, tetapi lama-kelamaan kebiasaan ini dapat membuat proses makan terasa kurang nyaman dan tidak seimbang.

Apa yang terjadi jika gigi ompong dibiarkan?

Gigi yang hilang akan meninggalkan ruang kosong pada lengkung gigi. Ruang kosong ini dapat memengaruhi gigi di sekitarnya dan gigi lawannya, yaitu gigi di rahang atas atau bawah yang biasanya bertemu saat menggigit.

Berikut beberapa dampak gigi ompong jika dibiarkan terlalu lama.

1. Gigi di sekitarnya dapat bergeser

Gigi saling menopang satu sama lain agar posisinya tetap stabil. Ketika ada gigi yang hilang, gigi di sebelahnya bisa perlahan miring atau bergeser ke ruang kosong tersebut.

Gigi lawannya juga dapat mengalami perubahan posisi karena tidak lagi memiliki pasangan untuk berkontak saat mengunyah. Dalam dunia kedokteran gigi, kondisi ini bisa berkaitan dengan perubahan oklusi atau hubungan gigitan antara gigi atas dan bawah.

Jika dibiarkan, perubahan posisi ini dapat membuat susunan gigi menjadi kurang rapi, makanan lebih mudah terselip, dan perawatan pengganti gigi di kemudian hari menjadi lebih kompleks.

2. Cara mengunyah menjadi tidak seimbang

Kehilangan gigi, terutama gigi belakang, dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengunyah. Gigi geraham berfungsi menghancurkan makanan sebelum ditelan. Jika gigi ini hilang, makanan mungkin tidak terkunyah sebaik sebelumnya.

Sebagai kompensasi, seseorang sering kali mengunyah menggunakan sisi mulut yang masih lengkap. Kebiasaan ini dapat membuat beban kunyah tidak terbagi rata.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kenyamanan makan. Beberapa orang juga mulai menghindari makanan tertentu, seperti daging, sayuran berserat, atau makanan bertekstur keras, karena terasa sulit dikunyah.

3. Sisa makanan lebih mudah terselip

Ruang kosong akibat gigi ompong dapat menjadi tempat terselipnya sisa makanan. Jika area ini tidak dibersihkan dengan baik, plak dapat menumpuk di sekitar gigi dan gusi.

Plak adalah lapisan lengket berisi bakteri yang dapat menempel pada permukaan gigi. Bila tidak dibersihkan, plak dapat meningkatkan risiko bau mulut, radang gusi, dan kerusakan pada gigi lain di sekitarnya.

Itulah sebabnya, gigi ompong yang tampak “tidak bermasalah” tetap perlu diperiksa. Dokter gigi dapat menilai apakah area tersebut masih sehat atau sudah mulai menimbulkan gangguan pada gigi dan jaringan mulut di sekitarnya.

4. Risiko bau mulut bisa meningkat

Bau mulut dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kebersihan mulut, kondisi gusi, sisa makanan, mulut kering, hingga penyakit tertentu.

Pada orang dengan gigi ompong, sisa makanan lebih mudah tertinggal di ruang kosong atau sela gigi yang berubah posisinya. Jika tidak dibersihkan dengan optimal, bakteri dapat berkembang dan menimbulkan bau tidak sedap.

Kondisi ini bukan hanya mengganggu kenyamanan pribadi, tetapi juga dapat memengaruhi rasa percaya diri saat berbicara dengan orang lain.

5. Proses makan dan pencernaan bisa ikut terpengaruh

Mengunyah adalah tahap awal proses pencernaan. Saat makanan dikunyah dengan baik, makanan menjadi lebih halus sehingga lebih mudah ditelan dan dicerna.

Jika kemampuan mengunyah menurun karena gigi hilang, makanan mungkin tertelan dalam ukuran yang lebih besar. Pada sebagian orang, hal ini dapat membuat makan terasa kurang nyaman.

Kehilangan gigi juga dapat memengaruhi pilihan makanan. Orang yang kesulitan mengunyah sering kali cenderung memilih makanan yang lebih lunak. Ini tidak selalu salah, tetapi jika pilihan makanan menjadi terbatas, asupan nutrisi harian juga bisa ikut terpengaruh.

Kapan gigi ompong perlu diperiksa ke dokter gigi?

Sebaiknya, gigi yang hilang tidak dibiarkan terlalu lama. Pemeriksaan ke dokter gigi penting dilakukan, terutama jika Anda mulai mengalami beberapa kondisi berikut.

  • Sulit mengunyah makanan tertentu.
  • Sering mengunyah hanya di satu sisi.
  • Makanan mudah terselip di area gigi yang ompong.
  • Gigi di sekitar area ompong terasa bergeser atau berubah posisi.
  • Gusi mudah nyeri, bengkak, atau berdarah.
  • Bau mulut tidak membaik meski sudah menjaga kebersihan mulut.
  • Mulai tidak percaya diri saat bicara, makan, atau tersenyum.

Dokter gigi akan memeriksa kondisi gigi, gusi, tulang rahang, dan susunan gigitan. Dari pemeriksaan ini, dokter dapat menyarankan pilihan perawatan yang sesuai, termasuk apakah gigi yang hilang perlu diganti dengan gigi tiruan.

Gigi tiruan sebagai salah satu solusi gigi ompong

Salah satu cara untuk menangani gigi ompong adalah menggunakan gigi tiruan. Gigi tiruan membantu menggantikan fungsi gigi yang hilang, baik untuk mengunyah, berbicara, maupun menjaga tampilan senyum.

Gigi tiruan bukan hanya untuk lansia. Orang dewasa yang kehilangan gigi akibat pencabutan, kerusakan gigi berat, penyakit gusi, atau cedera juga dapat mempertimbangkan pilihan ini sesuai anjuran dokter gigi.

Secara umum, ada beberapa jenis gigi tiruan yang dapat dipertimbangkan.

1. Gigi tiruan lepasan

Gigi tiruan lepasan adalah gigi palsu yang bisa dipasang dan dilepas sendiri oleh pengguna. Jenis ini dapat digunakan untuk menggantikan satu, beberapa, atau banyak gigi yang hilang.

Pilihan ini sering dianggap lebih praktis dan mudah dijangkau. Di Indonesia, gigi tiruan lepasan juga dapat menjadi bagian dari layanan yang memperoleh subsidi BPJS Kesehatan bila ada indikasi medis dan mengikuti ketentuan yang berlaku. Namun, cakupan dan prosedurnya dapat berubah, sehingga sebaiknya pastikan kembali melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama atau kanal resmi BPJS Kesehatan.

2. Gigi tiruan cekat

Gigi tiruan cekat, seperti bridge, dipasang secara permanen dengan dukungan gigi di sekitarnya. Jenis ini dapat menjadi pilihan bila kondisi gigi penyangga masih cukup baik.

Namun, tidak semua orang cocok menggunakan gigi tiruan cekat. Dokter gigi perlu menilai kondisi gigi, gusi, dan struktur mulut terlebih dahulu.

3. Implan gigi

Implan gigi adalah pengganti akar gigi yang ditanam pada tulang rahang, kemudian dipasangkan mahkota gigi di atasnya. Pilihan ini memerlukan evaluasi yang lebih menyeluruh, termasuk kondisi tulang rahang dan kesehatan umum pasien.

Karena setiap pilihan memiliki kelebihan, keterbatasan, dan biaya yang berbeda, konsultasi dengan dokter gigi tetap menjadi langkah utama sebelum menentukan perawatan.

Gigi tiruan tetap perlu dirawat dengan benar

Menggunakan gigi tiruan bukan berarti perawatan mulut selesai. Justru, pengguna gigi tiruan perlu membangun rutinitas baru agar gigi tiruan tetap nyaman, bersih, dan aman digunakan.

Gigi tiruan yang tidak dirawat dengan baik dapat menjadi tempat menumpuknya plak, sisa makanan, dan mikroorganisme. Kondisi ini dapat menyebabkan bau mulut, rasa tidak segar, iritasi pada gusi, atau ketidaknyamanan saat digunakan.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk merawat gigi tiruan antara lain:

  • membersihkan gigi tiruan secara rutin setelah digunakan,
  • melepas gigi tiruan saat tidur bila dianjurkan dokter,
  • menyimpan gigi tiruan dengan cara yang sesuai,
  • menghindari membersihkan gigi tiruan dengan air panas mendidih,
  • kontrol berkala ke dokter gigi untuk memastikan gigi tiruan tetap pas.

Pengguna gigi tiruan juga dapat menggunakan produk perawatan yang memang dirancang khusus untuk gigi tiruan. Misalnya, pembersih khusus untuk membantu menjaga kebersihan gigi tiruan, atau perekat gigi tiruan untuk membantu gigi tiruan lepasan terasa lebih stabil saat digunakan.

Produk seperti Polident dapat menjadi salah satu pilihan perawatan sesuai kebutuhan. Polident memiliki produk perekat gigi tiruan yang membantu menstabilkan gigi tiruan lepasan agar tidak mudah bergeser, serta produk pembersih gigi tiruan untuk membantu menjaga kebersihan gigi tiruan. Gunakan sesuai petunjuk pada kemasan dan konsultasikan dengan dokter gigi bila gigi tiruan terasa longgar, menekan gusi, atau membuat mulut tidak nyaman.

Jangan menunggu sampai gigi ompong mengganggu aktivitas

Gigi ompong memang tidak selalu menimbulkan nyeri. Namun, bukan berarti kondisi ini aman untuk dibiarkan. Dalam jangka panjang, kehilangan gigi dapat memengaruhi posisi gigi lain, cara mengunyah, kebersihan mulut, pilihan makanan, hingga rasa percaya diri.

Kabar baiknya, gigi ompong bisa ditangani. Dengan pemeriksaan dokter gigi, pilihan gigi tiruan yang sesuai, dan perawatan harian yang tepat, Anda tetap bisa makan, berbicara, tersenyum, dan menjalani aktivitas sosial dengan nyaman.

Gigi tiruan bukan tanda keterbatasan. Dengan perawatan yang tepat, gigi tiruan justru dapat membantu Anda kembali menjalani rutinitas sehari-hari dengan lebih percaya diri.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Craddock, H. L., and C. C. Youngson. “A Study of the Incidence of Overeruption and Occlusal Interferences in Unopposed Posterior Teeth.” British Dental Journal, vol. 196, 2004, pp. 341–348. https://doi.org/10.1038/sj.bdj.4811082

Felton, David, et al. “Evidence-Based Guidelines for the Care and Maintenance of Complete Dentures: A Publication of the American College of Prosthodontists.” Journal of Prosthodontics, vol. 20, suppl. 1, 2011, pp. S1–S12. https://doi.org/10.1111/j.1532-849X.2010.00683.x

Hunter, Emma, et al. “Impact of Edentulism on Community-Dwelling Adults in Low-Income, Middle-Income and High-Income Countries: A Systematic Review.” BMJ Open, vol. 14, no. 12, 2024, e085479. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2024-085479

Kassebaum, N. J., et al. “Global Burden of Severe Tooth Loss: A Systematic Review and Meta-Analysis.” Journal of Dental Research, vol. 93, no. 7 suppl., 2014, pp. 20S–28S. https://doi.org/10.1177/0022034514537828

Lopez-Cordon, Maria Angeles, et al. “Improved Masticatory Performance in the Partially Edentulous Rehabilitated with Conventional Dental Prostheses.” Medicina, vol. 60, no. 11, 2024, article 1790. https://doi.org/10.3390/medicina60111790

Mylonas, Petros, Paul Milward, and Robert McAndrew. “Denture Cleanliness and Hygiene: An Overview.” British Dental Journal, vol. 233, 2022, pp. 20–26. https://doi.org/10.1038/s41415-022-4397-1

Yaparathna, Navodika, et al. “Impact of Removable Partial Dentures on Masticatory Performance in Partial Edentulism: A Systematic Review.” The International Journal of Prosthodontics, 2023. https://doi.org/10.11607/ijp.8278

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia 2023 dalam Angka. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, 2024. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/hasil-ski-2023/

Versi Terbaru

17/06/2026

Ditulis oleh Wicak Hidayat

Fakta medis diperiksa oleh Hello Sehat Medical Review Team

Diperbarui oleh: Wicak Hidayat


Artikel Terkait

6 Penyebab Lidah Pecah Belah dan Cara Mengatasinya

8 Jenis Dokter Spesialis Gigi dan Perbedaannya


Fakta medis diperiksa oleh

Hello Sehat Medical Review Team


Ditulis oleh Wicak Hidayat · Tanggal diperbarui 5 jam lalu

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan