Ventilator untuk COVID-19: Cara Kerja dan Ketersediannya yang Minim

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Infeksi coronavirus dapat menyebabkan gangguan pernapasan parah pada pasien COVID-19. Komplikasi ini membuat pasien kesulitan bernapas dan bisa berakibat fatal bila tidak segera ditangani. Pada situasi seperti ini, tenaga medis biasanya perlu memasangkan ventilator untuk membantu pasien COVID-19 bernapas.

Sayangnya, lonjakan jumlah pasien COVID-19 selama sebulan terakhir menyebabkan jumlah ventilator di Indonesia makin terbatas. Jumlah alat yang sudah ada saat ini dikhawatirkan tidak sebanding dengan peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia dari hari ke hari.

Berikut gambaran cara kerja ventilator untuk pasien COVID-19 dan ketersediaannya di Indonesia.

Cara kerja ventilator

Sumber: Wikimedia Commons

Ventilator umumnya dibutuhkan ketika paru-paru pasien tidak lagi mampu menghirup oksigen yang dibutuhkan tubuh. Alat ini hanya berfungsi untuk membantu pasien bernapas, tapi tidak untuk menyembuhkan penyakit yang diderita.

Pertama-tama, dokter memberikan obat untuk membius pasien dan merilekskan otot pernapasannya. Dokter kemudian memasukkan tabung ke dalam saluran pernapasan pasien. Sementara itu, ujung lain tabung terhubung dengan mesin ventilator.

Mesin ventilator menyalurkan udara kaya oksigen lewat tabung ini. Jumlah dan tekanan udara diatur dengan mesin ventilator serta dipantau dari monitor. Sebelum memasuki tubuh, udara akan melewati humidifier sehingga suhunya sesuai dengan suhu tubuh.

Penggunaan ventilator berguna agar pasien memperoleh oksigen yang ia butuhkan dan mengeluarkan karbondioksida dari tubuhnya. Ventilator membantu menghemat energi, sebab salah satu komplikasi pada pasien COVID-19 adalah gagal napas atau kepayahan karena energinya habis untuk bernapas.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

26,940

Terkonfirmasi

7,637

Sembuh

1,641

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Tubuh pasien kini bisa menggunakan energi yang ada untuk memulihkan fungsi sistem kekebalan tubuhnya. Dengan demikian, tubuh pasien akan mampu melawan infeksi SARS-CoV-2 sehingga ia pulih secara perlahan.

Lamanya pemakaian ventilator tergantung pada kondisi tubuh dan keparahan penyakit. Pasien baru boleh berhenti memakai ventilator apabila sudah mampu bernapas dengan normal. Dokter akan memantau kemampuan bernapas pasien dari waktu ke waktu.

Pemakaian ventilator untuk pasien COVID-19 juga tidak lepas dari risiko efek samping. Meski demikian, ventilator tetap memiliki peran yang penting, terutama bagi tenaga medis yang menghadapi pasien COVID-19 yang kritis.

Kebutuhan ventilator di Indonesia

pasien cuci darah risiko covid-19

Hingga Maret 2020, Indonesia baru mempunyai 8.413 ventilator. Seluruhnya tersebar di lebih dari 2.000 rumah sakit di Indonesia dengan cakupan yang belum merata. Padahal, jumlah pasien positif terus melambung dan mereka berasal dari berbagai wilayah.

Dengan kondisi saat ini, angka kasus di Indonesia diperkirakan mencapai 54.278 kasus pada pertengahan Mei 2020. Prediksi ini disampaikan oleh Irwandy, Ketua Departemen Manajemen RS, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, berdasarkan perkembangan data dan hasil riset beberapa negara.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 32% (8.794) pasien yang dirawat di rumah sakit akan memerlukan perawatan di ICU. Berkaca dari kasus di Tiongkok dan Inggris, menurutnya sekitar 60% (5.171) pasien kritis akan membutuhkan ventilator.

gejala dan komplikasi coronavirus

Selain jumlah pasien yang terus bertambah, pasien rata-rata perlu dirawat setidaknya selama delapan hari di ICU. Ini berarti tiap ventilator akan digunakan untuk satu pasien COVID-19 dalam waktu yang relatif lama.

Apabila alat-alat medis lainnya tidak dipenuhi mulai dari sekarang, rumah sakit rujukan COVID-19 akan kewalahan dengan jumlah pasien yang membludak. Akibatnya, angka kematian akibat COVID-19 juga akan bertambah tinggi.

Indonesia bersiap produksi ventilator sendiri

ventilator di Indonesia

Melihat kebutuhan yang meningkat, sejumlah instansi di Indonesia mengambil langkah dengan menciptakan ventilator sendiri. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) misalnya, mengembangkan ventilator portable yang siap diproduksi bulan April.

Universitas Indonesia saat ini mengembangkan ventilator portabel (mudah dibawa-bawa) bernama COVENT-20 yang diklaim lebih hemat biaya. Sementara itu, Universitas Gadjah Mada mengembangkan tiga jenis ventilator yang ditargetkan selesai pada akhir April.

Harga ventilator di pasaran saat ini diperkirakan mencapai ratusan juta. Tim dari Institut Teknologi Sepuluh November pun menjawab masalah ini dengan mengembangkan ventilator yang diperkirakan seharga Rp20 jutaan per unit.

Pentingnya Alat Pelindung Diri (APD) bagi Tenaga Kesehatan COVID-19

Tidak kalah dari ketiganya, Institut Teknologi Bandung pun mengembangkan purwarupa ventilator darurat. Bedanya, ventilator bernama Vent-I ini dikhususkan bagi pasien yang masih dapat bernapas sendiri.

Akhir April, Indonesia diperkirakan akan mempunyai 200 ventilator baru buatan sendiri. Taiwan juga belum lama ini mengirimkan bantuan ventilator dan ratusan ribu APD untuk tenaga medis di garda terdepan melawan COVID-19.

Kendati masih jauh dari kata cukup, ini merupakan angin segar bagi Indonesia dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Sebagai individu, Anda dapat berperan aktif dengan menerapkan physical distancing, melakukan upaya pencegahan, dan bersama-sama melakukan donasi agar tenaga kesehatan mendapat ventilator melalui tautan ini.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi di sini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020