Sudah Memakai Baju Pelindung, Masih Bisa Terinfeksi COVID-19?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Seorang petugas pemadam kebakaran bagian dari tim evakuasi penumpang kapal pesiar Diamond Princess di Jepang positif terinfeksi Covid-19. Padahal dia sudah memakai baju pelindung virus, lengkap. Bagaimana ini bisa terjadi?

Pemadam tersebut membantu pemindahan pasien positif terinfeksi Covid-19 dari kapal ke rumah sakit. Ia dinyatakan positif terinfeksi walaupun sudah mengenakan Personal Protective Equipment (PPE) atau alat pelindung diri sesuai standar yakni baju hazmat, masker, dan kacamata goggles.

Baju pelindung tidak sepenuhnya menjamin bebas infeksi Covid-19

Baju pelindung covid-19

Jika mengasumsikan si petugas pemadam kebakaran yang membantu evakuasi kapal pesiar tersebut telah mengikuti semua prosedur dengan benar, lalu mengapa ia tetap tertular?

Public Health England dalam lembar pedoman COVID-19: infection prevention and control menyebutkan, alat pelindung diri ini hanya tindakan pencegahan. Alat pelindung diri, pencegahan infeksi, dan kontrol pencegahan efektif dalam meminimalkan risiko tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan risiko.

Pemadam kebakaran ini bukan satu-satunya yang ikut terinfeksi saat menjalankan tugas dalam penanganan Covid-19. Segala prosedur keamanan untuk petugas medis yang menangani virus ini sudah dijalankan tapi petugas yang terinfeksi jumlahnya mencapai ribuan. 

Dilansir dari Reuters, situs berita Caixin melaporkan setidaknya ada 3.000 petugas kesehatan yang mungkin telah terinfeksi.

Beberapa di antara yang petugas kesehatan yang meninggal karena tertular Covid-19 adalah Li Wenliang, dokter yang pertama kali mengungkap Covid-19

Penularan Covid-19 umumnya melalui tetesan pernapasan (misalnya semburan bersin atau batuk), melalui udara, dan kontak langsung atau tidak langsung dengan cairan sekresi dengan orang yang terinfeksi.

Dengan belum adanya obat atau vaksin yang efektif untuk melawan virus ini, pengendalian Covid-19 masih bergantung pada penanganan tanda dan gejala secara cepat dan tepat.

Langkah-langkah pencegahan, pengendalian infeksi yang efektif, dan termasuk tindakan pencegahan berbasis transmisi (penularan melalui udara, tetesan, dan kontak) dengan alat pelindung diri sangat penting untuk meminimalkan risiko ini. 

Selain mengenakan baju pelindung, pembersihan yang tepat dan dekontaminasi lingkungan juga penting dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Jumlah kematian akibat infeksi Covid-19 per Rabu (19/2) telah mencapai 2.012 orang. Sedangkan jumlah total pasien yang dinyatakan positif terinfeksi telah mencapai 75.307 kasus. 

Standar perlindungan petugas medis saat wabah virus

tenaga kesehatan coronavirus

Berurusan dengan virus membutuhkan persiapan khusus sebelum menyentuh apapun dari pasien yang terinfeksi. Maka itu semua petugas yang menangani kasus Covid-19 wajib menggunakan baju pelindung tubuh secara penuh. 

Para petugas wajib memakai seragam scrub (baju sanitasi/seragam operasi), lalu dilapisi dengan jubah yang terbuat dari bahan anti cairan atau biasa disebut baju hazmat. 

Baju hazmat adalah pakaian antivirus, yang belakangan sering kita lihat dikenakan oleh petugas yang menangani pasien suspect atau positif Covid-19. Hazmat menutupi hampir seluruh tubuh, terbuat dari plastik, kain, dan karet, dan memiliki sumber oksigen.

Setelan dirancang untuk kedap air, untuk melindungi pemakainya terhadap bahan atau zat berbahaya, penyakit menular dan bahan kimia berbahaya.  Pakaian ini biasa dikenakan oleh para pekerja kesehatan, laboratorium kimia, dan petugas yang menangani wabah virus seperti SARS, MERS, dan Ebola.

Penggunaan baju hazmat dilengkapi dengan atribut PPE lainnya yakni penutup kepala, masker respirator N95 sesuai standar dan sarung tangan ketat dengan ujung panjang. Sarung tangan standar WHO untuk petugas kesehatan yang menangani Covid-19 adalah sepanjang 23 cm.

 Tidak hanya itu, ada juga pelindung mata, pelindung wajah penuh, dan sepatu boot terbuat dari karet. Semua barang di atas hanya boleh digunakan satu kali.

Centers for disease control and prevention (CDC) Amerika Serikat mengharuskan semua staf yang menangani kasus Covid-19 untuk mengikuti prosedur penggunaan alat dan baju pelindung yang aman. Namun sekali lagi, alat pelindung itu hanya untuk meminimalisasi risiko. Bukan menjamin aman.

Memakai dan mencopot alat pelindung

baju pelindung covid-19

Untuk memakai baju pelindung pun harus mengikuti prosedur. Setiap fasilitas kesehatan, organisasi, dan lembaga memiliki protokol dan prosedur yang berbeda mengenai penggunaan baju tersebut.

Dalam standar European Centers for disease control and prevention  dijelaskan secara detail tahap-tahap pemakaian alat pelindung ini. Berikut beberapa aturannya:

  1. Sebelum memakai alat pelindung pastikan telah membersihkan diri dan cuci tangan.
  2. Setelah baju hazmat dikenakan, bagian resleting ditutup dengan perekat atau selotip.
  3. Untuk yang memiliki rambut panjang harus diikat, dimasukkan seluruhnya ke penutup kepala, lalu ditutup rapat lagi menggunakan kupluk yang tersambung dengan baju hazmat.
  4. Khusus untuk kasus COVID-19 di China, beberapa perawat termasuk perawat perempuan yang memiliki rambut panjang memangkas rambut hingga botak. Hal itu dilakukan untuk mengurangi risiko terpapar covid-19 dan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memakai dan melepas baju pelindung mereka.
  5. Untuk penggunaan sarung tangan harus selalu diganti saat berpindah dari tugas kotor. Pastikan ujung sarung tangan menyatu dengan lengan baju dan menutupi semua bagian tubuh. 
  6. Saat mencopot sarung tangan dan pakaian jangan menyentuh bagian luarnya. Karena semua bagian luar dianggap terkontaminasi setelah pemakai melakukan kontak dengan pasien yang terinfeksi.

Covid-19 dapat masuk ke tubuh seseorang melalui kulit yang luka, selaput lendir yang tidak terlindungi seperti mata, hidung, atau mulut. Jika tidak berhati-hati dalam melepas bisa jadi virus yang menempel di bagian luar tersebut mengenai kulit dan menjadi awal mula penularan.

Jadi, walau sudah memakai baju pelindung, tetaplah waspada covid-19.

Share now :

Direview tanggal: Februari 20, 2020 | Terakhir Diedit: Maret 16, 2020

Yang juga perlu Anda baca