Mendisplinkan Anak 2 tahun

Hallo. Anak saya 2 tahun 8 bulan. Karna rumah dipinggir jalan lorong yg lumayan ramai, berapa kali anak saya lari"an di jalan. Saya takut krna banyak motor mondar mandir. Jadi pernah kejadian, anakku lari ke jalan pas balik ke rumah kuhukum, ku pukul kakinya bagian betis kutepuk ringan sambil menjelaskan. Kemudian ku bawa di kamar dan kututup pintu, langsung teriak" menangis pas kututup pintu. Tdk sampai 1 menit ku ambil lagi, ku peluk sambil ku jelaskan kalo tidak boleh lari" ke jalan nanti dihukum, ditutupkan pintu di kamar. Apakah caraku terlalu keras? Boleh tolong masukannya 🙏

Suka
Bagikan
Simpan
Komentar
4
3
1

1 komentar

Halo Srianingsih, terima kasih atas pertanyaan anda.


Ketika anak usia 2 tahun tidak mau mendengarkan dan ingin mengendalikan situasi dari Ibu, sebaiknya gunakan tujuh prinsip ini untuk mendisiplinkannya. Menerapkan pola asuh guna mendisiplinkan anak memang diperlukan, terutama untuk membentuk kepribadian anak menjadi lebih positif. Berikut beberapa cara mendisiplinkan anak usia 2 tahun :

1. Lewati logika -> Anak berusia 2 tahun belum mampu dalam menggunakan logika. Ibu hanya akan menguras waktu dan tenaga dengan memberikan penjelasan panjang lebar karena anak tidak akan memahami sepenuhnya. Alih-alih memberikan penjelasan, Ibu dapat mencoba menggunakan teknik yang disebut ‘Katakan apa yang Anda lihat’, di mana Ibu hanya menjelaskan apa yang terjadi tanpa memperbaiki, memberi penilaian, atau memberikan pengajaran. Hal ini akan membantu anak-anak secara langsung memahami apa yang dimaksudkan Ibu.

2. Once is always. -> Ketika orangtua memperlakukan anak, misalnya membelikan mainan ketika anak sedang ‘ngambek’ ini akan menjadi kebiasaan yang selalu diharapkan lagi oleh setiap anak. Untuk menghindari kebiasaan ini, ada beberapa hal yang dapat Ibu lakukan:

- Berikan konsistensi dan rutinitas sebanyak yang Ibu bisa

- Bantu anak untuk tahu bahwa Ibu memahami perasaannya

- Bantu anak belajar untuk mengatasi perubahan, misal pemecahan terhadap solusi

3. Not now is never. -> Anak terbiasa ingin mengulang suatu hal yang menurutnya menyenangkan, misal ketika mendapatkan hadiah. Inilah sebabnya mengapa anak-anak memiliki rasa emosional tinggi dalam menanggapi segala hal. Untuk membantu anak melalui situasi ini, hal terbaik yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut :

- Berikan konsistensi dan rutinitas sebanyak yang Ibu bisa

- Membantu anak dengan rasa empati

- Membantu anak belajar untuk mengatasi perubahan yang terjadi

Tindakan ini tidak akan menghentikan emosi anak sama sekali, tetapi akan membantu mempersingkat, baik intensitas dan durasi ketika anak sedang sulit diatur.

4. Lewati pertanyaan. -> Ketika Ibu bertanya pada anak mengapa ia tidak pernah mau mendengarkan, ada kesempatan baik untuk mendapatkan satu respon kata atau tak ada jawaban sama sekali, terutama ketika anak masih berusia 2 tahun. Lebih baik jangan sering bertanya pada anak, namun Ibu bisa melibatkan segala aktivitasnya dengan membuat pilihan yang nantinya akan diminati anak salah satunya. Misalnya, saat Ibu hendak memakaikan baju pada anak, biarkan anak memilih ingin baju yang mana dan sebagainya

5. Anak-anak akan terus berkomunikasi sampai ia merasa didengar. -> Ketika seorang anak marah tentang sesuatu dan orang dewasa berkata, “Kamu akan baik-baik saja” atau “Ini bukan masalah besar” atau “Berhentilah menangis,” anak akan langsung berpikir bahwa Ibu tidak memahaminya. Ini pula yang menjadi alasan Ibu akan sering mendengar anak melanjutkan dengan teriakan, atau meningkatkan intensitas emosinya ketika tahu orangtuanya tidak pernah memahaminya. Jika Ibu tidak memahami maksud anak, ia akan terus berusaha untuk berkomunikasi sampai ia percaya Ibu telah mengerti semuanya.

6. Fokus pada apa yang dapat anak Anda lakukan -> Ketika anak-anak mendengar perkataan Ibu, seperti “Hentikan itu” atau “Jangan lakukan itu,” anak sebenarnya paham jika ia tidak harus melakukan hal-hal tersebut, tetapi anak juga tidak yakin dengan tindakan yang seharusnya dilakukan. Sebaiknya, fokus pada apa yang anak bisa, bantu ia belajar melakukan perilaku alternatif. Ini membantunya memahami pilihan terbaik. Jangan gunakan kata-kata seperti melarang, tetapi biarkan ia melakukan hal yang seharusnya dilakukan tanpa keluar dari batas aman.

7. Beri label kekuatan anak -> Pelajaran dari pola asuh terbaik ialah bahwa anak-anak akan bertindak sesuai dengan yang ia percayai. Jika anak percaya ia bisa bertanggung jawab, anak akan bertindak bertanggung jawab. Jika anak percaya bahwa ia adalah anak nakal, anak akan bertindak seperti anak nakal. Setiap kali Ibu melihat perilaku yang disukai dari anak, berikan label sebagai kekuatan untuk anak.


Namun apabila anda masih merasa kesusahan, maka anda dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang.


Sekian dan Terima Kasih

3 tahun yang lalu
Suka
Balas
Temukan komunitas Anda
Jelajahi berbagai jenis komunitas yang ada dan paling sesuai dengan kondisi kesehatan yang Anda hadapi.
Iklan
Iklan