Masalah pencernaan pada anak 3 tahun 11 bulan

Hallo

Anakku umut 3 tahun 11 bulan. Sudah 1 bulan ini sakit ada gangguan di perut(pencernaannya). Sebelumnya anakku 1 bulan yg lalu muntah dan selamg 2 hari anakku demam sampai 38,5 celcius. 2 kemudian panas tak kunjumg sembuh saya bawa dia ke dsa terdekat. Dikasih obat tapi panas tak kunjung sembuh hingga pada hari ke 4 baru turun panasnya. Sehingga setelah itu BAB jd tidak normal. Padat keras hingga mencret dan lumayan padat. Sampai 3x ke dsa masih tak kunjung membaik. Gejalanya: perut keras, sering sendawa, susah kentut, pergerakan usus kencang skali, ada mual. Dikasih obat jenis yg berhubungan dengan lambung seperti: gerildium(racik), antacil, inhipump membaik tp selamg bbrp jam kembali seperti itu sekali. Sehingga terkadang membuat dada anak saya sakit sampai ke punggung. Akhirnya saya memberikan obat inpepsa, membaik. Tp sepertinya ada bbrp waktu akan keras dan kembung lagi. Tp nnti akan membaik lg. saya kemudian pergi ke dokter berbeda dikatakan anak saya intoleran makanan. Tapi ketika saya pantang makan anak saya, berat badan anak saya turun drastis. Walo saya memberi asupan yg lumayan. Sehari makan 3-4x nasi, buah papaya dan susu. Tp turun drastis. Sekiranya ada yg bisa memberi informasi ttg seputar kesehatan mengenai pencernaan dan pengalaman yg anak saya alamin. Tolong informasinya. Trims banyak 🙏🏻

Suka
Bagikan
Simpan
Komentar
22
3
1

1 komentar

Halo Tiffanny, teria kasih atas pertanyaan anda,


Perut anak yang teraba keras, sering sendawa, susah kentut, pergerakan usus kencang, disertai dengan mual biasanya disebabkan karena terlalu banyak gas di dalam usus. Hal ini bisa disebabkan karena berbagai hal di antaranya :

1. Bakteri di dalam usus -> Usus mengandung bakteri yang membantu pencernaan untuk melakukan fermentasi makanan yang dikonsumsi. Proses fermentasi ini menghasilkan gas sebagai salah satu produknya. Gas tersebut diserap ke berbagai bagian tubuh, seperti diserap ke dalam aliran darah dan dikeluarkan oleh paru-paru. Sisa dari gas tersebut akan didorong di sepanjang usus. Jika gas yang produksi saluran pencernaan terlalu banyak, ini bisa menyebabkan gas membuatnya menumpuk di usus.

2. Mengonsumsi makanan berserat tinggi -> Makanan tinggi serat memang bisa melancarkan pencernaan dan buang air besar, tetapi bisa juga menghasilkan gas berlebih. Usus halus tidak bisa memecah beberapa jenis senyawa. Hal ini membuat kerja bakteri usus menjadi sangat besar untuk menghasilkan gas. Makanan serat tinggi sebaiknya tidak terlalu sering diberikan pada anak karena bisa memicu perut kembung. Berikan secara perlahan sebagai perkenalan agar perutnya bisa menyesuaikan diri.

3. Intoleransi laktosa -> Saat tubuh tidak mampu mencerna gula yang terdapat di dalam susu sapi, gas yang dihasilkan usus akan menjadi berlebihan. Ini karena bakteri di usus mencerna gula dengan fermentasi. Proses tersebut akan menghasilkan gas di dalam usus.

4. Intoleransi karbohidrat -> Tidak hanya intoleransi laktosa, intoleransi karbohidrat juga bisa terjadi. Orang yang memiliki intoleransi terhadap karbohidrat rentan terhadap produksi gas berlebih dari fermentasi karbohidrat lain, seperti fruktosa. Fruktosa terdapat di dalam banyak makanan, seperti madu, sirup jagung, dan buah-buahan. Beberapa kondisi lain yang menjadi penyebab perut kembung pada si kecil, yaitu:

- mengonsumsi antibiotik,

- sembelit,

- penyakit celiac,

- mengalami iritasi usus, dan

- gastroenteritis.

5. Penyakit celiac (gangguan saluran cerna akibat malabsorpsi gluten)

6. Divertikulitis (kantung abnormal di usus besar yang meradang), dan sebagainya


Berikut cara menangani anak yang kembung :

1. Minum vitamin probiotik -> Penggunaan vitamin probiotik bisa menjadi obat mengatasi perut kembung pada si kecil. Tidak hanya dari vitamin tambahan, probiotik juga bisa didapatkan dari beberapa jenis makanan, seperti yoghurt, susu kedelai, dan jus buah.

2. Kurangi makanan mengandung gas tinggi -> Untuk mengobati perut kembung pada si kecil, orangtua bisa mengurangi makanan yang mengandung banyak gas. Beberapa makanan dengan kandungan gas yang tinggi yaitu:

- produk olahan susu,

- buah apel, peach, pir,

- kol,

- buncis,

- kacang polong, dan

- brokoli.

Sebenarnya makanan di atas memiliki manfaat untuk tubuh anak, sehingga tidak bisa dihilangkan begitu saja. Untuk menyiasatinya, Anda cukup mengurangi konsumsi makanan di atas dalam sehari. Anda sebaiknya tidak mengombinasikan kelima makanan di atas dalam satu porsi makanan. Untuk anak yang memiliki intoleransi laktosa, hindari produk olahan susu, seperti keju dan yoghurt untuk mengurangi efek perut kembung.

3. Atur kecepatan saat makan -> Tidak hanya mengurangi makanan yang mengandung gas tinggi, mengatur kecepatan saat makan juga bisa mengurangi perut kembung pada anak. Anda bisa mengarahkan si kecil untuk tidak makan dan minum terlalu cepat agar tidak menelan terlalu banyak udara.


Anda perlu membawa si kecil ke dokter bila mengalami hal-hal di bawah ini:

- berat badan anak turun,

- perut kembung disertai diare lebih dari 7 hari,

- terjadi pembengkakan pada perut anak,

- perut masih kembung meski pola makan sudah diubah,

- sakit perut yang parah atau terus menerus,

- tinja anak mengandung darah,

- nafsu makan anak berkurang, dan

- muntah dan mual.


Apabila belum ada perbaikan setelah terapi di atas maka dianjurkan anda untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak konsultan gastroenterohepatologi untuk dievaluasi lebih lanjut.


Sekian dan Terima Kasih

3 tahun yang lalu
Suka
Balas
Temukan komunitas Anda
Jelajahi berbagai jenis komunitas yang ada dan paling sesuai dengan kondisi kesehatan yang Anda hadapi.
Iklan
Iklan