Halo dok,
sudah 3 bulan ini BB dan TB bayi saya seret banget dok bahkan sempat kemarin BBnya turun dan juga makanan sering dilepeh.
di
... Lihat Lainnya🔥 Diskusi Menarik
Dokter kenapa anak tantrum nya lama alasan tantrum nya itu mau ke kamar mandi terus padahal mau pipis tidak kenapa itu ya dok
2 komentar
Terbaru
Anda sekarang bisa mulai memposting cerita dan komentar.
Dapatkan saran dari dokter, pakar, dan duta komunitas.
Bagikan pengalaman Anda dengan orang lain yang mungkin membutuhkan.
Terus aktif dan jadilah Duta Komunitas dengan mengumpulkan poin
Halo Azmi Jamil Aljiddi, terima kasih untuk pertanyaannya.
Perilaku tersebut merupakan hal yang wajar terjadi pada anak. Pada rentang usia 1-3 tahun, perkembangan emosi anak biasanya belum stabil sehingga mudah tantrum. Namun, tidak bisa dipungkiri apabila anak menangis secara berlebihan dapat membuat orang tua kebingungan dan merasa kesal menghadapi perilaku anak tersebut. Perlu diketahui bahwa, dengan memarahi, memukul, memaki atau melabeli anak “cengeng/ nakla” hanya akan memperburuk kondisi anak. Anda hanya perlu tetap tenang dan jangan terbawa emosi dalam menghadapinya.
Anak menangis sebagai respon yang ditunjukkan bahwa anak sedang merasa tidak nyaman, merasa lapar, kecewa, sakit, lelah, butuh perhatian, dan sebagainya. Hal tersebut merupakan cara anak berkomunikasi karena belum mampu mengelola dan mengenali emosinya dengan baik. Pada situasi lain, anak menangis yang terkadang disertai dengan menyakiti diri sendiri merupakan cara anak untuk mendapatkan hal yang diinginkan. Anak akan mengasosiasikan dan mengkondisikan sesuatu berdasarkan pengalaman yang didapatkannya, sehingga anak akan mengulang perilaku serupa di kemudian hari agar orang dewasa di sekitarnya memenuhi keinginan anak.
Anda dapat mengurangi intensitas memberikan dengan mudah yang menjadi keinginan anak, agar anak perlahan mengerti bahwa untuk mendapatkan sesuatu membutuhkan proses. Luangkan waktu lebih banyak untuk berinteraksi dengan anak, seperti bermain peran atau membacakan dongeng sambil mengajari anak cara mengenali dan mengelola emosinya, serta cara mengungkapkan keinginan tanpa harus tantrum. Berikan pelukan hangat setelah anak berhenti menangis, kemudian menatap matanya sambil berbicara dengan intonasi lembut, misal “kamu merasa sedih/ marah ya? Tenang ada mama di sini bersama kamu”. Setelah anak berhenti menangis, anda dapat memberikan apresiasi, seperti pujian agar anak mengulang perilaku baiknya di kemudian hari.
Jangan ragu untuk memeriksakan anak anda ke psikolog anak jika keluhan berlanjut atau bertambah parah.
Penting untuk memahami bahwa tantrum adalah bagian dari perkembangan anak, tetapi jika frekuensinya tinggi atau berlangsung lama, ini bisa menjadi tanda adanya masalah yang lebih dalam. Dalam kasus ini, anak mungkin mengalami kesulitan dalam mengelola emosi atau mungkin ada faktor lain yang mempengaruhi perilakunya. Anda bisa mencoba beberapa pendekatan untuk membantu anak mengatasi tantrum ini. Pertama, cobalah untuk berbicara dengan anak saat ia tenang dan jelaskan pentingnya mengungkapkan kebutuhan mereka dengan cara yang lebih baik. Berikan contoh bagaimana mereka bisa meminta izin untuk pergi ke kamar mandi tanpa harus marah atau mengamuk. Jika tantrum terus berlanjut dan mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog atau dokter anak untuk mendapatkan penilaian lebih lanjut. Mereka dapat membantu menentukan apakah ada masalah yang lebih serius yang perlu ditangani.
Related content