Dua perempuan di Malaysia dilaporkan mengalami kejang hingga hampir meninggal karena melakukan suntik filler payudara.


Di Indonesia, kasus korban filler payudara juga sering terjadi. Padahal prosedur filler tidak diperbolehkan untuk payudara, bokong, dan bagian-bagian tubuh yang luas.


Filler payudara dan malpraktik yang membahayakan


Filler adalah salah satu perawatan kecantikan yang dilakukan dengan menyuntikan cairan ke bawah permukaan kulit untuk menambah volume dan kepenuhan. Cairan yang digunakan adalah calcium hydroxyapatite dan hyaluronic acid.


Metode ini bisa dilakukan untuk menyamarkan garis halus dan kerutan di wajah, seperti dahi, bawah dagu, atau bawah mata. Filler juga bisa dilakukan untuk memperbaiki bentuk bibir dan menyamarkan bekas luka di wajah.


Jika dilakukan dengan benar, filler termasuk metode yang aman dan minim efek samping.


Tapi kenapa filler payudara berbahaya?


Penggunaan filler untuk memperbesar ukuran bokong maupun payudara jelas tidak direkomendasikan. Prosedur ini memiliki risiko tinggi meskipun dilakukan dengan bahan calsium hydroxypatite ataupun hyaluronic acid.


Jika dengan bahan aman saja tidak direkomendasikan apalagi jika bahannya sudah tidak aman. Malpraktik filler payudara sering kali menggunakan cairan yang tidak jelas kandungannya, bahkan ada yang menggunakan bahan silikon cair yang berbahaya.


Bahan silikon cair dan bahayanya


Silikon cair yang dapat disuntikkan tidak disetujui untuk prosedur estetika manapun termasuk pembentukan atau peningkatan volume wajah dan tubuh.


Suntikan silikon dapat menyebabkan nyeri jangka panjang, infeksi, dan cedera serius seperti terbentuknya jaringan parut, kerusakan jaringan permanen, emboli (penyumbatan pembuluh darah), stroke hingga kematian. Pada tahun 2011, pernah ada kasus radang payudara yang diduga keras karena melakukan penyuntikkan silikon cair.


Perlu diketahui bahwa silikon cair yang disuntikkan ini berbeda dengan dengan silikon yang digunakan untuk implan payudara dalam bentuk gel terbungkus.