Nisa ars
Dok izin bertanya
Saya baru saja menikah kurang lebih 1 bulan, dan selama itu juga kami hanya 2 kali berhubungan dan itu tidak membobol keperawanan saya. Saya lihat dia selalu kelelahan padahal baru 1 ronde.
Kemudian kami jarang banget komunikasi dikarenakan sibuknya bekerja, dan suami juga sangat cuek yg terkadang membuat saya jengah dengan hubungan ini. Apalagi lokasi kerja nya melewati rumah ortunya dan pulang pergi selalu singgah bahkan ketika pulang dia sangat lama di tempat ortunya dan pulang ke rumah itu jam tengah 10 hampir setiap hari nya.. saya merasa tidak di hargai sebagai istri. Bahkan ketika pulang dia fokus ke hp dan gamenya. Pernah dia izin nongkrong sampai lupa waktu seolah-olah dia itu lupa punya istri dan istrinya sendirian di rumah. Dia Selalu mengabaikan saya. Ketika saya nanya kabar juga gk jelas balasannya. Saya berusaha untuk memulai komunikasi, bahkan saya pernah bilang bahwa perceraian itu yg bikin fatal tidak adanya komunikasi antara pasutri. Dada Saya sudah terlalu sesak menahannya dok. Terkadang ketika berangkat kerja di jalan terfikir untuk pisah aja. Dari pada mental saya semakin rusak. Atau ingin rasanya bunuh diri. Karena saya sebatang kara gak punya tempat untuk ngadem dan cerita. JD saya selalu tahan semuanya dan selalu tersenyum saja dok. Saya bingung dok harus gmn. Mental saya sudah tidak sehat hampir 4 tahun ditambah setelah menikah semakin hancur dok
























Tinggal kan saja susah amat
Halo, terima kasih untuk pertanyaannya.
Kami dapat memahami ketidaknyamanan, sekaligus mengapresiasi upaya yang telah anda lakukan untuk mempertahankan hubungan.
Setiap pasangan mengharapkan hubungan yang sehat, harmonis dan bahagia. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam sebuah hubungan tidak terlepas dari adanya konflik. Terjadinya konflik adalah hal yang wajar terjadi, tetapi apabila konflik tersebut terjadi berkepanjangan, maka perlu mengambil jarak sejenak terhadap masalah dan emosi yang dirasakan masing-masing sehingga dapat melihat permasalahan tersebut secara objektif.
Untuk membina hubungan sehat dan membangun cinta diperlukan pula membangun pola komunikasi yang sehat dan terbuka. Anda dan pasangan perlu saling mengkomunikasikan kondisi yang dialami, sehingga dapat saling memahami pula. Selain itu, upayakan untuk dapat saling mendengarkan tanpa menghakimi. Anda dan pasangan juga dapat saling menghargai, serta saling mendukung menjadi versi terbaik diri masing-masing. Hal tersebut penting untuk diperhatikan karena membina hubungan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya di salah satu pihak saja. Dengan pola komunikasi tersebut dapat meminimalisir kesalahpahaman yang berlarut-larut.
Permasalahan yang didiamkan dan dipendam oleh masing-masing, hanya akan menjadi pembahasan berulang di kemudian hari dan bisa saja meledak sewaktu-waktu bagaikan “bom waktu”. Ada baiknya anda dan pasangan meluangkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati agar menemukan solusi terbaik bersama (misalnya liburan bersama ke tempat favorit, makan malam berdua, moment pillow talk, dsb). Ketika berkomunikasi menggunakan “I message”, artinya lebih fokus menyampaikan “saya merasa hubungan kita terasa hambar, boleh gak kita ngobrol sambil mengingat perjuangan yang udah kita lewati?” bukan “kamu itu selalu menyalahkan dan tidak mau mengalah…..”.
Kemudian anda dan pasangan dapat saling mengenali bahasa cinta masing-masing, serta melakukan ritual yang menjadi kesepakatan bersama misalnya memeluk dan mengucapkan kata cinta sebelum dan bangun tidur, sebelum dan berangkat kerja, dll. Selain itu, perlu dibahas juga terkait hubungan seksual dalam pernikahan anda. Perlu juga merencanakan mencoba hal-hal baru bersama agar semakin terasa keintimannya.
Jangan ragu untuk memeriksakan diri anda atau melakukan konseling bersama pasangan ke psikolog jika keluhan berlanjut atau bertambah parah.