home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Gairah Kian Menurun, Perlukah Pria Lanjut Usia Minum Suplemen Testosteron?

Gairah Kian Menurun, Perlukah Pria Lanjut Usia Minum Suplemen Testosteron?

Sudah menjadi rahasia umum, semakin bertambahnya usia maka fungsi tubuh juga akan semakin menurun termasuk gairah seks pria. Testosteron adalah hormon yang mengatur naik turunnya gairah seksual para pria. Itu sebabnya, pria yang minat seksualnya sedang menurun, sering kali memilih minum suplemen testosteron demi mengembalikan gairah bercintanya kembali.

Sebenarnya, haruskah suplemen testosteron dikonsumsi oleh pria yang telah lanjut usia?

Kadar testosteron pria dewasa lanjut usia

aktif berhubungan seks lansia

Testosteron merupakan salah satu hormon seks utama pada pria, yang bertugas mengatur pertumbuhan pria seperti perkembangan bahu yang lebih lebar, dada bidang, rambut di wajah, serta otot yang lebih padat. Kadar testosteron akan berubah seiring dengan pertambahan usia. Umumnya, kadar testosteron mulai memuncak selama masa remaja serta memasuki awal masa dewasa.

Seiring bertambahnya usia, kadar testosteron dalam tubuh Anda secara bertahap juga akan semakin menurun. Dilansir dari laman Healthline, rata-rata kadar testosteron akan menurun sekitar delapan persen setiap 10 tahun atau 16 persen setiap 20 tahun.

Kondisi ini yang kemudian mengakibatkan gairah seks pria semakin menurun yang disertai dengan hilangnya kekuatan otot, kenaikan lemak perut, pengeroposan tulang, serta penurunan fungsi kognitif.

Apakah pria dewasa yang telah lanjut usia memerlukan suplemen testosteron?

Demi menghindari penurunan fungsi seksual dan berbagai masalah kesehatan ini, tidak sedikit pria dewasa lanjut usia yang kemudian memilih untuk mengonsumsi suplemen testosteron. Bukan tanpa alasan, selain bertujuan untuk meningkatkan gairah bercinta, suplemen ini juga diyakini dapat membantu mengobati penyakit hipogonadisme yaitu kondisi ketika tubuh tidak mampu memproduksi cukup hormon testosteron.

Berawal dari hal tersebut, pada tahun 2010 para peneliti di National Institute of Aging melakukan uji coba testosteron guna mengetahui apakah suplemen testosteron dapat memperbaiki masalah kesehatan yang berkaitan dengan rendahnya kadar testosteron di usia tua.

Hasilnya menunjukkan bahwa memang ada manfaat yang akan didapat dengan minum suplemen testosteron, tapi di sisi lain hal ini juga bisa menimbulkan risiko kesehatan. Mudahnya, fungsi seksual seorang pria dewasa lanjut usia akan meningkat ke rentang normal, tapi tidak mendukung kemampuan fisik pria ke arah yang lebih baik.

Penemuan ini juga didukung oleh para ilmuwan dari Utrecht Medical Center, yang memberikan suplemen testosteron kepada 237 pria berusia 60 sampai 80 tahun dengan kadar testosteron rendah. Menurut penelitian tersebut, massa otot tubuh pria meningkat yang disertai dengan penurunan massa lemaknya, tapi tidak mampu memperbaiki kekuatan otot pria.

gula darah normal berhenti minum obat diabetes

Disamping itu, pria yang minum suplemen testosteron justru memiliki kadar kolesterol HDL yang lebih rendah, padahal jenis kolesterol tergolong baik dan diperlukan oleh tubuh. Jika dibiarkan dalam waktu lama, pria usia lanjut berkemungkinan untuk mengembangkan sindrom metabolik, yang merupakan “kumpulan” dari berbagai masalah kesehatan seperti diabetes, tekanan darah tinggi, maupun kolesterol tinggi.

Tidak hanya itu, suplemen testosteron ternyata kurang berperan dalam memperbaiki fungsi kognitif, meningkatkan kepadatan mineral tulang, serta kualitas hidup secara keseluruhan. Padahal, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, penurunan kadar testosteron tidak hanya memengaruhi fungsi seksual saja, namun juga berakibat pada berbagai fungsi tubuh lainnya.

Jadi, seharusnya konsumsi suplemen ini bisa memperbaiki masalah secara menyeluruh, tapi nyatanya tidak. Itu sebabnya, minum suplemen penambah kadar testosteron untuk pria lanjut usia sebenarnya tidak terlalu dianjurkan.

Cara alami untuk meningkatkan kadar testosteron

Suplemen testosteron bukanlah satu-satunya solusi untuk meningkatkan kadar testosteron pria dewasa lanjut usia. Maka itu, masih ada cara lain yang dinilai lebih alami dan tentunya bisa dengan mudah Anda coba, seperti:

  • Penuhi kebutuhan seng tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa mineral seng berperan penting dalam mengatur kadar testosteron dalam tubuh pria.
  • Penuhi kebutuhan kalium tubuh. Kalium dipercaya dapat mendukung kerja testosteron dalam tubuh.
  • Rutin olahraga. Tujuannya untuk meningkatkan kadar testosteron secara alami.
  • Tidur yang cukup.
  • Kelola stres dengan baik.

Sebaiknya, konsultasikan juga dengan dokter Anda guna mendapatkan cara yang terbaik bila ingin meningkatkan kadar hormon testosteron.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Should Older Men Take Testosterone Supplements? https://www.verywellhealth.com/does-testosterone-do-an-older-man-good-4132359 Diakses pada 22 Juni 2018.

Does Testosterone Aid Aging Men? https://www.webmd.com/men/news/20080102/does-testosterone-aid-aging-men Diakses pada 22 Juni 2018.

Can Testosterone Supplements Improve Your Sex Drive? https://www.healthline.com/health/low-testosterone/do-testosterone-supplements-work Diakses pada 22 Juni 2018.

Testosterone Therapy: Potential Benefits and Risks As You Age. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/sexual-health/in-depth/testosterone-therapy/art-20045728 Diakses pada 22 Juni 2018.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Tanggal diperbarui 14/07/2018
x