Komunitas adalah ruang aman tempat Anda dapat terhubung dengan anggota lain, mengomentari topik yang Anda minati, dan menerima saran tepercaya dari pakar medis seputar masalah kesehatan yang penting.
Artificial Ligament untuk Cedera ACL, Bisa Pulih Lebih Cepat?
Cedera anterior cruciate ligament (ACL) tidak hanya dialami atlet profesional. Orang yang aktif berolahraga rekreasional, seperti futsal, badminton, basket, lari, padel, atau tenis, juga dapat mengalaminya, terutama ketika lutut melakukan gerakan memutar, berhenti mendadak, atau mendarat dengan posisi yang kurang tepat.
Pada cedera berat, salah satu pilihan penanganannya adalah rekonstruksi ACL. Kini, selain menggunakan jaringan dari tubuh pasien sendiri, terdapat pula opsi artificial ligament atau ligamen buatan yang pada kondisi tertentu dapat membantu mempercepat tahapan pemulihan.
Hal ini disampaikan dalam Media Discussion Rumah Sakit Pondok Indah, yang digelar pada Selasa, 11 Agustus 2026 di Jakarta.
Artificial ligament jadi alternatif pada rekonstruksi ACL
ACL merupakan salah satu ligamen utama yang membantu menjaga kestabilan lutut saat tubuh bergerak. Cedera ACL terjadi ketika ligamen ini robek, pasien dapat mengalami lutut terasa goyah, bengkak, nyeri, serta kesulitan kembali melakukan aktivitas fisik seperti biasa.
Pada kasus tertentu, terutama robekan total atau lutut yang tidak stabil, dokter dapat mempertimbangkan tindakan rekonstruksi ACL.
Secara umum, rekonstruksi dilakukan dengan mengganti ligamen yang rusak menggunakan jaringan cangkok atau graft. Jaringan tersebut dapat berasal dari tubuh pasien sendiri, misalnya tendon ankle, tendon hamstring, quadriceps, atau patela.
Menurut dr. Christian Silas, Sp.OT(K), AIFO-K, Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Sports Injury RS Pondok Indah – Puri Indah, artificial ligament juga dapat menjadi salah satu pilihan.
Artificial ligament merupakan ligamen sintetis yang dirancang untuk membantu menggantikan fungsi ACL yang mengalami kerusakan.
“Ini merupakan opsi baru, di Indonesia baru ada sejak awal tahun ini (2026),” ujar dr Silas.
dr. Christian Silas, Sp.OT(K), AIFO-K, Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Sports Injury RS Pondok Indah – Puri Indah.
Kenapa pemulihannya bisa lebih cepat?
Terdapat beberapa tahap penanganan cedera ACL, mulai dari rehabilitasi pra-operasi, operasi, hingga pemulihannya.
Salah satu perbedaan utama artificial ligament dibandingkan autograft terletak pada proses pengambilan jaringan.
Pada rekonstruksi menggunakan jaringan tubuh sendiri, dokter perlu mengambil tendon dari bagian tubuh pasien terlebih dahulu. Artinya, terdapat area tambahan yang juga perlu mengalami proses penyembuhan.
Sementara itu, artificial ligament tidak membutuhkan pengambilan jaringan tersebut.
Beberapa keuntungan yang dapat dipertimbangkan meliputi tidak adanya sayatan tambahan untuk mengambil tendon, durasi tindakan yang dapat lebih singkat, serta kekuatan mekanis ligamen buatan yang relatif konsisten.
Dari sisi rehabilitasi, pasien tertentu juga dapat memasuki tahap latihan kelincahan dan persiapan kembali berolahraga lebih awal.
Meski demikian, artificial ligament tidak otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua pasien.
Keputusan tetap perlu mempertimbangkan usia, kondisi lutut, kualitas jaringan tubuh, tingkat aktivitas, hingga target pasien setelah operasi.
Kembali olahraga tetap tidak boleh terburu-buru
Salah satu daya tarik artificial ligament adalah potensi rehabilitasi yang lebih cepat.
Pada rekonstruksi menggunakan jaringan tubuh sendiri, latihan kelincahan umumnya mulai dilakukan sekitar bulan ketiga hingga keenam, sementara program khusus return to play dapat berlangsung hingga bulan keenam sampai ke-12 atau lebih.
Sementara itu, pada pasien yang menggunakan artificial ligament, latihan kelincahan sekaligus persiapan kembali berolahraga dapat mulai dilakukan sekitar bulan ketiga hingga keenam, tergantung hasil evaluasi.
Namun, dr. Silas menekankan bahwa waktu kembali berolahraga tidak hanya ditentukan dari berapa lama waktu yang sudah berlalu sejak operasi.
Dokter dan fisioterapis juga perlu menilai kekuatan otot, kestabilan lutut, rentang gerak, serta kemampuan tubuh menerima beban olahraga.
Dengan kata lain, lutut yang sudah tidak sakit belum tentu sudah siap kembali berlari, melompat, atau melakukan perubahan arah secara cepat.
Usia, ujar dr Silas, juga menjadi faktor yang berpengaruh pada proses penanganan cedera ACL. Meskipun ia menegaskan saat ini belum ada cut off usia tertentu yang menentukan perbedaan penanganannya.
Tetap aktif setelah cedera ACL, apa yang perlu diperhatikan?
Bagi orang yang aktif bergerak, pemulihan setelah cedera ACL sebaiknya juga diikuti dengan perbaikan pola latihan.
Penguatan otot paha, hamstring, dan core dapat membantu menjaga kestabilan tubuh. Teknik mendarat, perubahan arah, pemanasan, serta pemilihan sepatu olahraga juga perlu diperhatikan.
Keinginan untuk segera kembali olahraga setelah cedera adalah hal yang wajar, terutama bagi Anda yang terbiasa menjalani gaya hidup aktif.
Namun, proses kembali berolahraga sebaiknya dilakukan secara bertahap.
Selain mengikuti program rehabilitasi, menjaga kekuatan otot kaki dan core juga penting untuk membantu menopang lutut.
Beberapa latihan seperti squat, lunge, dan glute bridge dapat membantu memperkuat otot kaki bila dilakukan dengan teknik yang tepat dan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Anda juga perlu memperhatikan teknik mendarat, perubahan arah gerakan, pemanasan sebelum olahraga, serta penggunaan sepatu yang sesuai dengan jenis aktivitas.
Yang paling penting, jangan menjadikan rasa nyeri sebagai satu-satunya indikator bahwa lutut sudah pulih.
Lutut yang tidak lagi terasa sakit belum tentu sudah memiliki kekuatan dan kestabilan yang cukup untuk kembali menerima beban olahraga intensitas tinggi.
Kesimpulannya, artificial ligament bisa jadi pilihan bagi pasien yang mengalami cedera ACL, terutama mereka yang ingin kembali aktif setelah cedera.
Pastikan target utama Anda bukan sekadar pulih lebih cepat, prioritaskan kembali bergerak dengan lutut yang stabil dan aman sesuai kondisi masing-masing.
Kalkulator BMI (IMT)
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Versi Terbaru
11/08/2026
Ditulis oleh Wicak Hidayat
Ditinjau secara medis olehHello Sehat Medical Review Team