Stres Kerja Bisa Menyebabkan Stroke? Cari Tahu Jawabannya di Sini

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 Desember 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Penyebab stres beragam, dan satu yang paling umum adalah pekerjaan. Memiliki pekerjaan, terutama yang menuntut tapi menawarkan sedikit kontrol pribadi, dapat menyebabkan stres. Bahkan, menurut sebuah penelitian di Tiongkok, stres kerja dapat menyebabkan stroke.

Hubungan antara stres kerja dan risiko stroke

Apa hubungan antara stres dan risiko stroke? Menurut American Medical Association, sekitar 80% atau kunjungan dokter berkaitan dengan stres.

Banyak yang sepakat bahwa stres kerja dapat menyebabkan stroke. Beberapa penelitian medis telah menemukan beberapa koneksi antara keduanya tetapi mengalami kesulitan untuk membuktikan bahwa stres kerja memang dapat meningkatkan risiko stroke.

Meski begitu, seiring waktu, semakin banyak penelitian yang tampaknya menunjukkan keterkaitannya.

Penelitian mengenani stres kerja meningkatkan risiko stroke

Sebuah penelitian dari University of Michigan menemukan, pria yang secara psikologis reaktif terhadap stres (diukur dari tekanan darah tinggi) lebih rentan menderita stroke sebanyak 72 persen. Dengan kata lain, stres kerja meningkatkan risiko stroke.

Selain itu, penelitian lain mengamati tingkat stres dari 6.553 pria dan wanita pekerja di Jepang. Hasilnya, pria dengan pekerjaan yang menuntut dan rendah kontrol pribadi memiliki risiko lebih besar terkena stroke.

Bahkan, meski telah mengendalikan beberapa variabel yang juga memunculkan risiko stroke, seperti usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, status merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik dan area studi, stres kerja tetap meningkatkan risiko stroke pada mereka.

Tak hanya tingkat stres, penelitian lain juga berusaha mengukur seberapa baik para responden mengelola stres dan risiko yang terkait.

Mereka menemukan bahwa peserta yang kesulitan mengelola stres mengalami peningkatan risiko terkena stroke.

Para peneliti menyebutkan, “Satu pemahaman menjelaskan bahwa pria dengan hipertensi yang sulit mengendalikan situasi stres lebih rentan terkena efek negatif dari stres. Artinya, mereka lebih rentan terhadap stroke di kemudian hari.”

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari The Copenhagen City Heart Study juga menunjukkan bahwa intensitas stres tinggi yang dilaporkan sendiri dan stres mingguan dikaitkan dengan tingkat risiko stroke fatal yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak.

Meski begitu, tidak ada tren yang signifikan dan bukti yang kuat dari data saat ini untuk benar-benar menunjukkan bahwa stres yang dilaporkan sendiri adalah faktor risiko indepenen untuk stroke.

Stres kerja mungkin saja menyebabkan stroke. Meski begitu, ini bukanlah satu-satunya faktor yang membuat seseorang terkena stroke.

Penting untuk dicatat, stres berhubungan dengan beberapa faktor risiko stroke lain yang sudah ditetapkan sebelumnya, seperti tekanan darah tinggi, merokok, dan obesitas.

Mengontrol stres berarti mengontrol risiko stroke

Seorang ahli saraf dari Premier Health’s Clinical Neuroscience Institute, Esteban Cheng-Ching, MD, mengatakan, “Dapatkan bantuan dari seseorang profesional ketika stres mencapai titik di mana Anda kesulitan menanganinya.”

Cheng-Ching juga menambahkan, “Tanda-tanda umum dari stres, yaitu Anda merasa tidak bisa mengontrol situasi pekerjaan dan keluarga. Bisa juga kebalikannya, Anda terlalu banyak mengotrol situasi, semua dibebankan pada Anda.”

Kepercayaan bahwa stres kerja menyebabkan stroke bisa jadi benar saling berhubungan. Untuk itu, pastikan Anda mendapatkan bantuan profesional atau tenaga medis lain apabila stres yang Anda rasakan tak lagi bisa ditahan.

Meski bukan faktor risiko utama yang menyebabkan stres, mengelola stres dapat membuat kualitas hidup Anda menjadi lebih baik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Terlalu Sering Mengecek Handphone Bisa Bikin Stres

Sering mengecek handphone untuk "kepoin" seseorang? Hati-hati, Anda bisa jadi rentan stres karena hal ini, lho! Kok bisa? Cari tahu di artikel ini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 20 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Mengatasi Stres Dengan Terapi Warna

Bahkan sebelum maraknya tren buku mewarnai untuk orang dewasa, terapi warna sudah lama jadi pilihan pengobatan alternatif. Apa saja manfaatnya?

Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 20 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Ragam Scrub dari Bahan Alami yang Bagus dan Bikin Glowing

Memilih scrub dari bahan alami tak boleh asal. Berikut beragam cara mudah membuat scrub wajah alami yang bagus dan bikin glowing.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Perawatan Kulit, Kesehatan Kulit 9 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Mengenal Alpha Arbutin, Bahan Andalan untuk Produk Perawatan Kulit

Alpha arbutin adalah pilihan yang aman untuk Anda yang ingin mencerahkan kulit wajah. Apa saja manfaat dari alpha arbutin untuk wajah?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Perawatan Kulit, Kesehatan Kulit 9 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

bagaimana cara menghilangkan stres

9 Makanan yang Membantu Menghilangkan Stres

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
susah tidur malam meski badan capek

Susah Tidur Malam Meski Tubuh Kelelahan, Apa Penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 1 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
gambar gatal pada kulit

Fakta Seputar Gatal pada Kulit yang Perlu Anda Ketahui

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
mengatasi keringat dingin

Memahami Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi Keringat Dingin

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 26 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit