4 Cara untuk Menurunkan Risiko Hipertiroid (Kelenjar Tiroid yang Terlalu Aktif)

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Kelenjar tiroid yang terlalu aktif dapat menimbulkan komplikasi kesehatan pada organ vital salah satunya jantung. Kondisi yang disebut hipertiroid ini sebenarnya bisa dicegah atau diturunkan risikonya dengan beberapa cara sederhana. Lantas, bagaimana cara mencegah hipertiroid?

Cara mencegah terjadinya penyakit hipertiroid

Tiroid adalah kelenjar berbentuk kupu-kupu yang terletak di leher bagian depan.

Kelenjar ini memproduksi hormon yang digunakan dalam metabolisme tubuh, mengatur suhu tubuh, dan perkembangan otak pada anak-anak.

Hormon tiroid memang dibutuhkan tubuh. Namun, jumlahnya harus sesuai dengan kebutuhan alias tidak boleh berlebihan.

Kelenjar tiroid yang terlalu aktif ini bisa menimbulkan berbagai gejala, seperti detak jantung yang tidak teratur, suasana hati mudah terganggu, tremor, susah tidur, rambut rontok, otot lemah, dan masalah pencernaan.

Tanpa perawatan, kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi, seperti masalah pada jantung, tulang, mata, dan kulit.

Sebenarnya tidak ada cara khusus untuk mencegah terjadinya penyakit hipertiroid.

Namun, ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk menurunkan risikonya, seperti yang dikutip dari International Journal of Endocrinology Metabolismyaitu:

1. Berhenti merokok

obat berhenti merokok

Merokok menjadi penyebab utama dari berbagai penyakit yang mematikan, seperti kanker paru dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronis).

Hal ini terjadi karena rokok mengandung zat kimia berbahaya yang bisa menghambat kinerja organ dan jaringan, termasuk kelenjar tiroid.

Zat kimia rokok dapat mengganggu penyerapan yodium yang pada akhirnya meningkatkan risiko terjadinya orbitopathy graves atau dikenal dengan kelainan mata menonjol akibat hipertiroid.

Jika kebiasaan buruk ini dihentikan, risiko terjadinya penyakit hipertiroid juga berkurang.

Untuk itu, berhenti merokok jadi cara mencegah hipertiroid yang sebaiknya dilakukan terutama jika Anda perokok berat.

2. Konsumsi alkohol dengan bijak

tes alkohol

Sebagian penelitian menunjukkan bahwa minum alkohol memberikan pengaruh pada kesehatan tiroid. Meski dibutuhkan studi lebih lanjut, alangkah baiknya jika Anda membatasi kebiasaan minum alkohol.

Pastikan Anda tidak minum alkohol secara berlebihan. Misal, jika dalam sehari Anda terbiasa minum 3 gelas alkohol, coba kurangi jadi segelas saja per harinya.

Cara ini dilakukan tidak hanya untuk mencegah hipertiroid tapi juga penyakit lain, salah satunya sirosis alkoholik yang menyerang hati.

3. Konsumsi makanan yang menyehatkan tiroid

kacang kedelai untuk jantung

Menurunkan risiko penyakit tertentu bisa Anda lakukan dengan meningkatkan asupan makanan yang sehat bernutrisi.

Nah, untuk menjaga kesehatan kelenjar tiroid, kacang kedelai menjadi salah satu makanan yang direkomendasikan.

Anda bisa mendapatkan nutrisi kedelai dari tempe, tahu, atau susu kedelai. Namun ingat, konsumsinya tidak boleh berlebihan dan harus dihindari jika Anda memiliki alergi kedelai.

Selain kedelai, cara mencegah hipertiroid juga bisa Anda lakukan dengan memperhatikan asupan selenium dalam makanan.

Mineral ini mendukung kerja hormon tiroid, meningkatkan sistem kekebalan dan fungsi kognitif. Anda bisa mendapatkan selenium dari udang, salmon, kepiting, ayam, telur, bayam, jamur shitake, dan beras merah.

Selenium juga tersedia dalam bentuk suplemen. Namun, tubuh lebih maksimal menyerap selenium organik pada makanan, yakni selenomethionine ketimbang selenium anorganik yaitu natrium selenite.

Jika Anda tertarik minum suplemen selenium, konsultasikan lebih dahulu dengan dokter.

4. Cek kesehatan tiroid

dokter kandungan yang bagus

Cara terakhir yang bisa Anda lakukan untuk mencegah hipertiroid adalah melakukan pemeriksaan kelenjar tiroid secara berkala.

Tes ini dilakukan dengan mendeteksi adanya benjolan atau pembengkakan di sekitar leher.

Apabila tidak ada benjolan tetapi ada gejala-gejala tiroid, seperti mudah berkeringat, lebih sensitif dengan panas, siklus menstruasi dan nafsu makan berubah, segera periksakan diri ke dokter. 

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: November 24, 2019 | Terakhir Diedit: Januari 22, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca