Kenapa Luka Pada Penderita Diabetes Susah Sembuh dan Rentan Diamputasi?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Diabetes melitus tipe 2 (penyakit kencing manis) adalah kondisi kadar gula darah yang meningkat lebih dari sewajarnya. Selain sering kencing dan sering lapar, gejala diabetes lainnya yang mungkin terlewati adalah timbulnya luka yang susah sembuh. Luka, terutama pada kaki pengidap diabetes melitus, dapat berubah menjadi komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat. Bahkan, luka pada kaki dapat terus menyebar dan terinfeksi hingga mungkin berakhir dengan penanganan amputasi.

Penyebab luka pada pengidap diabetes melitus susah sembuh

Menurut seorang pakar bedah kaki dari Amerika Serikat, dr. Daniel Cohen, luka sekecil dan seremeh apapun yang dialami pengidap diabetes melitus harus segera ditangani. Pasalnya, luka yang tidak segera diobati akan sangat mungkin berubah menjadi borok. Luka borok tersebut kemudian dapat semakin serius dan sulit diobati.

Ada beberapa faktor yang dapat membuat luka pada tubuh seorang pengidap diabetes susah sembuhnya, terutama di tangan dan kaki. Komplikasi diabetes ini mulanya diawali dengan kadar gula darah tinggi yang tidak terkendali.

Ketika gula darah dibiarkan terus tinggi, saraf-saraf di tubuh dan pembuluh darah arteri Anda akan perlahan rusak. Kondisi ini disebut sebagai neuropati diabetik. Kerusakan saraf membuat Anda cenderung tidak sadar ketika tangan atau kaki terluka karena tidak merasakan sakit, nyeri, atau perih (mati rasa/baal). Hal ini karena saraf-saraf Anda tak lagi mampu mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak.

Sementara itu, kadar gula darah tinggi juga dapat membuat pembuluh darah arteri lama-lama mengeras dan menyempit. Akibatnya, aliran darah dari jantung menuju seluruh bagian tubuh jadi terhambat. Penyempitan arteri juga akhirnya menghambat suplai darah ke bagian tubuh yang terluka.

Padahal, bagian tubuh yang terluka sangat memerlukan oksigen dan nutrisi yang terkandung dalam darah agar sembuh. Jaringan yang mengalami trauma pun kesulitan menutup untuk memperbaiki kerusakannya dengan cepat.

Luka pada akhirnya akan tetap terbuka dan basah sehingga pengidap diabetes malah tak kunjung sembuh atau bertambah besar dan parah. Sebab, luka terbuka sangat berisiko untuk terinfeksi dan/atau mengalami kematian jaringan (gangrene).

Pada banyak kasus, penderita diabetes umumnya baru tersadar ketika luka sudah memburuk dan mengalami infeksi. Maka dari itu, setiap pengidap diabetes tidak boleh mengabaikan luka yang kecil sekalipun.

Luka pengidap diabetes lama sembuhnya karena daya tahan tubuh melemah

Selain karena beberapa faktor di atas, luka pada tubuh pengidap diabetes juga susah sembuh karena daya tahan mereka cenderung melemah.

Melemahnya daya tahan tubuh penderita diabetes dapat meningkatkan risiko infeksi pada luka yang berlarut-larut. Pasalnya menurut seorang dokter penyakit dalam asal Amerika Serikat, dr. Asquel Getaneh, tingginya kadar gula darah membuat sel-sel yang bertugas untuk menjaga kekebalan tubuh (imun) melemah.

Maka, luka sedikit saja bisa jadi infeksi parah yang sulit diobati. Ketika sudah luka atau jadi borok, sel-sel imun pun tidak bisa memperbaiki kerusakannya dengan cepat.

Apakah luka diabetes melitus harus selalu diamputasi?

Luka pada penderita diabetes tidak selalu harus berakhir dengan amputasi. Amputasi bukan satu-satunya cara mengatasi luka pada diabetes melitus.

Umumnya para tenaga medis akan memberikan edukasi berupa perawatan luka yang baik dan benar pada pasien diabetes untuk meminimalisasi komplikasi pada luka yang mereka alami. Oleh karena itu, perawatan luka pada pasien diabetes melitus sangat penting.

Jadi jika seorang pasien diabetes sejak awal mampu merawat lukanya dengan benar, maka tidak perlu adanya tindakan amputasi.

Penelitian menunjukkan jika 85 persen pasien diabetes diamputasi berawal dari luka sederhana yang tidak dirawat dengan baik. Luka tersebut kemudian menjadi melebar dan parah sehingga menimbulkan komplikasi. Jika sudah begini, amputasi memang bisa jadi alternatif terakhir.

Tips merawat luka diabetes agar tidak semakin parah

Risiko yang mungkin datang dari luka diabetes bisa membahayakan. Namun, amputasi tidak harus menjadi bagian dari rencana pengobatan diabetes Anda. Jika Anda melakukan semua yang Anda bisa untuk mengontrol gula darah dan merawat kaki Anda, Anda akan mengurangi risiko komplikasi utama.

Buat Anda atau orang terdekat yang mengidap diabetes, silakan catat baik-baik beragam tips merawat luka diabetes berikut ini supaya terhindar dari borok, infeksi, atau amputasi karena luka.

1. Segera diobati

Seperti yang telah ditekankan sebelumnya, luka sekecil apapun pada pasien diabetes melitus harus segera dibersihkan dan diobati sebelum menjadi semakin parah.

Hal terbaik yang sebaiknya dilakukan ketika mendapatkan luka adalah segera melakukan perawatan. Adapun langkah pertama yang bisa dilakukan adalah membersihkan luka diabete melitus dari kotoran dengan air yang mengalir.

Membasuhnya dengan air yang mengalir dapat mengurangi risiko luka terinfeksi oleh kuman. Setelah itu, oleskan salep antibiotik khusus luka. Terakhir, tutup luka diabetes dengan kasa atau perban steril.

Setiap hari, bersihkan luka dengan air dan sabun. Kemudian oleskan lagi dengan salep antibiotik dan tutup dengan kasa atau perban. Sambil melakukan hal ini, selalu periksa apakah lukanya sudah membaik atau justru tambah parah.

2. Kurangi tekanan pada luka

Hindari memberikan tekanan pada daerah yang terluka. Ketika menutup luka dengan kasa atau perban, jangan melilit atau menutup luka diabetes melitus terlalu kencang. Mengurangi tekanan memungkinkan luka diabetes jadi lebih cepat untuk sembuh.

Jika luka diabetes terdapat di telapak kaki, maka sebaiknya gunakan bantalan yang empuk agar pasien tidak menginjak daerah yang mengalami luka.

3. Kontrol gula darah Anda

Selain merawat dan membersihkan luka diabetes dengan baik dan benar, penting pula bagi Anda untuk memastikan bahwa kadar gula darah Anda tetap terjaga.

Menurunkan kadar gula darah dapat dilakukan dengan menjalani gaya hidup sehat, seperti menjalani diet khusus penderita diabetes, olahraga, serta mengelola stres dengan baik.

Ingat, kadar gula darah tinggi hanya akan memperlambat proses penyembuhan luka. Selain itu, luka yang semakin lama sembuh berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi kesehatan yang dapat merugikan Anda.

4. Waspadai tanda-tanda infeksi

Infeksi pada luka diabetes terjadi bukan tanpa gejala. Gejala-gejalanya bisa berupa timbul rasa sakit, kemerahan, atau terasa hangat. Selain tanda-tanda di atas, infeksi juga bisa ditandai dengan luka yang berair.

Maka dari itu, Anda harus waspada bila muncul gejala-gejala infeksi seperti di atas. Infeksi berisiko menimbulkan luka borok di kulit Anda, dan amputasi bisa jadi satu-satunya jalan keluar apabila luka tersebut tidak segera ditangani.

Dilansir dari situ American Podiatric Medical Association, terdapat faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko luka diabetes yang Anda miliki berubah menjadi luka borok atau infeksi, yakni:

  • Memiliki masalah saraf
  • Memiliki masalah pada sirkulasi darah
  • Memiliki kelainan pada bentuk kaki
  • Menggunakan sepatu yang tidak tepat, yakni bukan sepatu khusus diabetes
  • Tidak mengontrol gula darah dengan baik
  • Pernah memiliki masalah luka borok sebelumnya

5. Olahraga

Agar aliran darah makin lancar sehingga luka diabetes makin mudah sembuh, maka penderita sebaiknya juga berolahraga secara teratur. Olahraga akan membantu merangsang dan menjaga aliran darah agar tetap baik.

Namun khususnya bagi penderita yang memiliki luka pada bagian telapak kaki, tunggulah luka untuk sembuh terlebih dahulu sebelum mulai berolahraga.

6. Hubungi dokter

Segera hubungi dokter kalau luka diabetes melitus semakin parah dan muncul gejala infeksi seperti bengkak, bernanah, atau Anda demam. Anda juga harus langsung periksa ke dokter kalau saat ini ada luka borok di kulit Anda.

Jika luka diabetes tidak membaik dalam waktu 48 jam, maka penderita disarankan untuk segera menghubungi dokter. Jika hal ini tidak dilakukan, takutnya luka akan berkembang makin parah sehingga makin sulit untuk ditangani.

Selain merawat luka seperti yang disarankan di atas, penderita diabetes juga bisa menerapkan diet sehat untuk mempercepat penyembuhan.

Perawatan luka diabetes yang baik membutuhkan dukungan nutrisi yang baik. Oleh karena itulah mengutamakan makanan yang sehat sangat dianjurkan. Nutrisi yang penting, antara lain protein yang salah satu fungsinya adalah memperbaiki kulit dan jaringan yang rusak.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Mei 22, 2017 | Terakhir Diedit: Januari 30, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca