home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apa Bedanya Tahi Lalat dan Skin Tag (Acrochordon)?

Apa Bedanya Tahi Lalat dan Skin Tag (Acrochordon)?

Banyak orang yang memiliki tahi lalat dan juga skin tag di tubuhnya. Tenang saja, keduanya tidak berbahaya atau menyakitkan, kok. Keduanya juga sama-sama bisa dihilangkan setelah Anda periksa ke dokter kulit. Lagipula, bentuknya juga relatif kecil. Lalu, sebenarnya apa perbedaan tahi lalat dan skin tag? Simak di sini!

Apa itu tahi lalat?

Tahi lalat biasanya tumbuh pada kulit dengan warna cokelat atau hitam. Tahi lalat bisa muncul di mana saja pada kulit. Tahi lalat terbentuk karena sel-sel kulit di tubuh bukannya tumbuh menyebar melainkan tumbuh menumpuk dan berkelompok. Sel-sel ini disebut sel melanosit yang memiliki pigmen, yaitu zat warna tubuh.

Setiap sel-sel melanosit yang tumbuh menumpuk ini yang akhirnya memberikan banyak pigmen pada satu titik tertentu, dan kulit itu jadi tampak berbintik cokelat atau hitam. Pada beberapa orang, warna tahi lalatnya juga bisa berubah secara alami setelah terpapar matahari, selama masa remaja, dan selama kehamilan.

Beberapa tahi lalat bisanya bisa berubah perlahan, ada juga yang mungkin tidak berubah sama sekali dari sejak muncul.

Jika Anda melihat ada tanda-tanda perubahan pada tahi lalat, ada beberapa hal penting yang perlu Anda perhatikan. Sebab, tahi lalat bisa menjadi cikal bakal tumbuhnya kanker. Inilah salah satu perbedaan tahi lalat dan skin tag. Namun, jika tidak ada perubahan, berarti Anda tak perlu khawatir.

Berikut tanda-tanda penting dari tahi lalat yang bisa jadi kanker:

  • Asimetri. Setengah tahi lalat bentuknya tidak simetris dengan setengah bagiannya.
  • Batas. Batas atau tepi bagian tahi lalat kasar, kabur, dan tidak beraturan.
  • Warna. Warna tahi lalat tidak sama di seluruh permukaan.
  • Diameter. Diameter tahi lalat lebih besar dari diameter penghapus pensil
  • Menonjol. Sebuah tahi lalat tampak terangkat atau menonojol dari kulit.

Jika kelima tanda itu terjadi pada Anda, sebaiknya segera cek ke dokter kulit.

Bila dokter kulit menemukan bahwa tahi lalat itu perlu diperiksa lebih lanjut atau dihapus, dokter akan melakukan biopsi tahi lalat terlebih dahulu. Biopsi adalah proses pengambilan sampel jaringan kecil dari tahi lalat yang akan diperiksa.

Sampel jaringan tahi lalat kemudian akan diperiksa di bawah mikroskop. Jika memang bersifat kanker, dokter akan menghapus seluruh tahi lalat dengan memotong seluruh bagian tahi lalat hingga pinggiran kulit yang normal di sekitar tahi lalat. Ini agar tidak terjadi penyebaran sel kanker. Kemudian dokter akan menjahit luka bekas potongan tersebut.

Apa itu skin tag?

Skin tag dalam bahasa medis disebut acrochordon. Skin tag adalah gumpalan jaringan halus kulit yang menggantung di kulit dan punya batang penghubung. Skin tag terkadang disebut juga daging tumbuh, tapi kondisi ini tidak berbahaya dan juga bukan pertanda adanya masalah kulit yang serius.

Skin tag pada awalnya terlihat seperti sebuah tonjolan kecil. Seiring waktu skin tag tumbuh menjadi seperti sepotong kulit yang melekat pada permukaan kulit dengan tangkai kecil. Skin tag bisanya berwarna menyerupai kulit. Tonjolan skin tag ini juga mudah digoyang-goyangkan, tidak bersifat kaku. Skin tag tidak menimbulkan rasa sakit, tapi jika terlalu banyak digosok atau digoyang-goyangkan tetap saja mungkin terjadi iritasi.

Skin tag tidak ditemukan di semua bagian tubuh. Ini perbedaan tahi lalat dan skin tag yang mudah dilihat. Biasanya skin tag ditemukan di leher, dada, punggung, ketiak, di bawah payudara, di daerah selangkangan, atau di daerah genital.

Dilansir dari laman Harvard Medical School, skin tag bukan kanker kulit dan tidak dapat berubah menjadi kanker kulit seperti tahi lalat.

Skin tag paling sering muncul pada wanita, seiring pertambahan berat badan juga semakin banyak kemungkinan tumbuhnya skin tag. Selain itu, faktor keturunan juga memengaruhi seseorang bisa memiliki skin tag dari orangtua.

Jika skin tag Anda sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, Anda dapat berkonsultasi ke dokter untuk menghilangkannya. Dokter biasanya membuang skin tag dengan gunting tajam atau pisau tajam. Ada juga yang melakukannya dengan proses pembekuan dan pembakaran bagian tangkainya, tapi ini lebih jarang dilakukan.

Perdarahan saat pengambilan skin tag kemudian akan dihentikan dengan pengobatan kimia (aluminium klorida) atau secara elektrik (kauterisasi).

Penghilangan skin tag ini berkaitan dengan masalah kecantikan saja, tapi sebenarnya bukanlah operasi yang dibutuhkan untuk masalah kesehatan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Web MD. 2016. Moles, Freckles, SKin Tags, adn More. [Online] Tersedia pada: https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/guide/moles-freckles-skin-tags#1 (Diakses 25 Mei 2018)

Good Jenny. 2017. Mole vs Skin Tags. [Online] Tersedia pada: https://www.livestrong.com/article/138144-mole-vs-skin-tags/ (Diakses 23 Mei 2018)

Harvard Medical School. 2013. SKin Tags (Arcrochordon). [Online] Tersedia pada: https://www.health.harvard.edu/skin-and-hair/skin-tags-acrochordon- (Diakses 23 Mei 2018)

Cleveland Clinic. Tanpa tahun. Moles, Freckles, Skin Tags, Lentignes & Seborrheic Keratoses. [Online] Tersedia pada: https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/12014-moles-freckles-skin-tags-lentignes–seborrheic-keratoses (Diakses 23 Mei 2018)

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Tanggal diperbarui 17/06/2018
x