Benarkah Langkah Orangtua Memberi Hukuman Mengurung Anak?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16 September 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Selama masa perkembangan, terkadang anak melakukan kesalahan. Saat itu terjadi, beberapa orangtua lebih memilih memberi hukuman mmengurung anak di kamar, daripada memberikan hukuman pada anak yang bersifat fisik. Tujuannya agar anak bisa merenungi dan mau memperbaiki kesalahannya. Lantas, apakah hukuman mengurung anak di kamar ini baik di lakukan? Berikut penjelasannya.

Apakah tepat memberi hukuman mengurung anak?

Hukuman mengurung anak sering dipakai orangtua sebagai salah satu teknik mendisiplinkan anak. Hal ini dilakukan ketika anak melakukan hal yang tidak baik, tidak pantas, atau melakukan kesalahan. Psikolog menyebut bentuk hukuman ini sebagai isolasi sosial.

Isolasi sosial dilakukan dengan memisahkan anak dari orangtua dan anak-anak lain di sebuah ruangan atau tempat tertentu. Melalui isolasi sosial, secara tidak sengaja orangtua memberi pesan kepada anak bahwa kesalahannya tidak bisa diterima.

Secara psikologis, memberi hukuman mengurung anak sebenarnnya bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan orangtua. Psikolog Mary C. Lamia mengatakan dengan mengurung anak di kamar, orangtua akan sulit mengarahkan kembali atau membantu anak memahami tentang kesalahannya.

Hal ini bisa terjadi karena anak sudah terlanjur berpikir bahwa orangtua menjauhi atau meninggalkannya saat pengurungan dilakukan. Bukannya memperbaiki kesalahan, anak cenderung untuk merespons hal tersebut dengan menyerang diri sendiri, menyerang orang lain, menarik diri, atau menghindar. Dengan demikian, arahan dari orangtua tidak akan lagi mempan pada anak.

Institute for Family Studies melansir, pada dasarnya anak-anak, dapat mengatasi setiap masalah dengan baik bila mendapat dukungan dari orang-orang di sekitar mereka.

Oleh karena itu, anak sebenarnya tidak perlu ditegur saat melakukan kesalahan. Mereka membutuhkan pemahaman dari orangtuanya. Dengan demikian, memberi hukuman mengurung anak di kamar hanya akan membuat mereka merasa menderita sendirian.

Apa dampak hukuman mengurung anak yang mungkin terjadi?

Beberapa ahli mengatakan anak yang diisolasi atau dikurung atas kesalahannya, bisa mengalami peningkatan pada aliran darahnya. Kondisi ini sama seperti ketika anak merasakan sakit secara fisik. Dengan demikian, dampak hukuman mengurung anak sama halnya dengan menyakiti anak secara fisik.

Selain itu, anak yang dikurung juga bisa memberikan dampak negatif lainnya, yaitu:

  • Membuat anak menjadi lebih marah.
  • Mengurangi kapasitas anak untuk mengembangkan coping skill untuk menyelesaikan masalah
  • Merusak hubungan antara orangtua dan anak.
  • Mengabaikan alasan yang mendasari perilaku orangtua.
  • Membuat anak menjadi lebih egois karena mereka kurang memikirkan perilakunya. Justru anak lebih banyak berpikir bahwa apa yang terjadi padanya tidak adil.
  • Membuat anak merasa bahwa dirinya tidak berharga, karena orangtua mengabaikan kebutuhan anak saat mereka paling membutuhkan.

Apa alternatif hukuman untuk anak yang efektif ?

Sebenarnya dibandingkan memberi hukuman mengurung anak, lebih baik untuk anak diberikan bimbingan.

Oleh karena itu, saat anak berbuat kesalahan, gunakan kesempatan tersebut untuk menyelesaikan permasalahan bersama antara orangtua dan anak. Orangtua perlu menunjukkan rasa empati dan perspektif yang benar mengenai perilaku anak.

Daripada dikurung, ajaklah anak bicara atas kesalahan yang dibuatnya. Dengan melibatkan percakapan dan kerja sama antara orangtua dan anak, anak akan lebih bisa mengembangkan empati anak, dan demikian juga pemikiran anak. Selain itu, langkah ini pun dapat membangun hubungan yang baik antara orangtua dan anak.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Cara Mengajarkan Anak Menjaga Kebersihan Lingkungan

Kebersihan lingkungan merupakan hal yang penting bagi kehidupan manusia. Lalu, bagaimana mengajarkan anak untuk menjaga kebersihan lingkungan?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Parenting, Tips Parenting 11 April 2020 . Waktu baca 4 menit

Tips Mendidik Anak Tunggal agar Tidak Menjadi Egois dan Manja

Stereotip dari anak tunggal adalah egois dan sombong, padahal karakter anak ditentukan oleh cara mendidik anak yang dilakukan orang tua sejak dini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Parenting, Tips Parenting 26 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit

Anak Takut pada Orangtua, Apa yang Harus Dilakukan?

Anak yang takut pada orangtua bisa terjadi karena sikap orangttua itu sendiri. Rasa takut ini bisa menimbulkan efek yang tidak baik. Bagaimana seharusnya?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Parenting, Tips Parenting 24 Maret 2020 . Waktu baca 3 menit

3 Cara Bijak Orangtua Menghadapi Anak yang Dihukum Skorsing

Menghadapi anak diskors bukan perkara mudah. Supaya hukuman ini membuat anak jera, ikuti bebrapa cara menghadapinya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Parenting, Tips Parenting 25 Agustus 2019 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

menjelaskan rasisme kepada anak

Tips Menjelaskan Rasisme kepada Anak Sejak Dini

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
agar anak mau mendengarkan orang tua

Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 30 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit
menghukum anak berbohong

Menghukum Anak Karena Berbohong Justru Akan Membuatnya Berbohong Lagi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 29 April 2020 . Waktu baca 5 menit
cara mengatasi anak malas belajar

5 Cara Efektif Mengatasi Anak Malas Belajar

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 13 April 2020 . Waktu baca 6 menit