Walaupun Alami, Bolehkah Anak Makan Makanan Mentah?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Meskipun sering dianggap lebih alami dan menyehatkan, makanan mentah tetap berisiko menyebabkan gangguan pencernaan. Lalu, amankan jika anak dengan sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang makan makanan mentah?

Kapan anak boleh makan makanan mentah?

Makanan mentah umumnya rendah kalori, tinggi serat, dan masih memiliki nutrisi lengkap karena belum melalui pengolahan sama sekali. Anda juga akan memperoleh berbagai vitamin yang biasanya larut oleh air atau hilang dalam proses pemasakan.

Meski begitu, tidak semua orang bisa makan makanan mentah dengan aman.  Mengacu pada Food and Drug Administration (FDA), makanan mentah sebaiknya tidak diberikan kepada kelompok yang berisiko tinggi mengalami gangguan kesehatan.

Kelompok berisiko tinggi terdiri atas orang-orang yang lebih mudah kena penyakit. Mereka juga membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh, perawatan lebih intensif, dan lebih berisiko mengalami komplikasi yang berbahaya.

Orang-orang yang tidak disarankan makan makanan mentah adalah wanita hamil, anak kecil, lansia, dan orang yang kekebalan tubuhnya menurun. Sistem kekebalan tubuh mereka tidak cukup kuat melawan bakteri pada makanan mentah.

Perkembangan sistem kekebalan tubuh anak berlangsung perlahan hingga usia 2-3 tahun. Pada usia 4-6 tahun, sistem kekebalan tubuh anak mulai menyerupai orang dewasa. Perkembangan kembali meningkat saat anak mencapai masa pubertas.

Sekalipun alami dan menyehatkan, Anda sebaiknya tidak membiarkan anak makan makanan mentah sebelum sistem kekebalan tubuhnya betul-betul berkembang. Setelah berusia 5-6 tahun, barulah Anda dapat memperkenalkan jenis makanan ini dengan aman.

Bahaya makan makanan mentah bagi anak

Makanan mentah menyimpan banyak bakteri dan virus penyebab penyakit. Berdasarkan jenis makanan dan mikroba di dalamnya, berikut adalah sederet gangguan kesehatan yang mengintai anak jika makan makanan mentah:

1. Penyakit tifoid (tipes) dan muntaber

Ini merupakan salah satu penyakit yang umum terjadi jika makan makanan mentah, termasuk pada anak-anak.

Infeksi bakteri Salmonella adalah penyebab utama penyakit tifoid dan muntaber. Bakteri ini terdapat pada telur, ikan, buah yang belum dicuci, daging unggas yang belum dimasak, serta air yang terkontaminasi.

Gejala utama dari infeksi Salmonella adalah demam, nafsu makan menurun, pusing, diare, serta mual dan muntah. Jika tidak ditangani, penderita dapat mengalami dehidrasi parah yang membahayakan jiwa.

2. Diare

Anak yang makan makanan mentah berisiko lebih tinggi mengalami diare. Penyebab utama diare adalah infeksi bakteri E. coli dari makanan terkontaminasi. Bakteri ini paling banyak terdapat pada daging, sayuran, dan susu mentah yang belum dipasteurisasi.

Orang dewasa biasanya akan sembuh dalam beberapa hari. Namun, anak-anak dapat mengalami komplikasi berupa dehidrasi berat. Pada kasus yang parah, diare bisa mengakibatkan sindrom hemolitik uremik yang ditandai dengan kegagalan fungsi ginjal.

3. Hepatitis A

Makan makanan mentah juga membuat seseorang, termasuk anak Anda, berisiko terkena Hepatitis A.

Hepatitis A ditularkan melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Virus ini banyak terdapat pada makanan laut, sayuran mentah, serta makanan yang lama berada dalam suhu ruang tanpa dipanaskan kembali.

Gejala penyakit hepatitis A di antaranya nyeri perut, urine berwarna gelap, kulit tampak kekuningan, demam, serta mual dan muntah. Penyakit ini juga dapat menyebabkan penurunan nafsu makan, nyeri otot, dan timbulnya ruam gatal pada kulit.

Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang sempurna. Alih-alih memberikan manfaat, makan makanan mentah justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi anak.

Jika Anda ingin mengenalkan makanan mentah pada anak, tundalah hingga sistem kekebalan tubuhnya terbentuk sempurna. Hal ini bertujuan agar anak bisa memperoleh manfaat makanan alami tanpa perlu cemas akan risiko gangguan kesehatan.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca